Sulit Dapat Air Bersih, Warga Mbrata Konsumsi Air Kali | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sulit Dapat Air Bersih, Warga Mbrata Konsumsi Air Kali


BERBAGI DENGAN TERNAK. Warga Kampung Mbrata, Desa Macang Tanggar sedang mandi dan mengambil air kali berlumpur untuk dikonsumsi. Warga harus berbagi dengan ternak peliharaan warga karena air ini juga biasa dipakai memberi minum ternak. (FOTO: HANS BATAONA/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Sulit Dapat Air Bersih, Warga Mbrata Konsumsi Air Kali


LABUAN BAJO, TIMEXKUPANG.com-Warga Kampung Mbrata, Dusun 1 Nanga, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat masih kesulitan mendapat akses air besih. Akibatnya warga hanya mengonsumsi air kali yang sudah bercampur lumpur.

“Kita di Mbrata sangat kesulitan air bersih. Sudah usul ulang-ulang ke pemerintah tetapi belum juga dapat perhatian,” ungkap Yoseph Jaman, salah satu warga Mbrata kepada TIMEX saat ditemui di kampung itu, Selasa (15/6).

Menurut Yoseph, selama ini warga hanya mengonsumsi air selokan yang menuju persawahan. Air itu dipakai warga untuk masak dan minum setelah melalui proses penyaringan dengan kain putih agar sedikit jernih baru dimasak. Sedangkan untuk mandi dan cuci, masyarakat Mbrata menggunakan air kali yang harus berbagi dengan ternak sapi dan kerbau.

Yoseph menjelaskan, memasuki bulan Juni seperti sekarang ini, debit air kali untuk cuci dan mandi masih sedikit terbantu karena belum kering. Tetapi begitu memasuki bulan Agustus, September, dan Oktober, masyarakat harus menggali lagi lubang kecil di pinggir kali agar bisa mendapat debit yang cukup untuk bisa mandi dan cuci lalu disaring air yang sudah keruh dan kotor.

Untuk diketahui sebagian besar wilayah selatan Kecamatan Komodo, mencakup Desa Macang Tanggar, Desa Golo Tanggar masih sulit mendapatkan akses air bersih, meskipun sudah beberapa kali proyek air bersih masuk ke wilayah itu.

Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mabar, Sewargading mempertanyakan asas manfaat pengerjaan proyek air bersih Wae Cumpe menggunakan APBD NTT TA 2014 senilai Rp 4 miliar. Proyek yang diharapkan menjadi pemberi solusi bagi masyarakat setempat, justru masih kesulitan air. Jalur yang dilalui pipa air bersih itu mestinya ikut memberi manfaat air bersih bagi masyarakat sekitar, namun sampai saat ini, keinginan dan harapan itu belum terwujud. Karena itu, Sewargading mempertanyakan asas manfaat dari proyek itu. “Kalau proyek itu sudah selesai tetapi belum memuaskan harapan masyarakat, sebaiknya diserahkan ke daerah biar Manggarai Barat perbaiki dan urus itu lebih baik,” tegasnya. (Krf5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top