Solusi Cerdas Bank NTT pada Masa Pandemi Covid-19 dan Menyongsong Masa New Normal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Solusi Cerdas Bank NTT pada Masa Pandemi Covid-19 dan Menyongsong Masa New Normal


Pimpinan dan karyawan Bank NTT Cabang Borong. (FOTO: ISTIMEWA)

BISNIS

Solusi Cerdas Bank NTT pada Masa Pandemi Covid-19 dan Menyongsong Masa New Normal


Semua orang pasti menginginkan hidup sehat. Termasuk di masa pandemi Covid-19. Masing-masing berusaha melindungi diri dari serangan virus mematikan ini. Sejak pandemi ini terjadi, banyak aktifitas masyarakat dibatasi. Dampaknya terasa di segala sektor. Tidak terkecuali, sektor ekonomi. Lalu bagaimana peran lembaga keuangan, misalnya Bank NTT?

Fransiskus Runggat, Borong

Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan sebutan Covid-19 telah menjadi ancaman global. Virus ini menjadi wabah yang begitu menakutkan. Mengancam kesehatan dan kelangsungan kehidupan manusia. Sungguh, menyita perhatian dunia.

Bukan hanya kesehatan manusia yang terancam. Penularan Covid-19 telah berdampak terhadap sektor perekonomian. Lebih besar disebabkan kontak antarorang dari mereka yang terkonfirmasi positif. Bahkan melalui droplet yang terpercik dari mereka yang terpapar.

Karena itu mengharuskan setiap orang wajib mematuhi protokol kesehatan (Prokes). Misalnya harus menjaga jarak, memakai masker, menghindari kerumunan, mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, dan mengurangi mobilisasi. Pemerintah, baik dari pusat hingga daerah bahkan RT/RW mewajibkan seluruh warga mematuhi aturan penerapan prokes ini.

Hal tersebut merupakan upaya atau langkah memutus rantai penyebaran virus korona. Warga di wilayah zona merah harus tinggal di rumah. Melakukan pekerjaan dari rumah. Aktifitas di luar rumah, hanya untuk urusan penting. Begitu juga kegiatan di sekolah, tempat belanja, dan tempat hiburan, bahkan ada kantor atau tempat kerja ditutup. Termasuk kegiatan keagamaan.

Keputusan ini seperti makan buah simalakama. Tidak dibuat, angka tertular baru pasti melonjak. Satu sisi, berdampak terhadap ekonomi di semua kalangan masyarakat. Nyaris seluruh sektor usaha lumpuh. Termasuk Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM). Dampaknya tidak kecil.

Covid-19 yang cepat menyebar membuat orang tidak bisa leluasa mencari nafkah. Apalagi beban biaya hidup dalam keluarga, tinggi. Bagi petani, untuk bisa bertahan hidup, mereka tetap ke kebun, sawah, dan usaha ternak. Kadang mereka mempunyai cara lain. Agar bisa berhemat, kadang konsumi makanan dari beras ke pangan lokal.

Supaya mendapat uang, terpaksa harus ke kota atau daerah sekitar yang mendukung pergerakan roda ekonomi. Menjual hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan di pasar atau ke pengusaha. Hal yang sama juga bagi para nelayan. Malam hari melaut. Pagi hari, hasil tangkapan tetap dijual di pasar atau jualan keliling. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Semua upaya ini semata-mata untuk menggerakkan ekonomi keluarga. Ekonomi keluarga harus tetap hidup.

Sebagian rezeki, uang yang diperolah dari hasil jualan, mereka memanfaatkan lembaga keuangan yang ada. Seperti di Bank NTT, dengan menabung. Maka disini, pergumulan hidup masyarakat akan terasa sedikit sulit. Pemerintah memang sudah memberi solusi. Seperti bantuan langsung tunai (BLT).

Tapi sepertinya, belum menjawab. Apalagi belum tahu, sampai kapan wabah ini berakhir. Pemerintah pun telah mengeluarkan kebijakan dengan memberlakukan kebiasaan hidup baru (new normal). Namun, disini aktiftas tetap dibatasi dengan ketat menerapkan protokol kesehatan. Semua harus disiplin dengan protokol kesehatan.

Solusi Cerdas Bank NTT

Bank, salah satu lembaga yang berperan penting memastikan kondisi ekonomi dalam keadaan stabil selama pandemi Covid-19 dan pada fase kenormalan. Sebut saja Bank NTT Cabang Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Selama masa pandemi Covid-19, pelayanan kepada nasabah tetap berjalan tapi dengan ketat menerapkan protokol kesehatan. Kehadiran nasabah, dibatasi. Tempat duduk diatur jarak. Semua wajib bermasker. Tersedia tempat cuci tangan. Pegawai yang bertugas, dipastikan dalam kondisi sehat. Selalu dites swab antigen.

