Jelang Tiga Tahun Paket KONTAK, Optimistis di Tengah Pandemi Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jelang Tiga Tahun Paket KONTAK, Optimistis di Tengah Pandemi Covid-19


CEGAH PANDEMI. Bupati SBD, dr. Kornelis Kodi Mete didampingi Wabup Marthen Christian Taka (kedua kanan), Kapolres dan Dandim 1629/SBD menyampaikan keterangan pers terkait penerapan PPKM di wilayah itu. (FOTO: FREDY BULU LADI/TIMEX)

PEMERINTAHAN

Jelang Tiga Tahun Paket KONTAK, Optimistis di Tengah Pandemi Covid-19


TAMBOLAKA, TIMEXKUPANG.com-Tak terasa hampir tiga tahun sudah pasangan dr. Kornelis Kodi Mete-Marthen Christian Taka memimpin Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Dua tahun lebih bukanlah waktu yang panjang bagi sebuah pemerintahan yang bekerja keras mewujudkan janji politik pemimpinnya.
Seluruh sumber daya telah dikerahkan dengan sekuat tenaga, dengan mengedepankan kebersamaan dalam semangat “Loda Wee Maringi Pada Wee Malala”.

Dengan visi “Terwujudnya Masyarakat SBD yang Maju, Berkualitas, Berdaya Saing, Demokratis dan Sejahtera”, pasangan dengan tagline KONTAK yang dilantik pada 8 September 2019 ini terus menuntaskan permasalahan utama di wilayah itu. Yakni belum terpenuhinya berbagai kebutuhan dasar rakyat di kabupaten dengan luas wilayah 1.445,32 km2, meliputi 11 kecamatan dan 129 desa serta 2 kelurahan itu.

Sejumlah sektor yang seharusnya dapat menunjang perekonomian warga belum diselesaikan dengan baik. Sebut saja, bidang infrastruktur, baik jalan, dan jembatan masih belum memenuhi harapan warga. Di sektor kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan masih belum memenuhi standar minimal.

Demikian pula infrastruktur kesehatan seperti Puskesmas dalam kondisi yang tidak layak. Sektor-sektor esensial lainnya juga mengalami hal yang sama. Pandemi Covid-19 setahun terakhir yang meluluhlantakan semua sektor turut memberi andil keterpurukan ekonomi warga.

Setelah mendapat kepercayaan dari rakyat SBD, Dokter Nelis-demikian ia disapa- terus berpacu dengan waktu. Di awal kepemimpinannya, ia meluncurkan program 100 Hari Kerja dan program Tujuh Jembatan Emas sebagai pondasi dasar dalam menjalankan roda pemerintahan.

Program Tujuh Jembatan Emas yang dimaksud adalah “Desa Bercahaya, Desa Berair, Desa Berkecukupan Pangan, Desa Sehat, Desa Cerdas, Desa Aman Tentram, dan Desa Wisata”. Tujuh program ini lebih mengedepankan pembangunan di desa-desa.

Setelah kurang tiga tahun berjalan pada September 2021 mendatang, keduanya terus melakukan perubahan dalam tata kelola pemerintahan dan tata kelola anggaran yang diorientasikan pada pencapaian visi dan misi.
Diakui Kornelis, pencapaian program Tujuh Jembatan Emas dalam dua tahun kepemimpinannya cukup dirasakan rakyat di daerah itu.

“Dua tahun terakhir ini, saya melihat rakyat sangat semangat membangun desa,” tutur Kornelis kepada TIMEX terkait progres program unggulannya itu. “Angka partisipasinya semakin meningkat,” tambahnya.

Meski dihadapkan pada Pandemi Covid-18 setahun terakhir, menurut Kornelis, hal itu tidak membuat program kerjanya mandek, malah ada beberapa program yang mengalami peningkatan jika dipresentasikan secara matematis. Semangat masyarakat untuk membangun justeru meningkat di era pandemi.

“Dua tahun terakhir semangat masyarakat membangun desanya cukup bagus. Memang belum bisa kita presentasikan namun cenderung mengalami banyak perubahan yang positif walaupun ada sedikit hambatan juga karena Pandemi,” ujar dia.

Secara garis besar, Bupati SBD yang didampingi Wakil Bupati ini memaparkan capaian program “Tujuh Jembatan Emas”. Untuk program Desa Bercahaya, bupati bercita-cita agar semua rumah warga bercahaya elektrifikasi. Jika saat ini sudah mencapai 60 persen, diharapkan dalam tahun ini menjadi 70 persen dan diakhirnya nanti mencapai 100 persen. Untuk itu, pihaknya terus mendorong dan bergerak lebih cepat untuk mewujudkan rumah-rumah yang bercahaya secara mandiri.

“Masyarakat miskin kita terus dorong melalui program bantuan pemerintah, baik bantuan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat agar rumah-rumah mereka semuanya bercahaya,” ungkapnya.

Untuk Program Desa Berair, melalui program tersebut, pemerintah terus mendorong supaya tidak hanya menemukan sumber air namun menghadirkan air di desa-desa serta memaksimalkan sumber air yang ada guna mewujudkan kebersihan individu bahkan lingkungan yang pada akhirnya akan bermuara pada ketahanan pangan dan kehidupan yang berkualitas.

