Dominggus Njurumay, Petani Milenial Malaka Hasilkan Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Tomat di Lahan Kering | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dominggus Njurumay, Petani Milenial Malaka Hasilkan Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Tomat di Lahan Kering


MILENIAL SUKSES. Dominggus Njurumay, petani milenial Malaka di kebun tomat miliknya. (FOTO: DOK. SMK PP NEG. KUPANG)

PENDIDIKAN

Dominggus Njurumay, Petani Milenial Malaka Hasilkan Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Tomat di Lahan Kering


BETUN-Bertahan dalam usaha tani di tengah terpaan pandemi Covid-19 dibuktikan oleh petani milenial asal Kabupaten Malaka, Dominggus Njurumay. Dominggus terhitung sukses mengelola sektor pertanian dengan membudiyakan tomat di lahan keringnya.

Tidak hanya sekadar mempertahankan usaha tani, Dominggus bahkan berhasil meraup puluhan juta rupiah dari budidaya tanaman hortikultura tersebut. Sekali panen, Dominggus bisa memperoleh hasil panennya 15 ton/hektare dengan omzet sebesar Rp 50 juta.

Domi –sapaan akrab Dominggus– mengatakan, salah satu alasan ia melakukan budidaya tomat karena manfaat yang diperoleh dari tanaman tersebut sangat luar biasa. Tanaman tomat dapat dijadikan sebagai bumbu sayur, lalapan, makanan yang diawetkan (saus tomat), buah segar, atau minuman (juice). Selain itu, buah tomat banyak mengandung vitamin A, Vitamin C, dan sedikit vitamin B.

Saat ditemui di lahan garapannya, Domi menjelaskan bahwa tanaman tomat merupakan tanaman perdu semusim, berbatang lemah, dan basah. Daunnya berbentuk segitiga. Bunganya berwarna kuning. Buahnya buah buni, hijau waktu muda dan kuning atau merah waktu tua.

Berbiji banyak, berbentuk bulat pipih, putih atau krem, kulit biji berbulu. Tomat umumnya dibudidayakan pada lahan kering atau pada lahan sawah. Tanaman ini tidak membutuhkan persyaratan khusus, akan tetapi menghendaki tanah yang gembur. Tanaman ini dapat dibudidayakan secara monokultur maupun dengan sistem multiple cropping.

“Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menanam tomat. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23°C pada siang hari dan 17°C pada malam hari. Tanah yang dikehendaki adalah tanah bertekstur liat yang banyak mengandung pasir. Dan, akan lebih disukai bila tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuk pertumbuhannya adalah pada pH netral, yaitu sekitar 6-7,” tutur Domi sebagaimana dalam keterangan tertulis Humas SMK PP Negeri Kupang, Jumat (23/7).

Dalam mengembangkan budidaya tomat, Domi dan kelompok taninya menjalin kerjasama dengan PT. Ewindo (Panah Merah) terkait benih cabai dan PT Petrokimia menyangkut pemupukan. Ia pun melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pembuatan pupuk organik.

“Panen tomat dilakukan sesuai dengan tujuan pemasarannya sehingga perlu diperhitungkan lama perjalanan sampai ke tempat tujuan. Sebaiknya tomat berada di pasaran pada saat masak penuh, tetapi tidak boleh terlalu masak karena akan busuk. Pada saat masak penuh itulah tomat memperlihatkan penampilannya yang terbaik. Jika tujuan pemasaran adalah pasar lokal yang jaraknya tidak begitu jauh, dapat ditempuh dalam beberapa jam, panen sebaiknya dilakukan sewaktu buah masih berwarna kekuning-kuningan,” pungkas Domi.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengungkapkan bahwa sektor pertanian adalah salah satu sektor yang bertahan di tengah pandemi ini. Untuk itu Mentan mengharapkan seluruh insan pertanian tak terkecuali petani milenial untuk terus meningkatkan produktivitas untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

“Pertanian merupakan sektor yang menjanjikan. Petani milenial saat ini banyak meraup hasil dan keuntungan yang melimpah dari hasil bertani. Kuncinya adalah mereka mengunakan akses market internasional dan komunitas pertanian untuk memasarkan hasil pertanian di dalam negeri dan luar negeri,” papar Mentan SYL.

Sementara Dedi Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) juga menambahkan selain memanfaatkan peluang, petani milenial lah yang mampu mendongkrak produktivitas dan menjaga kualitas dan menjamin kontinuitas produknya lewat inovasi teknologi.

“Anak muda milenial sekarang harus pintar-pintar membaca peluang apalagi dengan prospek menguntungkan dan mengembangkan daerahnya seperti ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” terang Dedi. (*/aln)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

Baca koran edisi : 19 Desembar 2021

Populer

To Top