Covid-19 dan Fenomenanya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Covid-19 dan Fenomenanya


Dony M. Sihotang. (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Covid-19 dan Fenomenanya


Oleh: Dony M Sihotang *)

Masa pandemi dan ledakan kasus Covid-19 “memaksa” cukup banyak warga harus menjalani isolasi mandiri di rumah mereka. Selain itu, masa pandemi serta ledakan ini berdampak pula pada pihak rumah sakit yang mendapat kesan “meng-covid-kan pasien/jenazah”. Saya ingin berbagi tiga pengalaman yang saya alami ketika terlibat dalam urusan Covid-19.

Pengalaman pertama ketika saya dan istri membantu seorang keponakan kami yang terpapar Covid-19 pada November 2020. Saat mengambil hasil PCR di salah satu rumah sakit (RS), keponakan kami dinyatakan positif Covid-19, dan hasil resminya bisa diambil saat konsultasi dengan dokter.

Keponakan pun langsung mengantri untuk bertemu dokter. Antriannya cukup lama, mulai jam 08.00 WIB dan akhirnya bisa bertemu dokter pada jam 17.00 WIB. Dokter memberi pilihan apakah mau isolasi mandiri (isoman) di rumah (kost) atau di fasilitas yang disediakan pemerintah daerah.

Saat itu keponakan memilih untuk isoman di kost dan dia segera pulang membawa obat dari RS. Namun setelah kami coba mendiskusikan bersama keponakan melalui telepon terkait fasilitas kamar, kamar mandi, jumlah penghuni, dan kondisi di kost tersebut, akhirnya kami mengambil kesimpulan bersama bahwa isoman di kost bukan pilihan yang baik. Sangat tidak nyaman karena akan mengganggu dan membuat penghuni kost lainnya ketakutan.

Ini didukung lagi dengan fasilitas dapur dan kamar mandi yang digunakan bersama tentu tidak akan mendukung proses kesembuhannya secara cepat. Karena itu kami tidak mengharapkan dia untuk isoman di kost. Kami pun segera menghubungi Satgas Covid-19 Yogyakarta dan mendapat respon yang sangat baik.

Data keponakan sebagai pasien Covid-19 diminta oleh mereka via WhatsApp (WA) dan pasien kemudian dikontak untuk diberikan arahan. Awalnya kami khawatir, jika memberitahu pihak Satgas Covid-19, maka pasien akan dijemput di tempat tinggalnya. Ini akan membuat seluruh penghuni kost kaget dan dia bakalan dikucilkan. Namun, pihak Satgas Covid sungguh memahami hal ini, dan meminta agar keponakan segera ke puskesmas terdekat.

Koordinasi yang baik antara Satgas Covid-19 dan pihak puskesmas akhirnya membawa keponakan ke tempat isolasi mandiri yang disediakan pemerintah daerah menggunakan ambulance. Dia menjalani 10 hari masa isolasi di tempat isoman yang disiapkan dengan fasilitas penunjang yang sangat baik. Kamar dengan kapasitas satu orang, memiliki kamar mandi sendiri, makan, minum, obat-obatan, serta pengawasan dari tenaga kesehatan (nakes) membuat keponakan dapat menjalani masa isoman dengan baik. Setelah 10 hari, dia dinyatakan bisa keluar dari tempat isoman untuk kembali ke kost dan melanjutkan isoman sampai 4 hari ke depan.

Berbeda dengan apa yang dialami keponakan, pengalaman kedua saya yaitu saat membantu menyuplai obat-obatan dan vitamin untuk kerabat bersama keluarganya yang terpapar Covid-19. Tepatnya Juni 2021, ada seorang kerabat menginformasikan ke saya bahwa dia bersama empat orang anggota keluarganya terpapar Covid-19. Bahkann dua diantara anggota keluarga itu tergolong lanjut usia (Lansia).

Berawal dari adanya beberapa warga yang tinggal berdekatan dengan mereka dinyatakan positif Covid-19, maka atas arahan Pak RW, mereka pun melakukan swab antigen. Ini bertujuan untuk memudahkan proses pelacakan siapa saja yang telah terpapar pada wilayah tersebut.

Hasil swab dari salah satu RS menunjukkan bahwa seluruh anggota keluarga dinyatakan positif Covid-19. Petugas hanya memberikan hasil dan selanjutnya tidak ada arahan apapun. Mereka memutuskan kembali ke rumah dan melaporkan hasil test pada Ketua RW setempat. Berdasarkan hasil tersebut, Ketua RW meminta keluarga ini melakukan isoman di rumah dan tidak diperkenankan keluar rumah.

Hari kedua isoman, saya menawarkan diri untuk membantu menyuplai kebutuhan mereka. Ternyata, lingkungan tingkat RT di tempat kerabat itu sangat memberi dukungan dengan menyuplai bahan makanan dan kebutuhan keseharian mereka. Sehingga, kerabat itu mengatakan untuk tidak perlu khawatir dengan suplai makanan. Namun, kebutuhan akan obat menjadi kendala. Ini yang membuat kerabat itu menghubungi kami (Saya dan istri) untuk menanyakan terkait obat yang harus di konsumsi.

