Jaksa Belum Simpulkan Hasil Dugaan Penyelewengan Dana Desa Leuntolu | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jaksa Belum Simpulkan Hasil Dugaan Penyelewengan Dana Desa Leuntolu


Kajari Belu, Alfons G. Loemau. (FOTO: JOHNI SIKI/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Jaksa Belum Simpulkan Hasil Dugaan Penyelewengan Dana Desa Leuntolu


ATAMBUA, TIMEXKUPANG.com-Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Belu serius mengusut kasus dugaan korupsi penyalagunaan Dana Desa Leontolu, Kecamatan Raimanuk. Penyelidikan ini dilakukan setelah ada pengaduan warga terkait sejumlah item kegiatan yang pengerjaannya diduga belum rampung. Nilai penyimpangan mencapai ratusan juta itu pun dari satu item kegiatan seperti pengerjaan 32 unit lopo jualan dengan pagu sebesar Rp 600 juta.

Kepala Kejari (Kajari) Belu, Alfons G. Loemau, SH., MH saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (8/7) menjelaskan, terkait penyelidikan dugaan dana desa di Desa Leuntolu sudah selesai dilakukan pengembangan penyelidikan. Hasilnya, belum bisa disimpulkan karena belum ada gelar perkara.

Alfons mengatakan, meski belum ada kesimpulan tetapi dari hasil pengembangan yang dilakukan tim penyidik melalui pemeriksaan saksi-saksi dan hasil peninjauan fisik pekerjaan berbeda dari hasil pengaduan warga. Laporan pengaduan warga yang disertakan dengan foto lapangan ternyata berbeda dari fakta di lapangan.

Alfons menyebutkan, seperti jalan usaha tani saat dilaporkan warga kondisinya belum tuntas terdapat tumpukan materi pasir dan batu. Kondisi bangunan 35 unit lopo, gedung Paud dan kelengkapan meubeler paud semuanya sudah lengkap sesuai RAB.

“Laporan warga terdapat volume pekerjaan yang kurang, ini dibuktikan dengan gambar foto. Tetapi setelah kita ambil keterangan dan cek fisik di lapangan semua item program yang dilaporkan itu ternyata sudah dibenahi. Termasuk 7 handtraktor lengkap semua dan masih baru bukan seperti yang ada di foto juga bangunan lopo sudah digunakan warga untuk jualan,” jelasnya.

Alfons menambahkan untuk item program pembangunan dua unit rumah adat itu yang belum rampung. Satu unitnya sudah selesai dan tinggal satu rumah adat yang belum selesai dibangun karena masih ada persoalan di dalam keluarga rumah suku. Sehingga sesuai keterangan kepala desa dan para saksi masih tunggu kesepakatan bersama dari pemilik rumah adat.

“Minggu lalu penyidik sudah turun cek fisik lapangan. Dari sejumlah item program yang dikerjakan semuanya sudah selesai. Tim kejaksaan sudah turun lapangan tinggal tunggu kesimpulan,” katanya.

Alfons menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang sudah mengawasi pelaksanaan pembangunan desa dan membuat pengaduan. Selain laporan dari Desa Leountolu, ada juga laporan dari beberapa desa. Dari laporan-laporan itu, kata Alfons, ada yang sudah ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan dan keterangan saksi, tetapi ada juga laporan yang tidak lengkap data sesuai fakta lapangan karena ada unsur lain.

Untuk diketahui, Kejari Belu melakukan pemeriksaan terhadap kepala desa, dan perangkat Desa Leontolu, TPK, serta rekanan pekerja program fisik di desa itu. Pemeriksaan dilakukan penyidik kejari di ruang Kasi Intel Kejari Belu.

Kasi Intel Kajari Belu, Budi Raharjo saat ditemui Jumat (16/4/2021) mengatakan, sejumlah saksi diundang untuk dimintai keterangan terkait pembangunan lopo sekitar 32 unit di Desa Leontolu. Pembangunan lopo menggunakan anggaran Desa Leontolu tahun anggaran 2020 senilai Rp 600 juta.

Selain itu Selain itu ada juga item program jalan tani, pembangunan gedung PAUD dan kelengkapan meubeler serta pengadaan tujuh hand traktor serta pembangunan dua unit rumah adat. Sejumlah item kegiatan ini dilaporkan warga diduga terjadi penyalagunaan seperti kekurangan volume dan pengerjaan tidak sesuai rencangan anggaran biaya (RAB). (mg33)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top