Dorong Industri Pariwisata Matim, Disbudpar Lakukan Pelatihan Digitalisasi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dorong Industri Pariwisata Matim, Disbudpar Lakukan Pelatihan Digitalisasi


Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Matim, Wihelmus Deo didampingi Sekertaris Disbudpar Matim, Albertus Rangkak, saat pembukaan kegiatan pelatihan di Hotel Gloria Borong, Selasa (29/6). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Dorong Industri Pariwisata Matim, Disbudpar Lakukan Pelatihan Digitalisasi


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten Rote Ndao terus berupaya mendorong kemajuan industri pariwisata di wilayah itu. Salah satunya dengan menggelar pelatihan digitalisasi yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Matim di Hotel Gloria, Toka, Desa Naga Labang, Kecamatan Borong, Selasa (29/6).

Pelatihanan digitalisai itu meliputi proses branding, pemasaran, dan penjualan pada desa wisata, homestay, kuliner, sovenir, serta fotografi. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, sejak 29 Juni hingga 1 Juli 2021.

Asisten Bidang Ekonomi, dan Pembangunan Setda Matim, Wihelmus Deo saat membacakan sambutan Bupati ketika kegiatan itu menyebutkan, pelatihan ini merupakan salah satu program Disbudpar dalam mendukung visi-misi Pemkab Matim, yakni menciptakan masyarakat Matim yang sejahtera, berdaya dan berbudaya (Matim SEBER).

Hal itu, lanjut Wihelmus Deo, dijabarkan dalam misi kedua, yakni mengembangkan ekonomi unggulan berbasis pertanian organik, pariwisata berbasis komunitas, industri kecil, koperasi, usaha mikro dan kecil dan menengah (UMKM).

“Visi-misi ini tentu tidak sebatas harapan, namun membutuhkan aksi nyata. Dengan hasil yang nyata pula, yang bisa diukur dan dinikmati langsung hasilnya oleh warga masyarakat Matim. Lebih istimewa lagi masyarakat dan pelaku usaha ekonomi di sekitar daerah pariwisata,” kata Wihelmus dalam acara yang juga dihadiri Sekertaris Disbudpar, Albertus Rangkak, sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemkab Matim, dan staf Disbudpar. Hadir pula dua narasumber berkompeten, yakni Leonardus Nyoman dan Petrus K. Advendatus Lahur.

Wihelmus percaya bahwa kegiatan itu berangkat dari suatu kesadaran dan harapan bahwa potensi pariwisata yang ada di Matim merupakan aset ekonomi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan belum dikemas secara baik.

“Disadari bahwa tugas ini tidaklah mudah. Namun saya percaya potensi dinas teknis untuk melakukan terobosan yang lebih efektif. Terobosan ini haruslah berbentuk kegiatan pendampingan praktis yang mudah dipahami oleh peserta dan pelaku-pelaku usaha di desa wisata,” harapnya.

Dengan demikian, kata Wihelmus, hasilnya setiap pelaku usaha wisata dapat langsung mengimplementasikan segala bentuk pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari kegiatan ini. Dirinya juga percaya bahwa tujuan pelatihan digitalisasi ini bisa membawa dampak positif karena narasumbernya memiliki kompetensi di bidang digital.

Pelatihan ini, demikian Wihelmus, memuat nilai-nilai positif untuk mendukung, membina, dan meningkatkan kecerdasan digital agar tercipta SDM Matim unggul dan berada bersama juga sejajar dengan daerah lain.

“Keberadaan Disbudpar Matim haruslah mendorong dan memotivasi masyarakat. Lebih khusus pelaku usaha di destinasi wisata untuk tetap berinovasi mewujudkan SDM Matim unggul dan tetap eksis dari waktu ke waktu,” bilang Wihelmus.

Sementara Kepala Bidang Pengembangan Sumberdaya dan Ekonomi Disbudpar sekaligus Ketua Pantia, Yohanes Rosari Su menjelaskan bahwa pelatihan itu bermaksud mendukung proses pembinaan, pengembangan, dan peningkatan Tata Kelola Destinasi Pariwisata (TKDP).

Kegiatan ini, kata Yohanes, diikuti oleh peserta sebanyak 40 orang. Mereka merupakan utusan masing-masing kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dari desa wisata, pemerintah desa (Pemdes) calon desa wisata, pelaku usaha pariwisata, dan komunitas ekonomi kreatif.

Yohanes berharap pelatihan ini akan tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang up to date progress,  untuk diarahkan pada pemerolehan keterampilan dan pengetahuan serta aplikasinya. Selain itu tujuannya, meningkatkan jumlah kunjungan wisata di obyek dan daya tarik wisata (ODTW).

Tujuan lainnya, lanjut Yohanes, meningkatkan pengetahuan digital marketing dalam promosi dan penjualan desa wisata, homestay, dan souvenir bagi pelaku pariwisata dan masyarakat sekitar ODTW. Meningkatkan SDM terutama yang berkaitan dengan digital marketing bagi pelaku pariwisata dan masyarakat sekitar ODTW.

Masih menurut Yohanes, pelatihan itu juga untuk meningkatkan promosi dan penjualan paket-paket pariwisata berupa desa wisata, homestay, dan souvenir secara digital. Mudah diakses oleh calon wisatawan secara cepat dan tepat waktu. Meningkatkan pelayanan kepada wisatawan serta meningkatkan pendapatan masyarakat dan penerimaan daerah melalui PAD. “Pecepatan pertukaran informasi saat ini terjadi karena sistem digitalisasi, yakni suatu perubahan penyampaian informasi dari system cetak ke sistem digital,” jelas Yohanes.

Yohanes menambahkan, industri pariwisata merupakan salah satu industri yang sangat memungkinkan memanfaatkan aplikasi digital melalui jaringan internet. Sistem ini sangat membantu pelaku pariwisata dalam promosi dan pemasaran paket-paket pariwisata. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top