Warga Lembata Diaspora Minta Gubernur NTT Batalkan ETMC 2021 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Warga Lembata Diaspora Minta Gubernur NTT Batalkan ETMC 2021


Marianus Wilhelmus Lawe Wahang. (FOTO: ISTIMEWA)

SPORT

Warga Lembata Diaspora Minta Gubernur NTT Batalkan ETMC 2021


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Sejumlah warga Lembata Diaspora Sedunia yang tergabung dalam Grup WhatsApp Ata Lembata, meminta Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Panitia Liga 3 El Tari Memorial Cup (ETMC) membatalkan rencana turnamen yang melibatkan seluruh kabupaten/kota di NTT itu. Sesuai rencana, turnamen ETMC 2021 itu akan diselenggarakan di Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata,NTT pada Agustus 2021.

“Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki niat baik memajukan olahraga sekaligus ajang mencari potensi pamain lokal. Namun, melihat penyebaran virus korona di Lembata yang makin meningkat, kami meminta Gubernur Laiskodat untuk membatalkan. Turnamen itu sangat bagus namun melihat terpaan virus korona makin meningkat, sebaiknya dibatalkan kemudian diagendakan kembali di waktu mendatang,” ujar Justin L Wejak, admin grup Ata Lembata dalam keterangan tertulis yang diterima TIMEX, Minggu (20/6) malam.

Sementara itu Pastor Yohanes Laba Tolok SDB mengingatkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT serius mempertimbangkan keselamatan para kontingen dan warga masyarakat Lembata di tengah meningkatnya wabah korona. Apalagi, belakangan semakin banyak warga Lembata terpapar virus berbahaya itu dan meninggal sia-sia akibat keterbatasan tenaga medis dan fasilitas kesehatan di rumah sakit di Lembata.

“Turnamen itu akan menimbulkan kerumunan besar. Warga masyarakat Lembata terutama di Lewoleba dan desa-desa akan berbondong-bondong ke Lewoleba untuk menyaksikan dari dekat rangkaian kegiatan berbagai cabang olahraga. Kehadiran warga dalam jumlah besar malah akan memudahkan penyebaran virus korona. Ini tentu membahayakan keselamatan mereka dan para kontingen. Paling pas Pemerintah Provinsi NTT membantu Lembata menangani covid-19 atau membangun sejumlah ruas jalan penting yang masih belum diurus, termasuk para pengungsi di wilayah Ile Ape dan Kedang,” ujar Pastor John Laba Tolok SDB, Pembina Novisiat SDB Tigaraksa, Tangerang, Provinsi Banten.

Sementara itu, anggota grup lainnya, Petrus Bala Pattyona menambahkan, pembatalan turnamen itu perlu dilakukan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata serius menangani berbagai persoalan pembangunan di daerah itu yang masih menumpuk.

Lembata, kata praktisi hukum asal Desa Belabaja, Nagawutu itu, baru saja dilanda dua kali bencana hebat yang menyebabkan daerah kelimpungan dari aspek pendanaan. Bencana banjir yang terjadi awal April lalu, akhirnya membuat Presiden Jokowi mengunjugi Lembata dan melihat langsung warga dan korban pada 9 April.

Menurut Bala Pattyona, dua kecamatan di wilayah utara, yaitu Ile Ape dan Ile Ape Timur akhir November 2020 dilanda erupsi gunung Ile Lewotolok. Ribuan warga sampai mengungsi di kebun-kebun. Lalu pada Minggu, 4 April 2021, longsor dan banjir kembali melanda Ile Ape dan Ile Timur, termasuk wilayah Kedang di bagian timur. Turnamen itu juga akan menimbulkan kerumunan yang berpotensi memudahkan penyebaran virus korona sehingga turnamen belum mendesak diselenggarakan tahun ini.

“Bencana terakhir awal April lalu sampai membuat Presiden Jokowi mengunjungi Lembata dan melihat langsung kondisi warga yang sangat menderita kehilangan sanak saudara dan kampung halaman. Pemkab Lembata sangat lemah dalam penanganan warga dan relokasi yang masih bermasalah hingga saat ini. Karena itu, turnamen sebesar EMTC akan sangat menyedot anggaran daerah. Jadi baiknya ETMC dibatalkan Pak Gubernur dan diagendakan kembali di waktu mendatang karena akan berpotensi memudahkan penyebaran virus korona,” kata Pattyona.

Marianus Wilhelmus Lawe Wahang, warga grup lainnya mengatakan, sebaiknya anggaran daerah Lembata yang sangat minim saat ini diarahkan untuk membantu para korban bencana, baik di Ile Ape dan Ile Ape Timur serta wilayah Kedang yang sangat parah dilanda bencana awal April lalu.

“Bupati Lembata kesannya sangat bermain-main dalam membangun daerah itu. Banyak anggaran tak digunakan tepat sasaran. Bupati malah menaikkan gaji dan tunjangan per bulan sebesar Rp 408 juta lebih mulai awal 2021. Turnamen ETMC belum begitu urgen. Saya pikir tak ada alasan untuk melanjutkan. Dibatalkan sampai suasana kembali daerah pulih di tengah gempuran wadah korona,” kata Marianus Lawe, kepala kamar mesin (chief engineer), sebuah kapal berbendera asing di perairan Uni Emirat Arab.

Ansel Deri, admin grup Ata Lembata mengemukakan, Lembata sesungguhnya belum siap menggelar turnamen ETMC dari aspek persiapan venue yang masih minim. Sebuah lapangan yang baru dikebut Pemkab Lembata juga tak memadai menampung ribuan anggota kontingen dari berbagai daerah di NTT.

Wartawan asal kampung Kluang, Desa Belabaja ini juga mengusulkan kepada Gubernur NTT agar turnamen ETMC yang sedianya diselenggarakan Agustus 2021 ini dibatalkan. Kemudian Pemprov memberikan kesempatan kepada Bupati Lembata menangani warga masyarakat dan desa-desa yang baru saja dihantam banjir dan longsor awal April lalu. Pemkab Lembata juga diberi kesempatan membenahi daerah yang sangat amburadul dalam 21 tahun terakhir.

“Jangan sampai tamu ETMC dan tuan rumah sama-sama malu melihat wajah kota amburadul tak terurus selama 10 tahun terakhir. Bupati Lembata lebih suka jalan-jalan tidak jelas sembari menikmati gajinya ratusan juta per bulan dari kabupaten miskin itu. Lalu kalau ribuan orang datang di Lembata, bagaimana jaminan kesehatan warga masyarakat saat korona makin ganas? Rumah sakit umum daerah di Lembata sangat minim fasilitas. Kalau ada atlet cedera bisa saja Pemprov NTT atau Panitia ETMC menyewa helikopter mengevakuasi peserta. Baiknya dana provinsi itu untuk bekin jalan yang selama ini ditelantarkan Bupati Sunur,” kata Ansel Deri, editor buku Membangun Tanpa Sekat dalam rangka HUT ke-21 Otonomi Lembata tahun 2021. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya SPORT

To Top