Sancho Soares Marques, Petani Milenial Asal Kupang Berhasil Kembangkan Hortikultura di Lahan Kering | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sancho Soares Marques, Petani Milenial Asal Kupang Berhasil Kembangkan Hortikultura di Lahan Kering


PETANI MILENIAL. Sancho Soares Marques, petani MILENIAL yang sukses kembangkan tanaman hortikultura di lahan kering Oebelo. (FOTO: DOK. SMK PP NEG. KUPANG)

PENDIDIKAN

Sancho Soares Marques, Petani Milenial Asal Kupang Berhasil Kembangkan Hortikultura di Lahan Kering


KUPANG – Potensi sektor hortikultura mempunyai peran yang cukup besar dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Untuk itu, pemerintah berupaya mengelola sektor pertanian khususnya hortikultura dengan baik guna menjadikan produk hortikultura Indonesia memiliki nilai dan daya saing yang tinggi.

Sancho Soares Marques, petani milenial asal Kabupaten Kupang, NTT Ini misalnya berhasil mengembangkan bisnis hortikultura di daerah kering dengan keadaan air yang tidak terlalu melimpah di lahannya di daerah Oebelo.

Sancho, begitu akrab disapa, menggunakan drip irrigation system atau sistem irigasi tetes untuk melakukan budidaya melon, tomat, semangka, dan cabai. Di dalam perubahan iklim sering disebutkan fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan di suatu wilayah dan fenomena La Nina yang menyebabkan hujan terus menerus di suatu wilayah.

Kejadian yang sering terjadi pada tahun El Nino adalah cekaman kekeringan yang kuat pada tanaman.

Pada kawasan hortikultura di Oebelo ini, adanya iklim ekstrim (El Nino maupun La Nina) tidak memengaruhi perilaku petani dalam menerapkan pola tanam, tetapi memengaruhi perilaku petani dalam menyelesaikan kebutuhan air pada pertanaman hortikultura.

Sistem irigasi tetes inilah yang dinilai paling cocok oleh Sancho untuk mengembangkan hortikultura di daerahnya.

Sancho mengatakan bahwa di dalam sistem usaha tani tanaman hortikultura, pola tanam dengan memperhitungan kebutuhan air belum banyak dilakukan.

“Petani sering gagal panen akibat tidak memperkirakan apakah air pada saat pembungaan masih tersedia atau tidak”, tuturnya.

Ditambahkannya di wilayah lahan kering, petani bahkan hanya mampu menanam komoditas hortikultura pada musim hujan dan pada musim kemarau menanam komoditas yang toleran kekeringan.

Pola tanam di kawasan hortikultura dipengaruhi oleh ketersediaan air di lapangan,baik itu curah hujan maupun sumber air yang lain.

Petani milenial yang sedang dicalonkan oleh SMK PP Negeri Kupang menjadi salah satu duta petani milenial asal NTT ini sendiri mengungkapkan bahwa rata-rata panen komoditas hortikultura di tempatnya sekitar 20 ton/ha dengan kisaran omzet Rp 50 juta.

“Selain berusaha sendiri, kami juga bekerja sama dengan PT Satria Harapan Timor. Selain itu kami juga melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti pengolahan pupuk bokashi, pestisida nabati, dan tentunta teknologi irigasi tetes,” imbuhnya sebagaimana dalam keterangan tertulis Humas SMK PP Negeri Kupang.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa masa depan pertanian ada di tangan petani milenial.

“Oleh sebab itu, Kementan terus menyiapkan petani-petani muda yang andal, salah satunya dengan mendukung petani-petani milenial di daerah seperti ini dengan fasilitas pertanian yang canggih pula,” katanya.

Sementara Kepala Badan PPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa milenial harus mampu melihat peluang sekecil apapun terutama dalam bidang pertanian sehingga pertanian itu sendiri akan maju.

Dedi juga menambahkan bahwa selain memanfaatkan peluang, petani mileniallah yang mampu mendongkrak produktivitas dan menjaga kualitas serta menjamin kontinuitas produknya lewat inovasi teknologi.

“Ada beberapa bisnis wirausaha di bidang pertanian yang memiliki potensi di era modern, seperti bisnis untuk varietas-varietas yang cuacanya banyak, ada ubi porang, hortikultura, sayuran dan juga buah buahan yang bisa diekspor,” imbuh Dedi. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top