Frans Fredi Kalikit Bara, Petani Milenial Sumba Timur Hasilkan Ratusan Juta Rupiah dari Usaha Hortikultura | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Frans Fredi Kalikit Bara, Petani Milenial Sumba Timur Hasilkan Ratusan Juta Rupiah dari Usaha Hortikultura


PETANI SUKSES. Frans Fredi Kalikit Bara, petani milenial dari Sumba Timur yang sukses dengan budidaya tomat. (FOTO: DOK. HUMAS SMK PP NEG. KUPANG)

PENDIDIKAN

Frans Fredi Kalikit Bara, Petani Milenial Sumba Timur Hasilkan Ratusan Juta Rupiah dari Usaha Hortikultura


WAINGAPU-Frans Fredi Kalikit Bara membuktikan bahwa menjadi petani merupakan pekerjaan yang bukan hanya mulia tapi juga menjanjikan. Pemuda berusia 30 tahun yang akrab disapa Fredi ini menjelaskan, selain bisa menjaga ketahanan pangan di suatu daerah, menjadi petani juga bisa menguntungkan terutama dalam menghasilkan pundi-pundi bahkan hingga ratusan juta rupiah.

Fredi merupakan salah satu calon Duta Petani Milenial yang sudah dicalonkan dan diverifikasi oleh SMK PP Negeri Kupang yang berasal dari Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT. Usaha pertanian yang dilakukannya adalah budidaya tomat, cabai, dan semangka.

“Tanaman Hortikultura mempunyai nilai jual yang bagus serta sama dengan yang dilakukan sebagai peningkatan suatu produk pertanian dan bisa juga sebagai peningkatan devisa Indonesia sebab setiap negara mempunyai persaingan untuk mencapai produk yang unggul pada bidang pertanian,” ujar Fredi sebagai keterangan tertulis Humas SMK PP Negeri Kupang, Selasa (13/7).

Selain itu, kata Fredi, hortikultura memberi manfaat untuk masyarakat dalam menyediakan makanan yang bermanfaat dan sehat untuk penghilang kepenatan dan stres saat berada pada wilayah perkotaan sebab kehadiran tanaman hortikultura bisa melihat sesuatu yang menyenangkan dan alami.

Dalam proses budidayanya, Fredi juga menggandeng beberapa LSM untuk diajak kerja sama mulai dari persiapan lahan sampai panen. “Kami bekerja sama dengan Petani Muda Panah Merah (PMPM) Sumba dalam memilih bibit. Pembibitan dilakukan ketika ingin mendapatkan tanaman yang akan dibudidayakan. Biasanya disebut juga perbanyakan tanaman. Memperbanyak tanaman memiliki dua cara yakni generatif dan vegetatif. Generatif dilakukan dengan penggunaan biji, dan vegetatif dilakukan dengan tangan manusia,” imbuh Fredi.

Selain itu, Fredi juga melakukan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pelatihan tentang teknik pengolahan lahan, hama, dan penyakit, Nutrisi tanaman, pasca panen atau pemasaran dengan menggandeng perusahaan/LSM seperti STUBE HEMAT, petrokimia Gresik, Nufarm, serta Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur.

“Omzet yang dihasilkan sendiri bisa mencapai 100 juta rupiah dalam 1 tahun dengan jumlah rata-rata komoditas 10 ton/ha,” tambahnya.

Sesuai arahan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa petani milenial merupakan tumpuan harapan pertanian Indonesia di masa mendatang. “Petani milenial saat ini banyak meraup hasil dan keuntungan yang melimpah dari hasil bertani. Kuncinya adalah mereka mengunakan akses market internasional dan komunitas pertanian untuk memasarkan hasil pertanian di dalam negeri dan luar negeri,” papar Mentan SYL.

Sedangkan Dedi Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menambahkan bahwa selain memanfaatkan peluang, petani mileniallah yang mampu mendongkrak produktivitas dan menjaga kualitas dan menjamin kontinuitas produknya lewat inovasi teknologi.

“Anak muda milenial sekarang harus pintar-pintar membaca peluang apalagi dengan prospek menguntungkan dan mengembangkan daerahnya seperti ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” tutup Dedi. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top