Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Kota Kupang Terisi 50 Persen, Waspadalah! | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Kota Kupang Terisi 50 Persen, Waspadalah!


TINJAU. Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore saat meninjau kesiapan RSUD S. K. Lerik dalam penanganan pasien Covid-19, Jumat (25/6). Tampak Direktur RSUD S. K Lerik, dr. Marsiana Halek (tengah) menjelaskan sistem kerja oksigen yang dipasang secara sentral. (FOTO: FENTI ANIN/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Kota Kupang Terisi 50 Persen, Waspadalah!


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Tingkat keterisian atau Bed Occupancy Rate (BOR) pada ruang perawatan pasien Covid-19 di sejumlah rumah sakit di Kota Kupang mencapai 45,24 persen. Meski ini masih dikategorikan terkendali, namun warga Kota Kupang diminta waspada sebab kenaikan jumlah kasus Covid-19 saat ini makin mengkhawatirkan.

Jika kasus Covid-19 di Kota Kupang terus meningkat tanpa terkendali, tentu akan berdampak pada kesiapan sarana dan fasilitas kesehatan di rumah sakit, khususnya ruang untuk penanganan pasien korona.

Sesuai data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Kota Kupang, ketersediaan tempat tidur di semua rumah sakit di Kota Kupang, khusus untuk pasien Covid-19 sebanyak 294 tempat tidur. Saat ini terpakai 133 tempat tidur.

“Artinya Bed Occupancy Rate (BOR) mencapai 45,24 persen, dan masih dalam kategori terkendali,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati kepada TIMEX saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (30/6).

Retnowati mengatakan, untuk ruang isolasi, tersedia 226 tempat tidur. Kini telah terpakai 115 tempat tidur sehingga BOR-nya menadi 50,88 persen. Khusus untuk ruang ICU, terdapat 50 unit, dan kini terpakai dua ruangan saja. “Ini artinya perawatan pasien tidak terlalu parah, sehingga BOR-nya baru 4 persen,” sebut drg. Retnowati.

Khusus untuk RSUD S. K. Lerik, ruangan khusus untuk perawattan pasien Covid-19 sebanyak 26 ruang dengan 44 tempat tidur. Saat ini terpakai 12 tempat tidur (BOR 46,15 persen). Sementara ruangan ICU terdapat 21 unit, namun saat ini tidak ada pasien korona yang dirawat di ruang tersebut.

“Jadi kalau melihat pada data, maka penatalaksanaan pasien di rumah sakit S. K. Lerik sangat bagus, karena sebagian besar pasien tidak mengarah ke ICU,” ucapnya.

BACA JUGA: Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19, RSUD S. K. Lerik Siap 44 Tempat Tidur

Selain itu, kata drg. Retnowati, untuk RSUD Prof. Dr. W. Z Johannes Kupang, terdapat empat tempat tidur di ruang ICU. Yang terpakai saat ini 1 ruangan, sehingga BOR-nya 25 persen. “Ini data yang dihimpun pada Minggu (27/6) lalu, dan akan di-update setiap minggu,” bebernya.

Retnowati menyebutkan, semua rumah sakit di Kota Kupang selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang terkait penambahan dan pengurangan pasien serta jumlah tempat tidur yang tersedia di rumah sakit.

Menurut ilmu epidemiologi, kata drg. Retno, jumlah kasus itu boleh saja banyak, tetapi jangan sampai ada korban yang meninggal. Artinya pengendalian kasusnya dan pengobatan kasusnya masih baik. “Yang menjadi persoalan saat ini adalah bagaimana masyarakat taat prokes, dan cegah transmisi lokal. Budaya kerumunan, pesta dan berkumpul banyak orang, untuk saat ini harus dihentikan dulu,” harap drg. Retno.

Sementara, Direktur RSUD S. K. Lerik, dr. Marsiana Halek mengatakan, saat ini RSUD S. K. Lerik sedang merawat 11 pasien Covid-19. Selama bulan Juni 2021, ada 25 pasien yang dirawat. Jika dibanding dengan data sebelum, saat ini terjadi peningkatan 16 kasus, dan saat ini sedang dalam penanganan tim medis.

“Saat ini sangat dibutuhkan peranan masyarakat sebagai garda terdepan penanggulangan Covid-19. Kesadaran dalam menjalankan prokes telah menjadi suatu keharusan. Para tenaga medis yang ada, baik di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya sangat menaruh harapan kepada kesadaran masyarakat saat ini,” kata Marsiana.

“Yang selalu kami khawatirkan adalah apabila terjadi lonjakan tinggi atas kasus Covid-19, maka seluruh fasilitas layanan yang tersedia sebanyak apapun, tetap tidak akan bisa mencukupi,” tambahnya.

Selain itu lonjakan yang tinggi juga akan berpengaruh terhadap ketahanan para medis dalam pelayanan dan rentan meningkatkan risiko bagi tenaga medis itu sendiri. “Tentu hal ini (Peningkatan kasus, Red) tidak kita inginkan bersama. Karena itu mari kita bersama melawan pandemi dengan patuh terhadap prokes, aktif mengigatkan mereka yang belum patuh serta jaga pola hidup sehat,” tandas drg. Retnowati. (mg25)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top