Mendikbudristek Minta Sekolah Tetap Siapkan Pembelajaran Tatap Muka | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Mendikbudristek Minta Sekolah Tetap Siapkan Pembelajaran Tatap Muka


PTM TERBATAS. Proses belajar tatap muka siswa-siswi SMA Negeri 1 Kupang pada 17 Mei 2021 lalu yang dilakukan terbatas sebagai upaya mematuhi protokol kesehatan demi mencegah penyebaran Covid-19. (FOTO: HUMAS SMAN1 KUPANG for TIMEX)

PENDIDIKAN

Mendikbudristek Minta Sekolah Tetap Siapkan Pembelajaran Tatap Muka


Tahun Ajaran Baru tetap Menyesuaikan Kondisi Covid-19

JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Lonjakan kasus Covid-19 beberapa hari terakhir bisa mengubah rencana pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim menyatakan bahwa PTM terbatas pada Juli mendatang tetap berjalan. Namun, pembukaan sekolah akan disesuaikan dengan kondisi Covid-19 di daerah masing-masing.

Hal itu terutama untuk daerah-daerah yang mengalami kenaikan kasus dan menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro. ”Ada kemungkinan di dalam PPKM tersebut berarti tidak bisa tatap muka terbatas,” kata Nadiem saat rapat bersama Komisi X DPR RI, Selasa (15/6).

Menurut dia, itu suatu keharusan yang dialami semua sektor dalam masa penerapan PPKM tersebut. Bukan hanya pendidikan. Aturan soal PPKM itu, lanjut Nadiem, sejatinya menjadi bagian dalam surat keputusan bersama (SKB) empat menteri terkait PTM terbatas pada Juli. Menurut dia, PPKM akan menjadi instrumen rem di daerah, baik kelurahan maupun desa. ”PPKM itu bisa mem-bypass atau bisa saja menganulir selama dua minggu tersebut proses pembelajaran tatap muka terbatas,” ungkapnya.

Sekolah akan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa PPKM. Karena itu, satuan pendidikan diminta untuk tetap menyiapkan materi pembelajaran daring. Setelah PPKM berakhir, PTM terbatas harus kembali dilaksanakan. Sekolah perlu mengantisipasi kondisi tersebut. ”Semua sekolah sudah harus siap-siap, mau itu daerah akan dimasukkan dalam PPKM atau tidak, harus mulai siap-siap sekarang,” paparnya.

Nadiem meminta masyarakat tidak perlu bingung apakah ada perubahan mengenai pelaksanaan PTM terbatas. Cukup menjalankan SKB yang sudah dikeluarkan.

Sebelumnya, Nadiem menegaskan bahwa PTM terbatas berbeda dengan PTM sebelum pandemi. Kapasitas ruangan hingga pola pembelajaran sangat berbeda. Termasuk jam belajar anak selama di sekolah. Karena itu, dia mendorong agar sekolah yang gurunya sudah divaksin atau berada di zona aman bisa segera melaksanakan PTM. Tentu setelah memenuhi daftar periksa yang telah ditetapkan pihak kementerian.

Dalam rapat kemarin, Wakil Ketua Komisi X Dede Yusuf meminta pemerintah pusat tak lepas tangan soal PTM terbatas. Tidak seluruhnya diserahkan ke pemerintah daerah. Sebab, pandemi Covid-19 merupakan bencana nasional yang harus ditanggung bersama. ”Jangan semuanya langsung diserahkan ke pemda. Karena ini bencana nasional, jadi harus ditanggung bersama,” ungkapnya.

Secara terpisah, Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Nunuk Suryani mengingatkan bahwa dalam PTM terbatas, guru tak perlu memaksakan untuk menuntaskan kurikulum. Di sekolah, guru mengajar dengan mengacu pada kebutuhan peserta didik yang sifatnya adaptif pada kondisi Covid-19. ”Panduan pembelajaran yang dikeluarkan Kemendikbudristek sudah sangat jelas. Namun, kepala sekolah tetap harus sosialisasi ke guru,” jelasnya.

Selain itu, penilaian anak nanti tak bergantung pada penyelesaian kurikulum. Tapi, bagaimana anak mendapat pembelajaran di sekolah dan menerapkannya. Misalnya, mengenai kepatuhan anak dalam menerapkan protokol kesehatan selama di sekolah. Itu bisa menjadi salah satu poin penilaian. (mia/c7/fal/JPG)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top