Kebetulan istri saya seorang apoteker namun tidak praktik. Istri saya pun mencoba mendapatkan informasi dari sesama rekan apoteker yang bekerja pada salah satu RS di Jawa Tengah. Setelah beberapa nama obat dan vitamin disampaikan, teman apotekernya menyarankan untuk berkonsultasi dan mendapatkan resep melalui dokter, karena obat-obat tersebut merupakan obat keras. Kecuali paracetamol dan vitamin yang bisa diperoleh dengan bebas di apotek.

Dengan menggunakan layanan telemedicine dari salah satu apotek yang menyediakan konsultasi dokter jaga, dan tetap dipandu oleh salah satu teman apoteker, maka obat bisa didapatkan melalui layanan konsultasi dokter. Dari layanan tersebut, diresepkan obat antibiotik, antivirus, penurun demam, dan obat batuk untuk penggunaan selama isoman.

Obat tersebut ditebus di apotek dengan harga yang terbilang mahal selain vitamin-vitamin yang dianjurkan dan langsung diantar ke pasien. Kami cukup tercengang mendengar jumlah biaya yang harus dibayarkan. Namun menurut informasi dari istri saya, harga yang dibayar masih termasuk wajar, karena masih masuk sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang tercantum.

Wah saya orang awam memang sangat sulit mencerna apalagi ini harga eceran tertinggi. Tetapi bukan itu yang saat ini akan saya refleksikan. Harga obat tersebut terbilang mahal dan itu tidak terasa pada kasus keponakan (pengalaman pertama) yang mendapat obat dari fasilitas jaminan kesehatan pemerintah.

Inilah yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana dengan mereka yang diminta isoman di rumah dan tidak mampu membeli obat serta tidak punya pengetahuan terkait penggunaan fasilitas telemedicine untuk memperoleh obat yang dibutuhkan. Belum lagi dengan fasilitas isoman di rumah sendiri yang tidak memenuhi syarat? Dan langkah-langkah apa yang harus mereka ambil apabila ada situasi emegency yang tidak diinginkan?

Yang menjadi pertanyaan saya, sejauh mana peran Satgas Covid-19 pada masyarakat yang melakukan isoman di rumah? Apa yang telah dibekali pada pasien Covid-19 terkait isoman di rumah? Bagaimana dengan obat-obat dan vitamin yang harus dikonsumsi? Makanan yang harus dimakan, dan kegiatan selama isoman yang dapat mendukung proses penyembuhan. Adakah catatan atau pemantauan rutin yang dilakukan Satgas Covid-19 selama isoman di rumah walau hanya lewat telepon?

Bekal apa yang disampaikan ke pasien atau pendamping apabila mereka mengalami kondisi darurat seperti sulit bernapas? Suatu malam, kami dihubungi istri dari kerabat saya itu. Dia mengeluh karena suaminya (kerabat) mengalami sesak napas. Kami pun menyuplai oximeter agar bisa dipantau saturasinya. Sampai tulisan ini dibuat (5/7/2021), kerabat saya bersama keluarga masih berjuang untuk sembuh dari Covid-19.

Cerita pengalaman ketiga saya, pada 2 Juli 2021, pagi hari, kami mendapat berita duka melalui grup WA lingkungan bahwa bapak di depan rumah kontrakan kami meninggal akibat serangan jantung. Malam sebelumnya, sekitar pukul 21.30 WIB, kami mendengar suara mobil di depan rumah kami keluar dari garasi dan pergi dengan terburu-buru.

Ternyata saat itu, istri dari bapak itu sedang berusaha melarikannya ke salah satu IGD di RS Yogyakarta. Awalnya bapak mengeluh tangan kirinya tidak nyaman dan kesemutan. Hasil tensi yang dilakukan ibu sebelum pergi ke IGD mencapai 210/115. Ibu berupaya membawa bapak ke IGD RS. Setelah tiba di IGD, pasien tidak dapat langsung dilayani karena kondisi IGD yang penuh dan tenaga kesehatan harus melaksanakan sesuai protokol kesehatan (Prokes). Tetapi keponakan ibu memohon dan memberitahukan kalau om nya seperti terkena serangan jantung dan butuh pertolongan cepat.

Petugas akhirnya segera menolong, memindahkan bapak ke ruang non infeksius. Proses swab antigen dilakukan dan segera diketahui hasilnya negatif. Selanjutnya pihak RS mengambil tindakan untuk menolong bapak dengan prosedur penanganan pasien jantung. Sembari itu pun bapak di-swab untuk dilanjutkan uji PCR (yang kemudian diketahui hasilnya negatif). Namun Tuhan berkehendak lain. Dalam persiapan dipindahkan ke ICU, bapak itu menghembuskan nafas terakhir dengan diagnosa saat itu ada pendaharan di otak berdasarkan hasil foto kepala dan serangan jantung.

