Kabid Humas: Bripda Randy Putera Bukan Aspri Wakapolda NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kabid Humas: Bripda Randy Putera Bukan Aspri Wakapolda NTT


Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Rishian Krisna Budhiaswanto di Mapolda NTT, Senin (16/8). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Kabid Humas: Bripda Randy Putera Bukan Aspri Wakapolda NTT


Kasus yang Melibatkan Anggota Polisi Tetap Berproses Sesuai Aturan

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Aksi saling melapor atas dugaan tindak pidana penganiayaan dan pengroyokan antara anggota Polri, Bripda Randy Putera dan Eddy Latuparissa, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Kelurahan Nunbaun Della (NBD), Kecamatan Alak, Kota Kupang tetap berproses sesuai aturan hukum yang berlaku.

Kapolda NTT, Irjen Pol. Lotharia Latif melalui Kabid Humas, Kombes Pol Rishian Krisna Budhiaswanto, Senin (16/8) mengatakan, proses hukum terus berlanjut selagi laporan tersebut belum dicabut atau ada kesepakatan damai dari kedua belah pihak. Dan setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mengajukan laporan jika dirugikan.

Menurut Kombes Rishian, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap saksi-saksi oleh penyidik di Polsek Alak, mantan Kapolres TTU itu menjelaskan bahwa kejadian bermula saat Bripda Randy menghadiri acara peminangan letingnya.

Kombes Rishian juga mengklarifikasi bahwa pemberitaan sebelumnya yang menyebut Bripda Randy merupakan Aspri Wakapolda adalah tidak benar. Kombes Rishian menegaskan bahwa Bripda Randy bukan Aspri tetapi sebagai anggota biasa yang saat ini berdinas di Mapolda NTT.

Kombes Rishian melanjutkan, saat itu, anak dari Eddy Latuparissa dalam kondisi mabuk miras dan tidak sadarkan diri, lalu menyadarkan kepala di badan Bripda Randy.

“Mereka tidak saling kenal. Sementara Bripda Randy duduk dengan teman-temanya, tiba-tiba Eddy Latuparissa datang lalu memukul Bripda Randy dibagian wajah jadi reflek membalas dan mengenai Eddy sehingga terjadi pengeroyokan oleh Eddy dan beberapa orang yang ada dilokasi tersebut,” jelasnya.

Setelah mendapat pengeroyokan, Bripda Randy langsung melaporkan ke Polsek Alak dan saat ini berdasarkan alat bukti yang ada, dan hasil gelar perkara sudah menetapkan Eddy Latuparissa sebagai tersangka.

Kombes Rishian mengungkapkan bahwa Eddy Latuparissa juga membuat laporan meskipun kejadian tersebut sebenarnya sudah terjadi dua bulan yang lalu, yaitu 13 Juni 2021, namun baru dilaporkan pada 13 Agustus 2021 dan saat ini sedang dalam proses penyelidikan.

“Eddy Latuparissa memang membuat laporan polisi terkait peristiwa tersebut tertanggal 13 Agustus 2021, artinya laporan tersebut baru dibuat oleh Eddy setelah dua bulan kejadian tersebut berlalu dan saat ini sedang dilakukan penyelidikan, tapi ini bukan jadi alasan. Kami akan lakukan tahapan laporan sesuai aturan yang berlaku. Kami tidak memandang latar belakang pelapor atau pelaku. Semuanya sama dimata hukum. Jika anggota terbukti sesuai laporan yang ada tentu akan mendapat sanksi sesuai aturan yang ada demikian juga sebaliknya,” sebutnya.

Untuk diketahui, proses hukum atas laporan yang dilaporkan Bripda Randy, sudah memeriksa sebanyak 19 saksi dan sudah menetapkan Eddy Latuparissa tersangka. Sedangkan laporan balik dari Eddy Latuparissa sedang dilakukan penyelidikan.

Diberitakan sebelumnya, Eddy Latuparissa didampingi kuasa hukumnya, San Albrenus Fattu melaporkan pidana penganiayaan ke SPKT Polda NTT sesuai Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) 250/VIII/2021/SPKT Polda NTT.

Eddy Latuparissa usai melaporkan peristiwa tersebut mengatakan pada tanggal 12 Juni lalu ada acara peminangan salah satu ponakan Julian Hadjo dengan salah satu anggota polisi atas nama Aldo Raga Lau dirumah Putra Hadjo.

Dikatakan saat itu dirinya sementara mengikuti zoom meeting dengan panitia kaum. Setelah mengikuti pertemuan itu, dirinya istirahat. Namun sekitar pukul 02:00 Wita tanggal 13 Juni, sang istri membangunkan dirinya untuk mencari kedua anak perempuan keluarga ini yang masih berada di tempat acara.

TKP yang berada persis di samping rumah terlapor itu kemudian langsung mencari kedua buah hatinya. Saat tiba, ada anak perempuannya terlihat mabuk dan sedang dipeluk Bripda Randy.

Melihat hal itu sebagai orangtua tidak terima dan menarik anaknya agar segera pulang. Eddy yang hanya mengenakan celana pendek dan baju singlet langsung memukul Bripda Randy dibagian wajah hingga jatuh tersungkur ke tanah lalu terjadi keributan.

Setelah dilerai warga sekitar, Eddy dan Bripda Randy kembali ke rumah. Terlapor ternyata melaporkan Ketua LPM NBD itu ke Poksek Alak atas tuduhan pengeroyokan. Sedangkan pada 14 Juni, Eddy melaporkan perbuatan oknum polisi itu ke Propam Polda NTT dan dilakukan visum. “Saya dipanggil sebagai saksi untuk diperiksa. Setelah melapor di Propam mereka menyarankan untuk dilaporkan secara pidana,” katanya.

Menurutnya, melihat kondisi tersebut, sebenarnya sebagai anggota polisi harus melindunggi warga apa lagi melihat anak gadisnya sudah mabuk. “Mereka malah membangunkan anak saya lalu memberikan minuman. Buktinya saya saat sampai, ada dua gelas minuman ditangannya dan saya tanya bandarnya ternyat mereka paksa makanya saya langsung bawa anak saya pergi,” jelasnya.

San Albrenus Fattu, kuasa hukumnya mengaku pihaknya baru melaporkan kasus tersebut karena kliennya memiliki etikad baik untuk damai namun pelaku tidak datang untuk menyampaiakn permohonan maaf.

“Klien saya banyak kerjaan jadi tidak ingin memperpanjang kasus tersebut tetapi tidak ada niat dari pelaku lalu melaporkan lagi ke Polsek Alak jadi atas saran dari propam, kami baru melapor,” katanya.

Dikatakan sebagai kuasa hukum siap mendampingi kliennya hingga kasus tersebut tuntas sesuai aturan hukum yang berlaku.

“Kami serahkan kepada penyidik yang telah memeriksa klien saya. Semoga tidak ada unsur lain dalap penegakan hukum ini. Ia juga menyarankan agar bisa mengambil rekaman CCTV di rumah tersebut agar mengetahui secara jelas kejadian tersebut,” katanya.

San yang dikonfirmasi terkait status kliennya, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima surat pemanggilan pemeriksaan dan penetapan sebavai terdangka.

“Hari jumat ini kita akan menghadap karrna sudah ada penetapan tersangka. Sebagai warga negara yang baik, kita akan patuhi aturan hukum yang ada,” katanya. (mg29)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top