Bupati-Wabup SBD Serbu Hama Belalang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Bupati-Wabup SBD Serbu Hama Belalang


SERBU BELALANG. Bupati SBD, dr. Kornelis Kodi Mete bersama Wabup Marthen Christan Taka dan jajarannya bersiap memerangi hama belalang kumbara yang menyerang tanaman padi petani di wilayah itu belum lama ini. (FOTO: FREDY BULU LADI/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Bupati-Wabup SBD Serbu Hama Belalang


WEETABULA, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) begerak cepat mengatasi meluasnya serangan hama belalang Kumbara di daerah itu dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penyemprotan Hama Belalang. Alhasil, dalam waktu dua pekan, Satgas berhasil membasmi kloni belalang yang menyerang tanaman padi milik warga.

Wakil Bupati SBD, Marthen Christian Taka, SIP kepada TIMEX di Tambolaka, Ibukota Kabupaten SBD mengungkapkan, saat ini Satgas yang dibentuk khusus oleh Bupati SBD, dr. Kornelis Kodi Mete terus melakukan penyemprotan guna membasmi hama belalang Kumbara.

“Penurunannya sangat signifikan. Penyemprotan terus kita lakukan melalui Satgas dari malam hingga pagi hari,” terang Christian Taka, akhir pekan lalu. “Guna memutus mata rantai kloni belalang Kumbara, penyemprotan harus terus menerus dilakukan,” tegasnya.

Ia menguraikan, ketika hama memasuki kawasan Kabupaten SBD dan mulai menyerang padi milik warga, pihakya melalui Dinas Pertanian Kabupaten SBD langsung berkoordinasi untuk pembentukan tim Satgas guna melakukan pencegahan dan penyemprotan di titik kloni belalang Kumbara.

Adapun dinas-dinas yang berperan aktif dalam Satgas tersebut adalah Dinas Pertanian, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pekerjaan Umum. Tim ini mulai bekerja siang sampai pagi sejak tanggal 2 hingga 9 Agustus 2021 lalu.

Dari hasil kerja keras Satgas ini, terjadi penurunan yang sangat signifikan. “Kita masih terus bergerak bersama bupati, bahkan kami harus menginap di rumah warga untuk melakukan pencegahan dan penyemprotan di malam hari hingga pagi hari. Kloni hama belalang kumbara ini terus berpindah-pindah. Kami juga terus berpindah-pindah mengikuti kemana mereka pergi,” ungkap Christian Taka. “Saat ini kloninya mulai berkurang,” lanjutnya bersemangat.

Wabup mengungkapkan ikhwal pembentukan Satgas. Menurutnya, tim tersebut dibentuk agar pembasmian hama belalang bisa dilakukan secara terpusat dan fokus pada penyemprotan. Pembentukan Satgas ini mendapat respon dari Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian RI dengan mengirimkan bantuan obat-obatan melalui Waingapu, Ibukota Kabupaten Sumba Timur dan dijemput sendiri oleh Wabup SBD.

Dampak Hama Belalang Kumbara

Menurut Christian, apabila hama belalang Kumbara dibiarkan maka akan berdampak pada padi yang siap dipanen di sekitaran Waikelo Sawah, Kecamatan Wewewa Timur. Menurutnya, ada sekitar 100 hektare (Ha) padi yang sudah menguning dan siap dipanen. Apabila belalang dibiarkan begitu saja tanpa dilakukan penyemprotan maka akan terjadi kerugian yang sangat besar dialami oleh masyarakat petani di Waikelo Sawah.

Kementrian Pertanian, sebut Wakil Bupati lagi, menyarankan kepada petani untuk mengikuti Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) agar tidak mengalami kerugian akibat gagal panen. Program AUTP akan memberikan perlindungan berupa pertanggungan ketika petani mengalami gagal panen.

“Dengan begitu, petani akan tenang dalam mengembangkan budidaya pertanian. AUTP ini akan memberikan proteksi berupa pertanggungan setiap kali petani mengalami gagal panen karena perubahan iklim maupun serangan OPT,” kata Mentan Syahrul seperti dikutip Wabup SBD.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil menjelaskan, program AUTP akan memberikan pertanggungan sebesar Rp6 juta per hektar per musim ketika terjadi gagal panen. Dengan begitu, Ali menilai petani tetap dapat berproduksi dan meningkatkan produktivitas pertaniannya.

Ali menilai tingkat kesejahteraan petani juga tak akan terganggu meski gagal panen melanda. “Karena petani tetap memiliki modal untuk memulai kembali musim tanam mereka. Program AUTP ini sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian nasional yakni menyediakan pangan untuk seluruh rakyat, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggenjot ekspor,” papar Ali.

Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan, Indah Megahwati menambahkan, ada banyak keuntungan yang didapat jika petani mengikuti program AUTP ini. Caranya pun cukup mudah untuk bergabung. “Petani harus bergabung dengan kelompok tani dan mendaftarkan lahan yang akan mereka asuransikan sebelum berusia 30 hari,” papar Indah.

Mengenai pembiayaan, Indah menyebut petani cukup membayar premi sebesar Rp36 ribu per hektar per musim tanam dari premi AUTP sebesar Rp180 ribu per hektar per musim tanam. “Sisanya sebesar Rp144 ribu disubsidi pemerintah melalui APBN. Ada banyak manfaat dari program AUTP ini yang tentunya dengan biaya ringan,” katanya. (freddy/yoppylati)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top