Budidaya Porang, Petani Muda Manggarai Timur Raih Omzet Puluhan Juta | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Budidaya Porang, Petani Muda Manggarai Timur Raih Omzet Puluhan Juta


PETANI MILENIAL. Bonefasius Bedik bersama anggota kelompok taninya tengah mengembangkan budidaya tanaman porang. Petani milenial ini sukses meraih omzet puluhan juta dari kegiatan budidaya porang ini. (FOTO: DOK. SMK PP NEG. KUPANG)

PENDIDIKAN

Budidaya Porang, Petani Muda Manggarai Timur Raih Omzet Puluhan Juta


BORONG-Seorang petani milenial asal Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bonefasius Bedik sukses membudidayakan tanaman porang. Lewat usahanya ini, Bonefasius mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah.

Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan apresiasi untuk kesuksesan petani milenial tersebut. Apalagi, Kementan memang mempunyai komitmen terhadap pembangunan pertanian, khususnya kepada generasi muda.

“Kami menargetkan untuk mencetak 2,5 juta petani milenial hingga tahun 2024. Ini adalah bukti komitmen kita untuk petani milenial, sekaligus untuk meregenerasi petani,” ungkap Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) sebagaimana keterangan tertulis Humas SMK PP Negeri Kupang, Jumat (9/7).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, ada beberapa strategi yang diterapkan untuk mencapai target tersebut.

Salah satunya melalui pendidikan vokasi dan kejuruan mulai dari tingkat menengah hingga pendidikan atas. Strategi itu efektif untuk menghasilkan tenaga-tenaga muda andal di masing-masing sektor, khususnya pertanian.

“Pendidikan vokasi ini sudah kami dirikan di beberapa daerah. Ada sepuluh sekolah dan Politeknik Pertanian di Indonesia. Misalnya di Medan, Bogor, Serpong, Yogyakarta, Malang, Kupang, Manokwari, dan lainnya,” tutur Dedi.

Salah satu UPT pendidikan di bawah Kementan adalah SMK Pertanian Pembangunan Negeri Kupang. SMK PP ini telah turut andil dalam mencetak para petani milenial.

Kepala SMK PP Negeri Kupang, Stepanus Bulu, mengatakan bahwa sekolahnya selalu membekali murid dan lulusannya dengan kemampuan yang siap untuk menjadi job seekers ataupun job creators dalam bidang pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

“Selain itu, SMK PP Negeri Kupang ikut membantu mencari para petani muda potensial di beberapa kota dan kabupaten di NTT. Salah satunya adalah petani milenial di Kabupaten Manggarai Timur bernama Bonefasius Bedik,” katanya.

Bonefasius Bedik, 28, sukses membudidayakan tanaman porang. Bonefasius mengungkapkan, alasan dirinya melakukan budidaya porang ini karena tanaman ini kaya manfaat dan punya peluang ekspor ke depannya.

“Budidaya porang belakangan ini semakin diminati para petani. Permintaan pasar akan umbi dari tanaman berkhasiat ini membuat banyak orang berlomba-lomba mempelajari cara budidaya porang,” kata Bonefasius.

“Porang adalah salah satu tanaman jenis umbi-umbian yang bernilai tinggi. Kandungan zat glukomanan dalam porang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Harga porang ditentukan dari kualitasnya, semakin sedikit kadar air porang, maka semakin mahal harga jualnya,” sambungnya.

Untuk proses budidaya sendiri, Bonefasius menjelaskan bahwa dimulai dari meyiapkan lahan terbuka dengan jarak lubang tanam sebaiknya 25 x 50 cm atau 25 x 60 cm.

Selanjutnya pembibitan dalam polybag terlebih dahulu jika memilih metode penanaman menggunakan biji. Namun tidak perlu melakukan pembibitan apabila metode yang pilih adalah penanaman porang dengan menggunakan umbi atau katak.

Langkah selanjutnya adalah merawat tanaman porang, membersihkan gulma, meninggikan guludan, memupuk tanaman porang, memupuk tanaman porang, dan panen.

“Cara budidaya porang agar cepat panen adalah dengan menanam bibit porang dari bibit umbi. Karena bisa mulai dipanen saat umurnya sudah mencapai 7 bulan sejak masa tanam.Namun porang yang ditanam dari bibit katak biasanya membutuhkan waktu lebih lama, agar bisa dipanen sekitar 18-24 bulan sejak masa tanam,” tutur Bonefasius.

Dalam usaha budidaya porang ini sendiri, Bonefasius melibatkan tiga kelompok tani sekaligus di sekitar lahannya. Selain melakukan budidaya porang, Bonefasius juga melakukan kegiatan pemberdayaan petani dengan pelatihan pembuatan pupuk kompos untuk porang.

“Omzet kami sendiri juga lumayan sekitar Rp 25.000.000,00 sekali panen dengan jumlah panen 5 ton. Dengan hasil seperti itu saya ingin anak-anak muda di sini semakin bersemangat untuk menjadi petani porang karena prospek ke depannya sangatlah menggiurkan,” imbuh Bonefasius. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top