Pemkab SBD Kerja Keras Turunkan Angka Stunting | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemkab SBD Kerja Keras Turunkan Angka Stunting


SATU KOMITMEN. Bupati SBD, dr. Kornelis Kodi Mete (kiri) bersama Wabup Marthen Christian Taka punya kominten bersama, bekerja keras menurunkan angka stunting di wilayah kabupaten itu. (FOTO: FREDY BULU LADI/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pemkab SBD Kerja Keras Turunkan Angka Stunting


TAMBOLAKA, TIMEXKUPANG.com-Persoalan stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita sehingga memiliki tubuh terlalu pendek dibandingkan anak seusianya, masih menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa ini.

Berdasarkan Global Nutrition Report pada 2018, Prevalensi Stunting Indonesia dari 132 negara berada pada peringkat ke-108, sedangkan di kawasan Asia Tenggara prevalensi stunting Indonesia tertinggi ke dua setelah Kamboja.

Adapun beberapa faktor penyebab stunting, yaitu akibat praktek pengasuhan yang kurang baik, masih terbatasnya layanan kesehatan, masih kurangnya akses keluarga terhadap makanan bergizi, kurangnya akses pada air bersih dan sanitasi. Untuk mencegah hal itu, seluruh pihak harus mengoptimalkan perbaikan gizi untuk memastikan pemenuhan gizi seimbang bagi anak.

Di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) sendiri, angka stunting masih sangat tinggi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018-2020), Kabupaten SBD merupakan salah satu wilayah yang mempunyai prevalensi stunting yang cukup tinggi (38,2%) dengan jumlah anak stunting (pendek dan sangat pendek) sebanyak 6.074 jiwa.

Berdasarkan riview kinerja oleh Tim Pokja Stunting Provinsi NTT diketahui bahwa kinerja Kabupaten SBD masih sangat rendah. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan konvergensi di level pemerintah daerah bersama semua stakeholder (pihak non pemerintah/swasta) masih sangat terbatas.

Hal ini diakui Bupati SBD, dr. Kornelis Kodi Mete ketika ditemui TIMEX akhir pekan lalu. “Stunting kita sangat masih tinggi. Dulu kita lakukan promotif-preventinf harus jalan, tetapi tidak hanya itu, kita minta betul-betul agar masyarakat sadar,” kata Kodi Mete.

Dia menjelaskan, salah satu Program Tujuh Jembatan Emas adalah Program Desa Sehat, yakni salah satu aksi adalah penempatan 5 sarjana di tingkat desa. Dengan aksi tersebut, dia berharap proses edukasi menyelesaikan masalah yang terkini dan diantara lima sarjana tersebut terdapat satu orang ahli gizi.

Namun saat ini, stok ahli gizi sangat minim, sehingga ia mendorong anak-anak untuk meningkatkan pendidikan mereka. Ia juga mendorong agar memanfaatkan Handphone adroid untuk mencari pengetahuan soal nutrisi yang harus dikonsumsi.

“Nutrisi kita ini ada di rumah-rumah masyarakat, seperti daging. Memang kita harus dorong untuk konsumsi protein hewani, kita berharap pemerintah desa tidak jauh-jauh dari program Tujuh Jembatan Emas yang kita siapkan ini,” kata dia.

Para Kepala Desa, terutama yang baru terpilih ini betul-betul bertangungjawab untuk menghadirkan protein hewani di desa dengan membeli ternak ayam, itik untuk dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya lagi.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintahan di desa untuk menyediakan kebun-kebun sayur bagi masyarakat, terutama penyediaan bibit. “Kita terus bekerja keras untuk mengatasi permasalahan Stunting di daerah in, tentunya bukan hanya pemerintah tapi semua pihak bekerja bersama. Saya terus mengajak semua pihak untuk bersinergi demi pemenuhan gizi anak yang tepat, untuk menekan angka stunting di daerah ini,” demikian kata Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten SBD ini. (freddy/yoppylati)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top