Mantan Staf Ahli Pukul Dua Warga Semau, Sidang Perdana di PN Oelamasi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Mantan Staf Ahli Pukul Dua Warga Semau, Sidang Perdana di PN Oelamasi


SIDANG PERDANA. Dua warga Semau, Obet Nego Ukat dan Semuel Pong Neno Besi usai mengikuti sidang perdana perkara pemukulan di PN Oelamasi, Selasa (22/6). (FOTO: THEO NDU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Mantan Staf Ahli Pukul Dua Warga Semau, Sidang Perdana di PN Oelamasi


OELAMASI, TIMEXKUPANG.com-Mantan staf ahli Bupati Kupang, Martinus Po Tausbele memukul Obet Nego Ukat, 60, dan Semuel Pong Neno Besi, 54, hingga tak berdaya. Kedua korban merupakan warga Desa Uitiuh Tuan, Kecamatan Semau.

Sidang perdana kasus pemukulan terhadap Obet Neno Ukat dan Semuel Pong Neno Besi berlangsung di Pengadilan Negeri Oelamasi, Selasa (22/6).

Sidang dengan terdakwa Martinus Po Tausbele, dipimpin Hakim Ketua Arfan A. Bone dengan hakim anggota Seppin L Tanuab dan Hendara AH Purba. Agenda sidang itu adalah pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kabupaten Kupang.

Usai jaksa membacakan dakwaan, katua majelis hakim memutuskan sidang akan dilanjutkan pada 29 Sepetember 2021 mendatang karena para saksi korban tidak hadir dalam persidangan.

Korban Obet Nego Ukat yang ditemui usai sidang, Selasa (22/6) menjelaskan, kasus pemukulan terhadap dirinya berawal dari Semuel Pong Neno Besi pada 18 September 2020, mendengar ada bunyi mesin sensor di atas lahan milik keluarga Leisilab. Setelah Samuel Neno Besi datang ke lokasi kejadian, menyaksikan ada Martinus Po Tausbele sedang memacul tanah lahan milik keluarga Leisilab itu.

Kemudian Samuel kembali ke rumah untuk memanggil Obet Neno Ukat sebagai kepala suku untuk menyaksikan langsung lahan mereka yang sudah digarap oleh Martinus Po Tausbele.

Setelah Obet Nego Ukat tiba di lokasi kejadian, langsung menegur Martinus Tausbele untuk menghentikan kegiatan dan mengajak Martinus kembali ke rumah Obet untuk berunding secara damai.

Namun, ajakan Obet ditolak oleh Martinus yang langsung marah, memaki serta memukul Obet Nego pada pelipis kiri dan kanan yang membuat mata kanan korban luka dan mengeluarkan darah. Selain memukul korban, Martinus dengan teman-temannya ikut memukul Semuel Pong Neno Besi hingga tak berdaya.

Menurut Samuel, dirinya dikeroyok oleh lebih kurang lima orang. Pertama di pukul oleh Matinus Tausbele pada pipi kiri dan kanan. Kedua dipeluk oleh Yonatan Bao. Ketiga Siprianus Po Tausbele yang ikut menendang dengan kaki kiri dan kanan, hingga ia tidak berdaya.

Keempat Rolin Laiskodat ikut menendang Samuel hingga terjatuh, bahkan Jon Karvinan ikut menendang dengan kaki kanan, hingga Samuel tak berdaya.

Menurut Samuel, atas peristiwa yang menimpa dirinya bersama Obet, mereka langsung lapor ke Kepala Desa Uitiuh Tuan.

Kepala Desa Uitiut Tuan, Yostan Urbanus Bela memberitahukan kepada kedua korban untuk langsung laporkan kepada Polsek Semau agar dapat diproses secaara hukum.

Samuel menambahkan, setelah dilaporkan ke Polsek Semau, mereka langsung membawanya bersama Obet ke Puskemas Uitao untuk pemeriksaan medis. Keesokan harinya, 19 Sepetem 2020 kedua korban datang kembali ke Polsek Semau untuk memberi keterangan kepada polisi.

Namun, kedua korban menunggu hingga bulan November 2020 dan diproses hingga kedua korban mengadu ke Polres Kupang dan Polda NTT agar kasus pengeroyokan terhadap mereka dapat ditindaklanjuti oleh polisi.

Samuel dan Obet menambahkan, mereka merasa heran dengan tindakan yang dilakukan oleh polisi. Polisi hanya menindaklanjuti kasus yang menimpa Obet. Sementara, pengeroyokan yang menimpa Samuel tidak diproses secara hukum, yang membuat empat orang pelaku pengeroyokan tidak ditindaklanjuti dengan hukum.

Keluarga besar Obet dan Samuel mempertanyakan keseriusan polisi dalam mengungkapkan kasus tersebut. Pihak keluarga menuntut agar kasus tersebut dituntut dengan pasal pengeroyokan, bukan dengan pasal penganiayaan ringan. Pihak keluarga juga menuntut agar empat orang pelaku pengeroyokan ditahan, bukan hanya proses hukum satu orang saja.

Hingga saat ini polisi hanya memeriksa Martinus Tausbele, sedangkan empat orang pelaku pengeroyokan tidak ditahan. Keluarga juga mempertanyakan kenapa pasal yang dituntut menggunakan pasal penganiyaan, bukan pasal pengeroyokan. Pihak keluarga mengharapkan terdakwa harus dihukum seberat-beratnya sesuai dengan proses hukum yang berlaku.

Sementara, Martinus Tausbele yang ditemui, Selasa kemarin menjelaskan, lahan yang digarap oleh dirinya adalah tanah milik nenek moyang mereka, bukan tanah milik marga Leisilab.

Menurut Martinius, dirinya tidak memukul Obet dan Samuel, tetapi Obet memukul dirinya kemudian ia berusaha menghindar sehingga Obet jatuh ke tanah hingga pipi kanannya luka dan berdarah.
Martinus menambahkan lahan yang digarap dirinya bukan lahan milik Obet bersama Samuel atau bukan lahan milik marga Leisilab, tetapi lahan milik orangtua mereka. (teo/ays)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top