“Desa berair kita dorong terus, selain program bantuan pemerintah pusat dari APBN dan APBD, kita dorong juga pemerintah desa dengan anggaran dan potensi yang ada. Lakukan itu di desa. Hadirkan air di desa untuk sampai ke rumah-rumah tangga, setelah itu baru kita evaluasi berapa liter kebutuhan air satu individu dalam sehari,” katanya.

Sementara untuk Program Desa Mandiri Pangan, menurut bupati, ia terus mendorong agar sejengkal tanah yang ada di Kabupaten SBD diolah oleh masyarakat dan memiliki etos kerja yang tinggi menuju ketahanan pangan. Diakuinya bahwa dalam dua tahun terakhir masyarakat telah mandiri dalam hal ketahanan pangan, apalagi di tengah Pandemic Covid-19 masyarakat fokus mengolah lahan pertanian mereka.

“Rasanya dua tahun ini masyarakat betul-betul mandiri dalam hal ketahanan pangan. Memang ada Pandemi Covid-19 sebagai penghambat, namun khusus ketahanan pangan sangat positif karena rakyat tidak kemana-mana dan mereka hanya ada di kebun,” tambahnya.

Bupati Kornelis mengaku telah memerintahkan Dinas Pertanian SBD untuk menyediakan bibit sayur-sayuran, bawang, lombok, tomat guna dibagikan ke masyarakat dan melakukan pendampingan. “Mudah-mudahan setelah Pandemi Covid-19 ini, masyarakat terus bertahan untuk ke kebun agar betul-betul mandiri dalam ketahanan pangan,” harap alumnus SMA Anda Luri ini.

Program Desa Aman Tentram, menurut penjelasan orang nomor satu di SBD ini, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat semakin kondusif berkat hadirnya Polres SBD dan Kodim SBD, yang keduanya merupakan satu kesatuan dalam menciptakan kondisi keamanan di daerah itu. Selain itu, dengan hadirnya Lembaga BATEMAN menjadi kekuatan dalam menciptakan masyarakat Sumba Barat Daya yang aman di tingkat desa.

“Dengan adanya pandemi Covid-19 memacu masyarakat untuk hidup sehat, termasuk bagaimana memacu orang untuk hidup tertib, tidak menciptakan masalah sosial. Dengan adanya pelatihan, edukasi dan ajakan untuk hidup tertib dan melalui lembaga pendidikan agar masyarakat kita sadar tertib dan aman di desa melalui generasi-generasi berikutnya yang kita ajarkan di lembaga Pendidikan. Ini semua akan berkesinambungan,” terangnya.

Di bidang Pendidikan, Kornelis Kodi Mete meluncurkan Program Desa Pintar. Diakui dokter Nelis, awalnya program tersebut hendak merekrut tenaga pendidik sebanyak-banyaknya guna melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah sehingga anak didik memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Namun karena terjadi Pandemi Covid-19, rencana tersebut tidak dilakukan. Pihaknya menyadari bahwa pendidikan itu tidak harus di dalam gedung sekolah.

“Namun pada titik tertentu kita harus melakukan evaluasi, apakah tingkat pendidikan yang diagungkan itu sejalan dengan kualitas hidup manusia. Kita berharap Desa Pintar itu menciptakan manusia yang berkualitas di desanya,” demikian katanya seraya menambahkan bahwa untuk tahun 2021, Pemkab SBD mendapatkan kesempatan PPPK bidang guru sebanyak 1. 341 formasi. Kita tidak boleh sia-siakan ini, supaya formasi ini semua terisi.

Demikian pula untuk Program Desa Sehat, diakuinya bahwa Pandemi Covid-19 membawakan dampak bagi pola kehidupan sehat manusia. Jika tahun-tahun sebelumnya, hanya Program Posyandu yang sosialisasikan, kini semua orang menjadi penyuluh untuk masyarakat berperilaku hidup sehat.

“Kita berharap Pandemi ini segera berlalu. Demikian pula Malaria, segera berakhir, karena ini juga menjadi salah satu yang harus dihilangkan, termasuk TBC harus kita kurangi, Stunting bahkan harus kita selesaikan secara menyeluruh,” terang dia.

Kekurangan kunjungan wisatawan, baik manca negara maupun domestik menjadi penyebab Program Desa Wisata kurang berkembang. Meski demikian, bukan berarti destinasi wisata yang ada dinilai tidak baik, namun saatnya sekarang kita memanfaatkan situasi Pandemi untuk memperbaiki destinasi wisata yang ada sehingga ketika Pandemi berakhir, persiapan kita menyambut wisatawan menjadi lebih baik.

“Pastikan masyarakat kita sudah produksi, produksi cendera mata, makanan lokal. Kita bersyukur ada food estate di Sumba, kita dorong masyarakat untuk semangat bertani, memanfaatkan lahan dan sumber air yang ada sehingga ketika wisatawan datang, kita sudah siap secara mandiri,” demikian kata dokter Nelis.

Bupati SBD ini optimistis jika Program Tujuh Jembatan Emas yang dicanangkannya bisa membawa perubahan bagi daerah itu terutama masyarakat SBD sendiri, karena semangat membangun daerah dimulai dari desa. (freddy/yoppylati)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PEMERINTAHAN

To Top