Pameran Kilau Digital, Kopi Poco Nembu Colol Jadi Mangnet | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pameran Kilau Digital, Kopi Poco Nembu Colol Jadi Mangnet


HASIL BINAAN. Officer Kredit Bank NTT Cabang Borong, Robertus Apro Selamat saat ikut pameran di Labuan Bajo. Pameran ini Bank NTT memamerkan produk khas Kabupaten Matim hasil binaan Bank NTT. (FOTO: ISTIMEWA)

BISNIS

Pameran Kilau Digital, Kopi Poco Nembu Colol Jadi Mangnet


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Galeri Kopi Poco Nembu Colol, menjadi magnet di ajang pameran Kilau Digital Permata Flobamora di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Jumat (18/6/21). Kopi bubuk yang dipajang semua diserbu pengunjung. Ini membuktikan tingginya permintaan konsumen.

Kopi Poco Nembu, bersumber dari petani Desa Colol, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Diproduksi oleh BUMDes setempat yang merupakan desa binaan Bank NTT Cabang Borong. Ada lima jenis kopi yang diproduksi, yakni Arabika, Juria, Robusta, dan Yellow Captura.

“Kopi Poco Nembu yang kita pamerkan di Labuan Bajo, semunyan laku. Bangga dengan banyaknya pengunjung ke stan kopi asal Colol ini. Kopi ini banyak diminati, karena punya karakter yang tidak saja rasanya, tapi juga aromanya yang mengundang,” ujar Officer Kredit Bank NTT Cabang Borong, Robertus Apro Selamat, kepada Timex di Borong, Senin (21/6).

Menurutnya, kopi yang dipamerkan itu dalam bentuk roasting medium dark dan bubuk dari jenis kopi Yellow Captura dan Arabika. Usai kegiatan pameran, banyak peminat yang pesan. Bahkan kata Apro, setelah Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Dirut Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, Bupati Matim, Agas Andreas berkunjung ke Desa Colol, permintaan kopi BUMDes Poco Nembu meningkat.

“Setelah dilakukan peresmian mesin pengelolaan dan pengemasan kopi BUMDes Poco Nembu, permintaan kopi Poco Nembu meningkat drastis. Saat ini, pesanan Kopi Poco Nembu melalui kita di Bank NTT sudah banyak. Sehingga banyak yang sudah kita kirim ke Labuan Bajo, Kupang, dan daerah lainya,” kata Apro.

Apro mengatakan, permintaan ini tidak termasuk yang dipasarkan sendiri oleh pihak BUMDes Poco Nembu. Permintaan kopi tinggi itu karena kopi dari lembah dingin Desa Colol memiliki cita rasa sangat khas. Hangatnya Kopi Colol bukan cerita baru. Cita rasanya hangat menggetarkan. Kualitasnya pun teruji.

Pemimpin Bank NTT Cabang Borong, Nurchalis Tahir, kepada TIMEX menambahkan, Poco Nembu Coffee merupakan produksi BUMDes Poco Nembu, Desa Colol dan mitra binaan Bank NTT Cabang Borong. Saat ini kopi Colol sudah memberi dampak ekonomi bagi masyarakat di wilayah itu.

BUMDes Poco Nembu sudah memasarkan Kopi Colol di Labuan Bajo, Kota Kupang, dan sejumlah daerah lainya. Bank NTT juga hadir tidak hanya memberi dukungan modal untuk membeli mesin pengelolaan kopi dan pengemasan, tapi ikut mendampingi hingga membuka akses pasar hasil produksi kopi dari BUMDes tersebut.

“Bank NTT hadir, tidak hanya sebatas membantu modal dalam bentuk kredit investasi. Terus kalau selesai tanggung jawab dalam pengembalian kredit, kita lantas lepas begitu saja. Kita tetap terus damping sampai BUMDes ini maju dan ekonomi masyarakat di desa itu benar-benar meningkat,” kata Nurchalis.

Selain membantu modal, pihaknya juga turut membantu mewujudkan hak kekayaan bagi kemasan Kopi Poco Nembu, agar diakui secara resmi. Langkah yang dibuat Bank NTT saat ini, membantu memperkenalkan kopi dari tangan petani ke lingkup pasar agar makin dikenal.

Kopi Poco Nembu memiliki QR Code, untuk dipasarkan secara online. Sejak 2018 lalu, bank milik masyarakat NTT ini sudah masuk ke Desa Colol, dalam hal pemberdayaan petani setempat. Pendekatanya secara perorangan. Dimana, Bank NTT hadir membebaskan petani dari praktik renternir.

“Tahun ini kita jadikan Desa Colol ini sebagai binaan Bank NTT. Melalui BUMDes Poco Nembu, kita berharap bisa membantu peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Mutiara hitam dari lembah Colol ini sudah mendunia, dan kita tidak mau ekonomi masyarakatnya tidak berkembang. Apalagi Kopi Colol sudah ditetapkan sebagai destinasi agrowisata,” beber Nurchalis.

Menurut Nurchalis, Bank NTT tidak mengintervensi pengelolaan BUMDes itu. Tapi sebagai mitra dengan misi yang sama membangun demi kemajuan BUMDes. Karena terkait hal pengelolaan BUMDes, tentu sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. Dia pun berharap, BUMDes dikelola secara profesional dan terlepas dari kepentingan lain.

“BUMDes Poco Nembu tetap menjadi BUMDes yang mandiri dan memiliki kontribusi bagi masyarakat desa. BUMDes ini harus bisa membeli kopi dari para petani. Harapan kita juga, harus dikelola secara profesional dan terlepas dari kepentingan lain,” ujar Nurchalis.

Tenaga Ahli Pemgembangan Ekonomi Desa, Kementrian Desa, Ramli Ajar, yang dihubungi TIMEX melalui HP, Senin (21/6/21) malam, menjelaskan BUMDes itu sebuah lembaga ekonomi desa. Dimana hadir untuk meningkat ekonomi masyarakat. Membuaka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan asli desa.

BUMDes Poco Nembu di Desa Colol punya potensi besar untuk dikembangkan dan membangun ekonomi masyarakat maju. BUMDes yang dibentuk tahun 2018 lalu ini tentu melalui proses atau tahapan. Mulai dari sosialisasi, indentifikasi potensi desa, dan rekrut pengurus yang di beri SK oleh kepala desa.

Selain itu pemerintah membuat Perdes pendirian BUMDes. Selanjutnya pengurus mengajukan proposal kepada pemerintah desa untuk memberikan modal usaha, dimana menggunakan dana desa (DD). Setelah penyertaan modal, maka pengurus diberikan pelatihan peningkatan kapasitas pengurus terkait managemen BUMDes.

“Tapi untuk BUMDes Pucu Nembu, belum dilakukan peningkatan kapasitas. Tentunya, saya yang ditugaskan sebagai tenaga ahli, tetap dan selalu mendampingi BUMDes yang ada untuk berjalan sesuai dengan regulasi,” jelas Ramli.

Ramli menjelaskan, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat petani kopi, BUMDes bisa memberikan modal kepada petani untuk meningkatkan usaha petani kopi. Kedua BUMDes juga bisa melakukan peningkatan kapsitas petani, mulai dari proses intensifikasi lahan sampai pada pasca panen.

Ketiga, BUMDes harus bisa membeli atau menampung dan memasarkan hasil produksi petani kopi. Keempat, mengelola hasil produk petani kopi dari bahan mentah menjadi barang jadi kemudian untuk di pasarkan. Serta yang kelima, bisa membuka jaringan pasar dan bekerja sama dengan pihak ketiga. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top