Saat masyarakat tengah berjuang untuk selalu sehat dan bertahan hidup di masa pandemi dan new normal, Bank NTT Cabang Borong, ikut ambil bagian bersama pemerintah setempat. Misalnya dalam hal memperkuat jaringan pengaman sosial bagi masyarakat terdampak pandemi.

Bank milik masyarakat NTT ini menjadi lembaga penyaluran BLT ke masyarakat. Demi menghindari kerumunan, petugas Bank NTT datang langsung ke desa dan menyalurkan bantuan tersebut. Hal itu dilakukan secara terjadwal sembari memberi sosialisasi kepada masyarakat.

Edukasi tentang pentinganya pecegahan penyebaran Covid-19, dengan disiplin protokol kesehatan. Juga pengenalan produk Bank NTT yang bisa dimanfaatkan pada masa pandemi era new normal. Disamping itu, Bank NTT berkontribusi melalui pemberian bantuan sembako dan masker bagi warga terdampak Covid-19.

Solusi lain dari Bank NTT, memberikan restrukturisasi kredit dan pendampingan kepada nasabah. Kepada masyarakat dan pelaku UMKM, diberi suport modal tanpa bunga. Salah satu program yang sangat membantu masyarakat ini, yakni Kredit Merdeka. Tidak sebatas memberikan modal, tapi aktif memberikan pendampingan kepada penerima modal.

Bentuknya beragam. Salah satunya juga mendigitaliasi segmen usaha, biar bisa hidup. Khusus untuk petani kopi Desa Colol, Kecamatan Lamba Leda Timur, Bank NTT hadir membantu pengembangan potensi ekonomi di wilayah tersebut. Menjadikan kopi dari lembah Colol yang sudah mendunia ini makin dikenal dan dicintai penikmatnya.

Tentu untuk mendongkrak ekonomi petaninya, Bank NTT tidak saja mebantu modal untuk memutus praktik renternir. Tapi Bank NTT juga mendorong petaninya dengan memperkuat kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Bank Bank NTT membina dan menjadikan lembaga ini sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat.

Mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Desa Colol, merupakan salah satu solusi yang ditempuh Bank NTT. Tujuannya agar permasalahan yang dihadapi para petani kopi di masa pandemi, dapat diatasi. Bank NTT hadir dengan solusi cerdas membantu mengurai kesulitan dalam menjual produk kopi. Hingga faktor pembiayaan. Atas peran Bank NTT itu, BUMDes Poco Nembu-Colol, kini menjadi off taker (pembeli barang) produk pertanian masyarakat setempat.

Hasil kopi dari petani, dibeli dan dipasarkan oleh BUMDes. Bank NTT hadir di sini sebagai pemberi modal untuk membeli mesin pengolah dan kemasan kopi. Apalagi hasil olahan kopi Colol ini, telah memiliki QR Code untuk dipasarkan secara online. Pihak Bank NTT juga turut andil membantu memasarkan prodak kopi Colol.

Berkat inovasi ini, kegiatan ekonomi di Desa Colol tetap bergairah di masa pandemi. Ada juga sejumlah solusi cerdas dari Bank NTT Cabang Borong pada masa pandemi dan menyongsong masa new normal. Muaranya, untuk ekonomi masyarakat hidup, dan meminimalisir penyebaran Covid-19.

Sebut saja, para debitur diberi dan dilengkapi dengan produk Bank NTT. Seperti Electronic Data Capture atau disingkat EDC, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), dan mobile banking. Masyarakat juga diedukasi, untuk melakukan transaksi secara non tunai.

Tidak hanya untuk transanksi dengan bank, tapi juga untuk aktifitas belanja, bisa dengan ATM dan mobile banking. Pihak Bank NTT juga membuka agen Lakupandai di sejumlah titik di Kabupaten Matim. Dengan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) juga pemerintah kecamatan, sudah menerapkan sistem transaksi private.

Disini setiap instansi, melakukan transaksi sendiri kepada pihak ke tiga. Tanpa melalui bank. Secara non tunai. Pihak Bank NTT, hanya menyiapkan aplikasi yang namanya Content Management System (CMS). Termasuk dalam hal penerapan pembayaran pajak dan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) secara online.

