Alami Stroke, Tersangka Martinus Tobu Jadi Tahanan Kota | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Alami Stroke, Tersangka Martinus Tobu Jadi Tahanan Kota


NAIK MOBIL TAHANAN. Tersangka Kades Birunatun, Martinus Tobu (rompi orange) saat menaiki mobil tahanan untuk diamankan di tahanan sel Mapolres TTU belum lama ini. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Alami Stroke, Tersangka Martinus Tobu Jadi Tahanan Kota


Kasus Dugaan Korupsi Dana Desa di Desa Birunatun

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan dana desa di Desa Birunatun, Kecamatan Biboki Feotleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Martinus Tobu yang sebelumnya menjalani hukuman sebagai tahanan dengan kurungan badan di Rumah Tahanan (Rutan) Polres TTU, kini menjadi tahanan kota.

Perubahan status tahanan terhadap tersangka Martinus tersebut karena pertimbangan gangguan kesehatan yang dialami oleh mantan Kades Birunatun itu. Sesuai hasil pemeriksaan tim medis, tersangka Martinus menderita penyakit stroke ringan.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) TTU, Roberth Jimmy Lambila, kepada TIMEX, Kamis (17/6) mengatakan, status tahanan kota diberikan kepada tersangka Martinus Tobu semata-mata karena pertimbangan kemanusiaan.

BACA JUGA: Geledah Rumah Anak Kades Birunatun, Jaksa Temukan dan Sita Bukti Ini

BACA JUGA: Jaksa Tahan Kades Birunatun, Pakai Dana Desa untuk Kepentingan Pribadi, Negara Rugi Rp 1,3 Miliar

Rupanya, selama ini tersangka Martinus memiliki riwayat penyakit stroke ringan, sehingga saat diamankan di Rutan Mapolres TTU, penyakit yang diderita tersangka kambuh lagi sehingga status tahanan pun ikut berubah dari tahanan kurungan badan menjadi tahanan kota.

“Setelah kami melakukan penahanan di Rutan Polres TTU selama dua hari, tersangka Martinus Tobu ini sakit stroke ringan sehingga diberikan keringan untuk menjalani tahanan kota,” ungkap Kajari Roberth Lambila.

Kajari Roberth menambahkan, selain pertimbangan kemanusiaan, pengalihan status tahanan terhadap Martinus sebagai tahanan kota ini dilakukan untuk mempermudah penyidikan.

Menurut Kajari Roberth, jika Martinus tetap berada dalam tahanan rutan justru dia akan bertambah sakit dan hal itu bisa mempersulit proses penyidikan. “Jadi kasus ini tidak dihentikan. Ini hanya alasan kemanusiaan. Proses penyidikan akan tetap dilanjutkan dan dalam satu minggu yang bersangkutan wajib lapor dua kali yakni setiap hari Senin dan Kamis,” jelasnya. (mg26)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top