Demi WIL, Perwira Polisi Diduga Ceraikan Istri Tanpa BP4R | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Demi WIL, Perwira Polisi Diduga Ceraikan Istri Tanpa BP4R


ILUSTRASI Selingkuh (FOTO: Vice/Ist/JawaPos.com)

PERISTIWA/CRIME

Demi WIL, Perwira Polisi Diduga Ceraikan Istri Tanpa BP4R


Istri Mengadu ke Propam Juga Ancam Lapor Penganiayaan dan Penelantaran

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Nasib kurang beruntung dialami NS, 44, ibu rumah tangga yang juga warga RT 21/RW 06, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Bertahun-tahun tidak mendapatkan nafkah lahir-batin dari sang suami, AKP DR, salah satu pejabat penting di Polres Manggarai Barat saat ini.

Mirisnya lagi, NS yang juga anggota Bhayangkari itu diceraikan sang suami tanpa melalui sidang Pengadilan Agama dan sidang Badan Pembantu Penasehat Perkawinan Perceraian dan Rujuk (BP4R) di Polda NTT.

Setelah mendapat informasi dirinya telah diceraikan, NS mengadukan sikap suaminya ke Propam Polda NTT dan mengancam akan melaporkan tindak pidana penganiayaan dan penelantaran.

Kepada TIMEX, NS mengaku kaget ketika mendapat kabar bahwa suaminya sudah menggugat cerai di Pengadilan Agama Kupang, bahkan sudah ada putusan pengadilan. Sedangkan dirinya tidak pernah di panggil untuk mengikuti persidangan.

NS menjelaskan, sebagai istri seorang anggota Polri, mesti melalui sidang BP4R baru bisa dinyatakan sah lalu terbit surat perceraian. “Kapan sidangnya? Saya tidak pernah mengetahui dan tidak pernah mendapat panggilan sebagai pihak tergugat. Kok bisa pengadilan agama memutuskan tanpa prosedur mediasi dan memanggil saya sebagai tergugat,” ujar NS saat ditemui akhir pekan lalu.

Ia mengaku telah membina rumah tangga bersama AKP DR sejak 23 tahun lalu. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai tiga orang anak. Biduk rumah tungga pasangan ini mulai goyah pada 2014 silam. Saat itu AKP DR meninggalkan rumah tanpa alasan yang jelas dan memilih untuk kost.

Sejak saat itu NS mengaku tidak mendapatkan nafkah dan gaji dari suaminya. Untuk menghidupi keluarganya, ia terpaksa membuka usaha rumah makan di seputaran Pasar Lili, Kabupaten Kupang atas sepengetahuan ketiga anaknya.

Belakangan NS mendapat kabar bahwa AKP DR menjalin hubungan dengan wanita lain sehingga ia melaporkan kasus perselingkuhan dan KDRT oleh AKP DR ke polisi. Namun saat itu AKP DR hanya mendapatkan hukuman penundaan kenaikan pangkat. “Kami menikah sah secara dinas dan agama pada tahun 1998 di Kupang,” ujar NS.

NS membeberkan bahwa pada 2019, ia sempat memaafkan perbuatan suaminya dan hubungan mereka kembali membaik. Namun ternyata rujuk kembali itu hanya modus perwira polisi itu untuk naik jabatan sebagai Kasat Shabara. “Dia baik kembali dengan saya hanya karena mau mendapat jabatan sebagai Kasat Sabhara di Polres Ngada,” ungkap NS.

Masih menurut NS, kepercayaannya malah dikhianati mantan Kasat Sabhara Polres Ngada, dengan menduakan dirinya demi wanita idaman lain (WIL) “Dia selingkuh lagi dengan seorang janda (AP) dan sekarang mereka malah berencana mau nikah,” tandas NS.

Ulah Polisi berpangkat tiga balok dipundak itu kembali memicu hancurnya hubungan rumah tangga mereka hingga awal 2021 lalu. AKP DR kembali dipercayakan pimpinannya menduduki jabatan penting di Polres Manggarai Barat.

Merasa dizolimi, NS kemudian mengadu ke Propam Polda NTT terkait perkara pelanggaran anggota Polri dan dugaan gugatan perceraian tanpa melalui prosedur sidang BP4R seperti yang tertuang dalam PPRI Nomor 2 Tuhun 2003 tentang peraturan disiplin anggota Polri.

NS juga mengaku kalau AKP DR menuduhnya meninggalkan rumah. Padahal rumah makan yang dibuka tersebut bertujuan untuk bisa memenuhi kebutuhan bersama anak-anaknya.

“Saya tidak pernah dinafkahi jadi saya bolak balik ke lokasi rumah makan yang cukup jauh tapi saya dituduh meninggalkan rumah. Saya kelola rumah makan di Lili atas sepengetahuan dan seizin anak-anak saya,” katanya.

