Taklukan Lahan Kering, Yohanes Malaipada Sukses Kelola Bisnis Hortikultura | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Taklukan Lahan Kering, Yohanes Malaipada Sukses Kelola Bisnis Hortikultura


PENAKLUK LAHAN KERING. Yohanes Malaipada, petani milenial yang sukses mengembangkan tanaman hortikultura di lahan kering miliknya di Jl. Taebenu, Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. (FOTO: DOK. SMK-PP Neg. Kupang)

PENDIDIKAN

Taklukan Lahan Kering, Yohanes Malaipada Sukses Kelola Bisnis Hortikultura


KUPANG-Gebrakan yang dilakukan petani milenial asal Kota Kupang, Yohanes Malaipada, layak dijadikan inspirasi. Sebab, ia mampu menaklukkan lahan kering dan sukses mengelola bisnis hortikultura.

Semangat itu sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) ketika berbicara mengenai petani milenial. “Petani milenial harus jeli melihat peluang yang besar untuk pengembangan produk pertanian, termasuk sektor hortikultura. Dengan memanfaatkan hortikultura, petani dapat mensupport kekuatan perekonomian negara,” kata SYL dalam keterangan tertulis Humas SMK PP Negeri Kupang, Rabu (18/8).

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementan, Dedi Nursyamsi mengungkapkan bahwa kemajuan sektor pertanian sangat didukung oleh SDM yang kompetitif.

“Pertanian membutuhkan SDM yang andal dan unggul sebagai pengusaha pertanian milenial andal, kreatif, inovatif, professional, serta mampu menyerap lapangan pekerjaan sektor pertanian sebanyak mungkin,” katanya.

Dan profil SDM Pertanian itu ada pada sosok Yohanes Malaipada. Dengan keuletan dan ketangguhannya, Yohanes mampu membuktikan meskipun berada di lahan kering tetap bisa menghasilkan produk pertanian hortikulturan yang berkualitas.

“Kami akan terus mengembangkan usaha sayur kailan, sayur lobak, sayur caisim, sayur pakcoy, tomat, sayur pitcay karena saat pandemi seperti ini, masyarakat meningkatkan imunitas tubuhnya dengan mengonsumsi sayur organik dan yang mudah didapat,” tutur Yohanes.

Kesuksesan bertaninya ia tularkan kepada petani sekitar dengan menjadi ketua kelompok tani SanJoss Organik Penfui yang berlokasi di Jl. Taebenu, Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Jenis pertanian yang diusahakan oleh Yohanes dan kelompoknya adalah pertanian lahan kering, dimana kebutuhan air tanaman tergantung sepenuhnya oleh air hujan dan tidak pernah tergenang air secara tetap.

“Secara lebih teknis musim tanam lahan kering kurang dari 120 hari dalam setahun. Musim tanam didasarkan atas keadaan musiman dan periode tanam potensial dalam satu tahun,” jelasnya.

Yohanes menambahkan, periode tanam pada pertanian lahan kering ditentukan oleh awal mulai hujan turun. Panjang periode tanam biasanya ditentukan berdasarkan data iklim rangkai waktu paling tidak selama 20 tahun yang kemudian diekstrapolasi dan dianalisis guna menentukan tanggal awal dan tanggal akhir untuk suatu kawasan.

Ciri utama yang menonjol di lahan kering adalah terbatasnya air, makin menurunnya produktivitas lahan, tingginya variabilitas kesuburan tanah, macam spesies tanaman yang ditanam, serta aspek sosial, ekonomi dan budaya.

“Pengembangan hortikultura pada lahan kering sebab lahan kering memiliki potensi dan peluang yang sangat besar untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Tantangan dalam mengembangkan usahanya selama ini adalah pasar yang masih kurang atau tidak tentu sehingga berpengaruh pada hasil yang dijual,” jelasnya.

Yohanes mengisahkan, selama ini, proses penjualan dan pemasaran sayuran ia lakukan kepada reseller dan rumah makan di Kota Kupang dan sekitarnya. Omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp 15 juta/bulan. (*/aln)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top