Perempuan, Pendidikan dan Masa Depan NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Perempuan, Pendidikan dan Masa Depan NTT


Dika Putri Vindi Santika Anie. (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Perempuan, Pendidikan dan Masa Depan NTT


Oleh: Dika Putri Vindi Santika Anie *)

Statistik menunjukan jumlah perempuan di NTT mencapai 2,6 juta jiwa. Angka yang cukup besar namun berbanding terbalik dengan keterwakilan perempuan pada sektor publik. Meski

demikian, NTT patut berbangga dengan kehadiran dua perempuan sebagai pimpinan DPRD NTT 2019-2024. Periode ini diharapkan menjadi titik kebangkitan perempuan dalam ranah politik NTT. Walaupun hal ini tidak serta merta menghapuskan stigma mengenai peran dan pengaruh perempuan dalam berbagai sektor.

Perempuan selama ini identik dengan tanggung-jawab domestik yang sangat dominan dibandingkan dengan tugas publik yang lebih lekat dengan laki-laki. Keadaan ini seringkali diterima sebagai sesuatu yang lumrah bahkan oleh kaum perempuan sendiri yang juga turut memelihara praktik patriarki hingga saat ini. Kenyataan ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan isu pentingnya Pendidikan bagi perempuan, baik itu di NTT maupun secara global.

Rendahnya keterlibatan perempuan dalam sektor publik di NTT tidak terlepas dari tingkat pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki. Anak laki-laki seringkali lebih diutamakan dalam hal pendidikan, termasuk diberikan kepercayaan untuk merantau dan mengejar ilmu setinggi-tingginya. Padahal perempuan juga berhak memperoleh pendidikan untuk mendukung kecerdasan intelektualnya, disamping emosional dan spiritual yang juga sangat penting.

Perempuan dan Pendidikan

Salah satu hal yang esensial dalam mendukung kemajuan bangsa, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah pendidikan. Pendidikan memberikan harapan, memungkinkan setiap insan menempati posisi yang sama dengan pengetahuan dan wawasan yang dimiliki. Pendidikan juga semestinya dijadikan fokus pertama dan yang utama untuk mengusahakan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Alih-alih memberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki, anak perempuan masih dinilai tidak perlu mengenyam pendidikan yang tinggi karena kelak hanya akan berurusan dengan tugas rumah tangga. Hal tersebut terbukti dengan data dari BPS tahun 2020 yang menunjukkan bahwa hanya 5,93% perempuan NTT yang mengenyam pendidikan sampai pada tingkat perguruan tinggi. Hal yang seringkali menjadi alasan rendahnya pendidikan perempuan adalah masalah ekonomi, namun yang juga sangat berperan dalam isu ini adalah pola pikir dan dukungan dari keluarga, lingkungan, masyarakat bahkan pemerintah mengenai pentingnya Pendidikan bagi perempuan.

Sedikit perempuan yang memiliki privilege untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi dan mengambil peran yang besar dalam masyarakat, pun masih terhalang dengan budaya maskulisme. Perjuangan perempuan untuk melawan diskriminasi gender masih terus berlanjut bahkan setelah lahirnya berbagai peraturan perundang-undangan yang mendukung kesetaraan dan hak-hak perempuan. Dalam menanggapi fenomena yang terus terjadi ini, perlu adanya dukungan dari semua pihak.

Apabila pada kenyataannya masih ada kendala ekonomi, sarana dan prasarana lainnya, perempuan tetap harus didukung untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Bisa melalui ketersediaan sekolah non formal, berbagai kursus ketrampilan, hingga sekolah politik bagi perempuan agar tetap berdaya dan mampu bersaing dengan laki-laki serta memberikan kontribusi yang maksimal bagi masyarakat. Bahkan yang paling sederhana namun berdampak besar yaitu sebagai pendidik pertama bagi penerus bangsa, sudah selayaknya perempuan menjadi terdidik sebelum mendidik. Pendidikan bagi perempuan tidak sebatas untuk kepentingannya sendiri tetapi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi suatu generasi.

Perempuan dan Masa Depan NTT

Bangsa yang kuat perlu didukung dengan kualitas sumber daya manusia yang baik. Untuk mencapai masa depan yang lebih baik, perlu adanya perhatian dan fokus yang utuh bagi peningkatan SDM, dimulai dari perempuan. Alasan mengapa perempuan harus diperhatikan tidak terlepas dari berbagai isu diskriminasi dan yang lebih jauh yaitu kenyataan bahwa peran perempuan tidak saja berpengaruh pada dirinya sendiri tetapi juga bagi keseluruhan bangsa. Perempuan memberikan pengaruh jangka panjang terhadap kualitas kesehatan, emosi, dan juga kognisi anak.

Perbaikan citra NTT di masa yang akan datang perlu didukung dengan perubahan konstruksi sosial mengenai peran dan pengaruh perempuan. Sudah saatnya perempuan diberikan ruang dan kesempatan yang sebesar-besarnya untuk mengaktualisasikan diri. Pendidikan bagi perempuan harus dipandang sebagai sesuatu yang wajib agar kelak dapat diaplikasikan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Begitu juga dengan kesempatan bagi perempuan dalam berbagai peran di tengah masyarkat juga harus ditanggapi sebagai sesuatu yang positif dan kemajuan yang patut disyukuri.

Peran perempuan bagi masa depan NTT tidak terbatas pada melahirkan dan merawat para penerus bangsa tetapi juga perlu dibekali untuk mampu berpartisipasi dalam berbagai sektor publik. Perempuan NTT sudah semestinya melangkah maju, berani melawan stigma dan batas pemisah pembeda gender serta memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan NTT lewat setiap karya dan potensi yang dimiliki.

Perempuan NTT di masa sekarang ini perlu untuk menyadari setiap kemampuan diri dan ikut mengambil bagian dalam berbagai tanggungjawab publik dengan tidak melupakan kodrat sebagai insan yang lemah lembut, bukan lemah dan tak berdaya. Semoga semakin banyak perempuan NTT yang menyadari kemampuan diri, berpikiran maju dan mendapatkan dukungan dari keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dengan demikian, perjalanan menuju masa depan yang lebih baik bagi NTT secara umum akan semakin mudah untuk diraih bersama. (*)

*) Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum UGM

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top