NS mengaku sangat menyayangkan proses perceraian tanpa prosedur yang benar karena ia tidak pernah dihadirkan dalam sidang perceraian dan tanpa mediasi. Sikapnya melaporkan AKP DR ke Propam Polda diakuinya juga mendapat dukungan dari anak-anaknya.

“Anak saya yang sulung sudah bekerja di Kejaksaan Larantuka mendukung sikap saya ini. Saya akan kembali melaporkan KDRT dan penalantaran,” tandasnya.

Terpisah, AKP DR yang dikonfirmasi, Senin (28/6) membenarkan kalau ia sudah menceraikan NS sejak beberapa waktu lalu. Ia beralasan bahwa NS pergi meninggalkan rumah, suami, dan anak sejak 3 Januari 2020 lalu.

“Satu tahun lebih dia pergi tanpa memberitahukan saya. Saya dengan anak saya yang paling kecil sudah berusaha mencari namun tidak menemukan,” tandasnya.

Terhadap surat cerai yang dipersoalkan karena dinilai tidak prosedural, AKP DR juga mengaku mengurus surat cerai sendiri. Kemudian meminta pertimbangan Pengadilan Agama Kupang untuk melakukan sidang perceraian gaib. “Saya ajukan permohonan cerai karena tergugat tidak ada dan minta pertimbangan Pengadilan Agama sehingga cerai gaib,” tandasnya.

DR beralasan kalau ia kesulitan menemukan alamat sang istri. Selama ini dirinya tidak pernah membatasi istri. Bahkan ia membantu sang istri membuka rumah makan di Kelurahan Alak, Kota Kupang. “Saya bantu bangun usaha itu dan bayar kontrakan. Rumah makan sudah berjalan dua bulan tapi tidak diurus, malah (NS) mengaku membuka rumah makan di luar kota,” tambahnya.

DR membantah menelantarkan istri dan anaknya. Namun dirinya meninggalkan rumah karena tidak menginginkan terjadinya keributan. Karena itu, AKP DR membeli rumah di Kelurahan Alak.

Ia mengaku kecewa karena NS pergi dari rumah tanpa memberitahukan dirinya selaku suami. Ada panggilan dari Pengadilan Agama untuk sang istri namun karena tidak ada alamat yang jelas maka pengadilan pun memberikan putusan.

“Saya mau tenang dan mau kerja untuk anak dan orang tua saya sehingga saya putuskan tinggalkan rumah di BTN dan beli rumah di Kelurahan Alak. Berbulan-bulan saya cari tapi tidak ketemu sehingga saya ajukan cerai. Panggilan sejak bulan September dan Oktober namun sulit mengetahui alamatnya,” tambah DR.

AKP DR juga mengaku kecewa dengan NS karena memiliki hutang di sejumlah koperasi dan perorangan. Bahkan DR mengaku kalau banyak yang mencarinya di rumah dan di kantor untuk menagih uang koperasi yang dipinjam NS.

“N*n*n* kerjasama dengan seorang ibu di Puri Lontar dan dia pakai uang hingga Rp 70 juta. Orang malah cari saya untuk menagih. Ada juga perorangan yang datang ke kantor menagih,” sebutnya.

DR membantah kalau NS pergi dari rumah atas seizin anak-anak. Karena tidak ada laporan dari anak-anak. Ia juga mempertanyakan rumah makan di Lili, sementara rumah makan di Alak tidak diurus, padahal ada karyawan nama Norma yang membantunya. “Saya laki-laki normal tidak bisa tahan hidup bertahun-tahun tanpa istri,” tandasnya.

Tindakan menceraikan NS diakui DR demi adanya kepastian hukum dan perlindungan bagi dirinya. Ia juga membantah perceraian dengan NS demi menikahi perempuan lain. Walau sudah menceraikan NS, AKP DR mengaku tetap bertanggungjawab menafkahi NS dan anak-anak. “Saya tetap bertanggungjawab pada anak-anak dan saya tidak pernah membenci N*n*n* karena dia adalah ibu dari tiga anak saya,” ujarnya.

Ia menyarankan karena NS sudah kabur dari rumah, maka NS pun sudah mengerti dampak dari tindakannya tersebut. “Saya ceraikan bukan karena ada WIL dan mau menikah dengan perempuan lain, tetapi saya tidak tahan dengan kelakuan N*n*n* yang tinggalkan saya selama satu tahun lebih tanpa alasan yang jelas,” ujarnya.

Wakapolres Manggarai Barat, Kompol Eliana Papote, SIK., MM yang dikonfirmasi Senin (28/6) mengaku baru mendapat kabar tersebut. “Saya akan cek dan panggil (AKP DR, Red) setelah dia kembali dari tugas di Kupang,” tutupnya. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top