Kembangkan Agrowisata Anggur, Kementan Dukung Petani Milenial di Tanah Alor | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kembangkan Agrowisata Anggur, Kementan Dukung Petani Milenial di Tanah Alor


Para anggota Poktan BFUIADA di Kabupaen Alor serius berdialog terkait pengembangan agrowisata anggur yang akhir-akhir ini peminatnya tinggi. (FOTO: HUMAS SMK-PP NEG. KUPANG)

NASIONAL

Kembangkan Agrowisata Anggur, Kementan Dukung Petani Milenial di Tanah Alor


KALABAHI-Kementerian Pertanian (Kementan) terus menyiapkan petani-petani muda yang andal, salah satunya mendukung petani-petani milenial di daerah. Tak hanya itu, fasilitas pertanian yang modern serta program regenerasi petani seperti Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) juga dilakukan untuk mendukung hal tersebut. Salah satu kelompok tani (Poktan) yang mendapat dukungan melalui program PWMP adalah BFUIADA.

Poktan ini berada di Desa Mataru, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan saat ini tengah mengembangkan komoditas ekspor serta agrowisata anggur.

Poktan ini tak hanya mengembangkan budidaya anggur sebagai produk inti, namun juga mengembangkan budidaya cabai dan semangka yang di buat dalam konsep agrowisata. Kelompok tani yang beranggotakan 20 orang anak muda milenial ini memilih anggur karena permintaan di NTT cukup tinggi. Sedangkan cabai dan semangka memiliki nilai ekonomi yang tinggi meskipun diproduksi dalam jangka pendek.

Ketua Poktan, Calvin Romelus Karbeka, mengungkapkan bahwa ide bisnis pertanian ini berawal dari potensi pariwisata di NTT sangat menjanjikan, kebutuhan konsumsi buah dan permintaan pasar yang tinggi terhadap cabai serta ketersediaan lahan kering yang belum dikelola secara maksimal.

“Kelompok Tani BFUIADA mengintegrasikan pertanian dan pariwisata dalam bentuk produk tanaman anggur serta pengembangan cabai dan semangka untuk memenuhi permintaan konsumen,” ujar Calvin dalam keterangan tertulis Humas SMK-PP Negeri Kupang, Jumat (25/6).

Calvin optimistis bahwa target pengembangan dari agrowisata berupa anggur bisa mencapai 4.000 pohon, cabai 72.000 pohon, dan semangka 4.000 pohon. Anggur dapat berproduksi pada usia 2 tahun ke atas dengan kapasitas produksi rata-rata per pohon 7kg, dan cabai dalam jangka waktu 75 hari dengan kapasitas rata-rata 1 kg per pohon. Sementara semangka yang berproses selama 60 hari dapat menghasilkan rerata 10 buah per pohon.

“Tujuan usaha kelompok kami adalah membangun desa wisata berbasis perkebunan anggur lahan kering di kawasan pesisir pantai. Oleh karena itu, kami memanfaatkan teknologi konservatif lahan kering dengan memanfaatkan sumber mata air pegunungan,” imbuh Calvin.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini untuk menuju pertanian maju, mandiri dan modern diperlukan peran aktif generasi milenial. “Oleh Sebab itu generasi milenial merupakan penggerak utama pembangunan pertanian,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa milenial harus mampu melihat peluang sekecil apapun terutama dalam bidang pertanian sehingga pertanian itu sendiri akan maju.

Dedi juga menambahkan bahwa selain memanfaatkan peluang, petani milenial lah yang mampu mendongkrak produktivitas dan menjaga kualitas dan menjamin kontinuitas produknya lewat inovasi teknologi.

“Ada beberapa bisnis wirausaha di bidang pertanian yang memiliki potensi di era modern, seperti bisnis untuk varietas-varietas yang cuacanya banyak, ada ubi porang, hortikultura, sayuran dan juga buah buahan yang bisa diekspor”, imbuhnya. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top