SMPN 4 Langke Rembong Gelar Seminar MBS, Kasek: Tingkatkan Profesionalisme Guru | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

SMPN 4 Langke Rembong Gelar Seminar MBS, Kasek: Tingkatkan Profesionalisme Guru


PEMBUKAAN. Kepala SMPN 4 Langke Rembong, Drs. Resman Wenseslaus Yan bersama narasumber saat membuka kegiatan seminar MBS di sekolah itu, Rabu (30/6). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

PENDIDIKAN

SMPN 4 Langke Rembong Gelar Seminar MBS, Kasek: Tingkatkan Profesionalisme Guru


RUTENG, TIMEXKUPANG.com-Dalam upaya menyukseskan kegiatan belajar mengajar (KBM) mandiri, SMP Negeri 4 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, menggelar seminar dan webinar Managemen Berbasis Sekolah (MBS), Rabu (30/6).

Kegiatan yang berlangsung di ruang guru SMP Negeri 4 Langke Rembong itu bertujuan membantu guru memahami konsep dan pelaksanaan MBS.

Kepala SMP 4 Negeri Langke Rembong, Drs. Resman Wenseslaus Yan saat membuka kegiatan itu menyebutkan, peserta dalam kegiatan ini adalah semua guru di sekolah itu, sementara narasumbernya adalah Dosen Prodi PGSD Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Marselinus Robe, M.Pd.

Setelah kegiatan seminar dan webinar, dilanjutkan dengan kegiatan penandatanganan Memorandum of Agreement (MOA) antara SMP Negeri 4 Langke Rembong dan Unika Santu Paulus Ruteng. Setelah itu dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan 8 orang dosen Unika Santu Paulus Ruteng, yakni Zephisius Ntelok, Arnoldus Helmon, Marsrlinus Robe, Elisabeth Davidi, Marlinda Mulu, Mariana Jediut, Yohanes M. Jamun, dan Fransiska J. Madu.

“Kegiatan ini dibuat untuk membahas tujuan-tujuan umum yang mau dicapai sekolah, dalam proses KBM mendatang. Juga mau menekankan kemandirian sekolah di dalam mengelola proses KBM yang berlangsung di sekolah,” ujar Resman.

Menurut Resman, ada empat hal penting yang dibahas dalam webinar dan workshop tersebut. Pertama, manajemen berbasis sekolah. Kedua, model pembelajaran. Ketiga, strategi dan pendekatan pembelajaran. Keempat, media pembelajaran.

“Kerja sama yang apik antar berbagai komponen sekolah sangat menjanjikan proses pembelajaran yang berkualitas dan menghasilkan peserta didik yang cerdas di masyarakat. Kepekaan untuk mendengar merupakan sikap paling tepat untuk memulai pembelajaran yang efektif dan efisien,” kata Resman yang menyebutkan, dalam proses pembelajaran hal yang tak lupa diperhatikan adalah menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif.

BACA JUGA: SMPN 4 Langke Rembong Integrasikan Ujian Sejumlah Mapel, Patut Jadi Sekolah Contoh

“Peran dari MBS sangat penting untuk diterapkan di sekolah ini. Sehingga saya berharap kepada peserta untuk manfaatkan kegiatan ini dengan baik agar dapat meningkatkan profesionalisme seorang guru. Prinsip dari MBS itu keterbukaan,” jelas Resman.

Sementara dosen Marselinus Robe menjelaskan, ketika sekolah diberi wewenang untuk merencanakan, memutuskan, mengatur, mengelola, mengontrol, serta mengevaluasi program sekolah secara otonom dan melibatkan stakeholders, sejatinya sekolah itu telah mempraktikkan esensi MBS itu.

Secara de facto, lanjut Marselinus, pengelolaan pendidikan dengan prinsip MBS telah diujicobakan pada sekolah-sekolah di Indonesia untuk tahun ajaran 1999/2000. Uji coba ini pada 140 SMA Negeri dan 248 SLTP Negeri. Tahun 2000/2001,  pada 486 SMA Negeri dan 158 SLTP Negeri, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

“Dengan model MBS, sekolah diberi kebebasan menentukan strategi, metode, dan pendekatan serta media pembelajaran yang paling efektif sesuai karakteristik siswa, karakteristik materi pelajaran, dan kondisi sumber daya yang tersedia,” jelas Marselinus.

Untuk bisa mewujudkan kinerja sekolah yang bermutu dengan menggunakan model MBS, kata Marselinus, maka diperlukan kompetensi kasek. “Kepsek itu mempunyai 5 kompetensi, yakni kompetensi kepribadian, sosial, supervisi, kewirausahaan, dan manajerial,” ungkapnya.

Selain kompetensi kasek, Marselinus juga menyebutkan 11 komponen MBS. Pertama, pencapaian visi dan misi. Kedua, kompetensi kasek. Ketiga, kepemimpinan kasek. Keempat, budaya sekolah. Kelima, pelibatan masyarakat. Keenam, pengelolaan kurikulum. Ketujuh, pengelolaan sarana dan prasarana.

Kedelapan pengelolaan guru dan tenaga kependidikan. Kesembilan, pengelolaan pembiayaan. Kesepuluh, pengelolaan kesiswaan. Kesebelas, penjaminan mutu internal. Ke-11 komponen itu, tentu sudah diperoleh kasek. Dan semua guru juga akan memperolehnya ketika suatu saat menjabat sebagai kasek.

Marselinus menambahkan, konsep MBS dalam praktiknya sama dengan konsep bisnis. Sama-sama mengurus manusia, memiliki pelanggan, dan memiliki pesaing. “Ada 4 fungsi manajerial, yakni perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan,” pungkasnya. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top