Setelah menunggu, jenazah bapak dibersihkan di IGD, diberi kesempatan untuk menggantikan pakaiannya dan istri serta keponakan untuk melihat terakhir kali. Kemudian ibu diinfokan bahwa akan dimakamkan dengan prosedur Covid-19 karena saat ini sedang genting dengan naiknya kasus Covid-19, dan demi keamanan semua pihak.

Keluarga menyetujui dan akhirnya jenazah bapak dibungkus rapi dan dimasukkan ke peti sesuai prokes penanganan jenazah pasien Covid-19. RS mengeluarkan surat keterangan kematian yang menunjukan status bapak adalah PROBABLE. Dalam surat ini, ada keterangan bahwa selama masa pandemi, semua jenazah dari IGD akan diberlakukan prokes Covid-19 karena dianggap suspek Covid-19.

Saya coba merefleksikan tiga pengalaman itu. Dari pengalaman pertama, memang lebih baik untuk orang yang terpapar Covid-19 dapat isoman di fasilitas-fasilitas yang disediakan pemerintah daerah. Namun, kondisi saat ini tidak memungkinkan karena ledakan angka Covid-19 yang begitu besar sehingga semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan daerah penuh. Dalam situasi seperti sekarang (Angka kasus Covid-19 tinggi), langkah isoman di rumah banyak diambil orang saat mengetahui bahwa dirinya positif Covid-19.

Pengalaman kedua saya menggambarkan perlunya dukungan warga paling tidak setingkat RT. Dukungan itu tidak cukup dengan hanya menyuplai bahan makanan tetapi juga kebutuhan lainnya seperti desinfektan untuk rumah dan kamar mandi yang digunakan bersama.

Ada juga hal penting lainnya yaitu bagaimana dengan kebutuhan obat-obatannya dan juga alat kesehatan (Alkes) yang harus tersedia. Ini membutuhkan koordinasi RT, lurah, Satgas Covid-19, dan pihak puskesmas setempat. RT dan lurah diharapkan dapat menghubungkan komunikasi antara pasien Covid-19 dengan Satgas Covid-19 maupun pihak puskesmas untuk memenuhi kebutuhan medis mereka.

Selain itu, pasien juga perlu dibekali panduan menjalani isoman di rumah. Akhir-akhir ini saya melihat di media sosial, ada panduan isoman di rumah yang diterbitkan pemerintah. Namun, panduan itu harus didistribusikan hingga level RT agar tersampaikan dengan tepat. Pengetahuan untuk menggunakan telemedicine juga harus dimiliki pasien Covid-19 yang melakukan isoman. Paling tidak, pengetahuan itu harus dimiliki oleh orang dipercaya mengurus pasien tersebut.

Dari informasi yang saya peroleh, saat ini pemerintah telah menyediakan 11 jasa telemedecine gratis. Namun, pengetahuan untuk menggunakan tools tersebut haruslah dimiliki. Penelitian  untuk mengetahui model adopsi telemedecine dari perspektif warga agar implementasinya dapat berhasil pun sangat diharapkan.

Dalam kasus yang berbeda namun masih dalam konteks masa pandemi, pengalaman ketiga saya menjawab hal yang pernah menghebohkan  yaitu “meng-covid-kan jenazah” oleh rumah sakit. Surat yang menyatakan status “PROBABLE” jelas tertulis bahwa selama masa pandemi semua jenazah dari IGD adalah suspek Covid-19.

Dengan surat ini, pihak RS menyerahkan urusan pemakaman ke pihak Satgas Covid-19 pemerintah daerah. Umumnya, urusan ini  ditugaskan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Ternyata, status “PROBABLE” ini memberi cukup banyak konsekuensi juga. Pertama, jenazah harus segera di makamkan paling lama 4 jam setelah meninggal. Bagi keyakinan agama tertentu, jenazah biasanya disemayamkan paling tidak dua malam sambil menunggu anggota keuarga lainnya agar dapat bersama memakamkan jenazah. Kedua, prosesi keagamaan tidak dapat dilakukan dengan penuh.

Ketiga, butuh waktu yang cukup lama sampai pihak BPBD mengambil jenazah di IGD rumah sakit dan mengantar ke lahan pemakaman. Ini disebabkan karena tim pemakaman BPBD harus mengurusi jenazah lainnya. Apalagi di masa ledakan angka kasus Covid-19 yang tinggi. Pengalaman saya saat itu, kami menunggu jenazah di pemakaman dari pukul 10 pagi sampai 11 malam. Namun, semua itu dijalani pihak keluarga yang berduka, demi keselamatan semua pihak. (*)

Dari refleksi ini, saya pun membuat potret penanganan Covid-19, khususnya isoman di rumah. Potret ini masih jauh dari sempurna, sehingga dibutuhkan banyak masukan agar bisa memberi potret secara lebih holistik dalam menjalani isoman di rumah:

*) Dosen Ilmu Komputer FST Universitas Nusa Cendana

*) Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komputer Fasilkom Universitas Indonesia

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top