Kisah Pelaku Ekonomi Kecil yang Berjuang Mencari Peruntungan di Tengah Pandemi (1) | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kisah Pelaku Ekonomi Kecil yang Berjuang Mencari Peruntungan di Tengah Pandemi (1)


OMSET MENURUN. Ibu Agustina, penjual buah semangka segar di tepi Jalan Timor Raya, Kelurahan Lasiana, tepatnya batas Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Gambar diabadikan, Selasa (27/7). Selama pandemi, omset Agustina menurun. Ia berharap semoga Covid-19 segera berlalu. (FOTO: IMRAN LIARIAN/TIMEX)

BISNIS

Kisah Pelaku Ekonomi Kecil yang Berjuang Mencari Peruntungan di Tengah Pandemi (1)


Dari Covid-19 Datang Badai Seroja, Omset Harian Penjual Semangka Tak Menentu

NTT dilanda dua badai dalam rentang waktu setahun. Pertama badai pandemi Covid-19 yang kasus pertamanya ditemukan pada 9 April 2020 lalu, lalu badai Siklon Tropis Seroja yang menerjang sebagian besar wilayah NTT, juga pada April 2021. Dua badai ini, khususnya pandemi Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sendi kehidupan. Salah satu paling berdampak adalah di sektor ekonomi. Pelaku usaha, mulai dari skala mikro hingga yang besar ikut terkena dampaknya. Yang paling merasakan dampak ini adalah mereka pelaku usaha mikro/kecil. Misalnya yang dikisahkan Ibu Agustina, penjual buah semangka di Kelurahan Lasiana, dan Demerson Boling, pembuat rak bunga di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang.

IMRAN LIARIAN, KUPANG

Dalam kehidupan normal, hidup santai apalagi berpangku tangan saja, jangan harap mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi di masa pandemi Covid-19 yang serba sulit ini. Butuh upaya juga kerja keras, dan tentunya harus yang halal.

Seperti yang dilakukan Ibu Agustina, warga RT 2/RW 1, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Ia saban hari harus berjuang memenuhi kehidupan rumah tangganya dengan berjualan buah semangka di tepi jalan Timor Raya, tepatnya di Kelurahan Lasiana, batas Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Ibu Agustina yang saya temui di tempat jualannya, Selasa (27/7) mengaku, sejak pandemi melanda negeri ini, khususnya di Kota Kupang, pemasukan hariannya menjadi berkurang. Apalagi ketika badai Seroja menerjang awal April 2021 lalu. Beberapa hari tak bisa jualan karena kondisi tidak memungkinkan.
Otomatis keuntungan dari pendapatan harian yang biasanya dia peroleh Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu bahkan lebih, menurun. Bahkan terkadang tidak ada pendapatan yang ia peroleh karena tak ada yang membeli. Sedangkan di satu sisi, ia harus membayar sewa lahan untuk jualan senilai Rp 250 ribu tiap bulannya.

“Padahal sebelum korona, bulan-bulan begini pendapatan kita lumayan, kalau sekarang Covid-19 begini, orang tidak beli. Kalau ada pun, hasilnya tidak seperti dulu,” ungkap Agustina.

Meski situasinya sulit, Agustina mengaku harus tetap berjualan karena kalau tidak bagaimana mau memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Bagi Agustina, situasi sulit ini harus tetap dijalani. Karena itu, setiap hari ia mulai membuka dagangannya mulai pukul 07.00 Wita hingga pukul 19.00 Wita.

Untuk melindungi dirinya dari terpaan sinar matahari, Agustina membentangkan selembar terpal biru yang disangga dengan beberapa batang kayu. Terpal ini selain melindungi dia dari panas, juga menjaga agar buat semangka tetap terlindungi. Untuk menambah pendapatan, selain semangka, Agustina juga menjual sejumlah bahan keperluan dapur, seperti bawang, dan lainnya.

Agustina mengaku, harga buah semangka yang ia jual bervariari. Tergantung ukuran kecil dan besarnya buah. Kalau buah semangka berukuran paling kecil harganya Rp 10.000/buah. Sementara yang berukuran besar harganya Rp 35.000.

Kalau jualan setiap hari seperti ini, apakah tidak takut terpapar Covid-19? “Kalau takut, terus kita mau beli makan pakai apa? Yang penting kita taat prokes saa…pak. Saya selalu pakai masker. Saya berharap semoga wabah Covid-19 ini cepat berlalu agar situasi kembali normal dan penghasilan yang kami dapat pun bisa stabil kembali,” harap Agustina.

Mengenai penerapan PPKM Level IV di Kota Kupang, menurut Agustina, sebagai masyarakat kecil, ia tetap patuh dan mengikuti program pemerintah tersebut. “Pemerintah bilang apa, untuk kita punya baik, ikut saja. Pemerintah suruh kita pakai masker, harus ikut, jangan melawan biar korona ini cepat hilang,” pungkasnya. (*/bersambung)

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top