Masa new normal, layanan pembayaran rekening air, tidak lagi harus mengantri di loket pembayaran Badan Layanan Umum Daerah Sistem Penyediaan Air Minum (BLUD SPAM). Sekarang pelanggan, dengan sangat mudah dan aman. Cukup pakai Handphone (HP) dengan menggunakan prodak Bank NTT, yakni mobile banking.

Bank NTT juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga agama. Sebut saja dengan gereja katolik, Bank NTT menyediakan prodaknya, agar umat bisa menyalurkan tradisi persembahan atau kolekte secara online ke rekening gereja. Karena pada masa pandemi, tidak ada kegiatan misa atau ibadah di gereja.

Umat diminta untuk berdoa dari rumah. Sehingga, walau pun berdoa di rumah, Bank NTT mengaktifkan kolekte secara online. Termasuk dukungan untuk pembangunan fisik gereja dan masjid. Dimana bantuan itu, tidak lagi dalam bentuk uang kontan atau cek. Tapi bisa dilakukan atau dikirimkan secara online ke rekening gereja dan masjid.

“Itu semua solusi dari Bank NTT,  membantu usaha ekonomi masyarakat di masa pandemi Covid-19 dan era new normal. Bank mendorong masyarakat untuk mengurangi tatap muka, serta pembatasan sosial, dengan aktifitas bersifat digital,” ujar Pemimpin Bank NTT Cabang Borong, Nurchalis Tahir, kepada media ini saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (18/6/21).

Nurchalis mengaku, di masa pandemi covid-19 dan era new normal, pemanfaatan transaksi digital di Bank NTT Cabang Borong meningkat. Salah satunya, transaksi digital mobile banking. Sesuai data per Mei 2021, kata Nurchalis, pengguna mobile banking di Bank NTT Cabang Borong berjumlah 1.414 orang.

Sementara merchant QRIS sebanyak 43, merchant EDC ada 4, agen Lakupandai (EDC) ada 16 titik. Sementara pengguna ATM di Bank NTT Cabang Borong dan Cabang Pembantu, jumlahnya mencapai 8.129. Sementara jumlah nasabah tabungan sebanyak 51.397 dan nasabah kredit sebanyak 3.207.

“Pada masa new normal ini, dalam memberi pelayanan, kami memastikan semua protokol pencegahan dijalankan dengan patuh. Selama pandemi kami melihat pertumbuhan penggunaan mobile banking dan transaksi elektronik lainya tinggi dibandingkan kondisi biasa,” ungkap Nurchalis.

Sementara salah satu pengguna mobile banking Bank NTT Cabang Borong, Fransiskus Yun Aga, yang ditemui TIMEX mengaku, uang tunai itu salah satu benda yang paling sering berpindah tangan. Rentan membawa atau menyebarkan penyakit. Termasuk virus korona. Sehingga dirinya memilih memanfaatkan aplikasi transaksi digital mobile banking di handphone (HP) miliknya.

“Layanan digital Bank NTT ini sangat membantu saya salam masa pandemi Covid-19. Apalagi sudah terkoneksi dengan sistem pembayaran kode QRIS. Sehingga, mau belaja atau bayar apa saja, bisa lewat HP. Tidak perlu pakai uang tunai. Kita juga tidak kontak fisik dengan orang. Sehingga mudah dan aman tidak akan terpapar virus,” ungkap Fransiskus.

Menurut dia, pada hari libur atau kapan saja, mobile banking sangat membantu. Apalagi saat ini, hampir seluruh tempat jualan, warung atau kantin, dan tempat belanja lainya, sudah menggunakan code Qris. Fransiskus mengatakan, mobile banking, juga bisa digunakan untuk belanja online berupa barang dan jasa.

“Kalau saya mau belanja minuman atau makanan, tinggal scan saja barkot atau code QRIS yang tersedia. Itu pasti langsung terbayar. Kita tidak perlu pakai tunai. Kalau belanja online berupa jasa pelatihan atau seminar, saya biasa pakai mobile banking. Kita bisa lakukan malam hari atau kapan saja, dengan gunakan HP,” katanya.

Bahkan kata Fransiskus, saat belanja barang di kios atau toko, tidak perlu repot untuk menerima uang kembalian dengan nilai pecahan 100 atau 500 rupiah. Kembalian itu juga tidak dipaksakan oleh kasir untuk ditukar dengan permen. Tapi oleh sistem, uang kembalian itu tetap masuk ke rekening Bank.

“Mobile banking, mudah mengatur keuangan. Setiap transaksi, pasti terekam. Histori keuangan tercatat dengan rapi. Sambil bekerja, kita bisa lakukan transaksi. Tanpa harus ke Bank. Kapan saja waktunya. Sehingga aman,” tutur Fransiskus. (*)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top