Mengenal Rahel Nauk, Nenek 71 Tahun yang Aktif dalam Kegiatan Fisik TMMD Lekona | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Mengenal Rahel Nauk, Nenek 71 Tahun yang Aktif dalam Kegiatan Fisik TMMD Lekona


PARTISIPASI. Oma Rahel, seorang nenek di Desa Lekona turut mengambil bagian dalam kegiatan fisik, pembangunan saluran irigasi melalui program TMMD ke-111. (FOTO: Istimewa)

KABAR FLOBAMORATA

Mengenal Rahel Nauk, Nenek 71 Tahun yang Aktif dalam Kegiatan Fisik TMMD Lekona


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Usianya tak muda lagi. Tapi semangat kebersamaan semasa mudanya, masih terbawa hingga usia lanjutnya, yang kini menginjak 71 tahun.

Rahel Nauk, seorang nenek tua ini rela melibatkan diri dalam kegiatan fisik, program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-111 di Kabupaten Rote Ndao. Pada pekerjaan pembangunan saluran irigasi, di salah satu kompleks persawahan di Desa Lekona, Kecamatan Pantai Baru, Rahel Nauk, seolah tak memperdulikan usianya, yang kini sudah tak muda lagi.

Keterlibatan sosok yang akrab disapa Oma Rahel dalam kegiatan tersebut menarik perhatian warga lainnya. Dari semua orang yang terlibat bekerja, tak sedikit yang merasa iba, karena seharusnya dimasa tuanya kini, Nenek Rahel gunakan untuk beristirahat.

Namun tidak demikian bagi Oma Rahel. Oma Rahel masih punya semangat luar biasa, walau sudah lansia. Layaknya kaum lelaki, Oma Rahel, bersama warga lainnya bahu-membahu bekerja. Mereka bekerja membangun saluran irigasi, sepanjang 600 meter.

“Sudah dari dulu, kita sudah terbiasa kerja. Kerja perempuan dan laki-laki, kita kerja. Apalagi untuk pembangunan. Tua-muda, kecil dan besar, semua harus kerja, biar cepat selesai,” kata Oma Rahel dalam sebuah video kegiatan TMMD, yang diterima TIMEX, belum lama ini.

“Kami sangat senang, karena bersama tentara. Terlebih kompleks persawahan Dalesue. Sawah-sawah sudah bisa dapat air lebih baik, karena sudah ada saluran irigasi permanen,” tambah Oma Rahel.

Dalam video itu, Oma Rahel, terlihat mengenakan baju berwarna putih bercorak merah. Ditambah jaket berwarga oranye, untuk membungkus kulitnya yang keriput dari terik matahari.

Sedangkan sebuah topi, yang sering dipakai ‘coboy’, juga digunakan untuk menutup kepalanya. Sayangnya, rambutnya yang sudah beruban, tak bisa tertutup semuanya. Tetapi Oma Rahel, terus menunjukan semangatnya, dengan mengangkat batu, dengan tubuh sedikit membungkuk.

Satu per satu batu karang diangkatnya untuk dilanjutkan secara estafet. Begitulah Oma Rahel, berusaha dengan sisa tenaga yang masih dimiliki. Walau sedikit kesulitan, namun wanita lansia ini, tak ingin memperlihatkan.

Diketahui, video tersebut diambil pada Sabtu (26/6) lalu. Yang karena antusias warga saat mengestafet batu karang dengan membentuk barisan, sehingga seorang prajurit langsung mengabadikan momen tersebut.

Selain Oma Rahel, warga perempuan lainnya pun tak ketinggalan mengambil bagian. Kebanyakan masih berusia lebih muda dari Oma Rahel. Ada pula yang agak tua, tapi tak seumuran dengan Oma Rahel.

Mereka bekerja secara berkelompok, sesuai wilayah dusun. Kadang serentak untuk semua dusun, tetapi itu disesuaikan dengan tingkat kesulitan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga.

Begitulah sistem kerja yang dilakukan pada pelaksanaan pembangunan saluran irigasi di lokasi persawahan itu. Dimana, kesepakatanya dibuat melalui musyawarah bersama warga desa Lekona. Dengan koordinator kegiatanya adalah tim Satgas TMMD ke-111, yang merupakan prajurit TNI.

Berdasarkan informasi yang dihimpun TIMEX, Kamis (24/6) lalu, warga Desa Lekona sangat antusias untuk menyukseskan pengerjaan tersebut. Seolah tak mau ketinggalan dari kaum laki-laki, emak-emak pun menunjukan semangatnya, walau diguyur hujan. Dan mereka disatukan dalam semangat ‘Ita Esa’, yang merupakan simbol kesatuan masyarakat Rote Ndao.

“Iya, mereka (ibu-ibu) juga bantu kami, Satgas TMMD. Setiap harinya, kami dibantu angkat batu. Bahkan mereka juga bantu masak langsung di lokasi kegiatan,” kata Letda Inf. Yermias Ado.

Selain itu, untuk mengeratkan jalinan silahturahmi, melalui anggota Satgas TMMD ke-111, Kodim 1627/Rote Ndao, warga diberi ransum Eprokal. Ransum tersebut dibagi disaat waktu senggang, di kala mereka sedang beristirahat sejenak.

Kebersamaan itu semakin lengkap dengan canda gurau yang pecah sesekali. Pasalnya, ransum yang diterima warga merupakan yang pertama kali, sehingga dari kesan asing yang dirasakan, kemudian sedikit diplesetkan untuk memicu canda.

Suasana itulah yang terus membingkai mereka. Bahwa antara masyarakat dan TNI adalah sebuah keluarga. Yakni, keluarga besar sebagai bangsa Indonesia yang terus bersinergi untuk membangun negeri. (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top