Kepala UPT-KPH Bantah Babat Hutan Bowosie, Pater Agot: Itu Kejahatan Ekologis | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kepala UPT-KPH Bantah Babat Hutan Bowosie, Pater Agot: Itu Kejahatan Ekologis


HASIL BABAT HUTAN. Kayu hasil membabat Hutan Bowosie yang sudah menjadi balok dan papan yang disimpan di dekat lokasi proyek di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mabar. Gambar diabadikan Kamis (26/8). (FOTO: HANS BATAONA/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Kepala UPT-KPH Bantah Babat Hutan Bowosie, Pater Agot: Itu Kejahatan Ekologis


Berdalih Ingin Bangun Sarpras Laboratorium Kultur Jaringan

LABUAN BAJO, TIMEXKUPANG.com-Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT-KPH) Dinas Kehutanan Manggarai Barat (Mabar), Stefanus Nali menolak bahkan membantah kalau adanya pembabatan hutan lindung Bowosie oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Satar Kodi, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo.

Stefanus berdalih bahwa yang terjadi adalah bagian dari pengelolaan hutan dengan pemanfaatan kawasan untuk merehabilitasi lahan kritis yang ada di Mabar khususnya dan Pulau Flores pada umumnya. “Ini bukan pembabatan hutan, tapi lebih kepada pengelolaan bahkan pamanfaatan hutan yang dalam kawasan itu tumbuh rumput alang-alang, dan penentuan lokasi itu sudah lama,” tegas Stefanus kepada TIMEX, di Labuan Bajo, Jumat (27/8).

Stefanus menjelaskan bahwa program ini sangat baik karena permintaan benih kayu tinggi dan banyak dari masyarakat, sementara persediaannya terbatas. Dengan persemaian benih modern ini bisa menjawab kebutuhan masyarakat kapan saja dari lokasi.

Dikatakan, rencana pembangunan persemaian benih modern ini sudah lama. Alasan memilih tempat itu karena lokasi sekitar sebagian besar ditumbuhi kayu tiang dan tumbuhan rumput alang-alang sehingga disebut Satar Kodi atau lahan kosong bukan seluruh kawasannya hutan kayu.

BACA JUGA: Ansy Lema Kritik Pembabatan Hutan Bowosie di Mabar

BACA JUGA: KLHK Babat Hutan Lindung di Mabar, Politikus PAN: Ini Sadis dan Menghancurkan

Selain itu, lanjut Stefanus, pemilihan lokasi itu karena mudah dijangkau masyarakat dengan lokasi yang strategis dipinggir jalan raya sehingga memudahkan jika masyarakat ingin mendapatkan benih untuk ditanam.

Kepala UPT-KPH Mabar, Stefanus Nali. (FOTO: HANS BATAONA/TIMEX)

Stefanus juga mengaku dengan dibangunnya lokasi persemaian benih permanen ini akan dibangun juga laboratorium kultur jaringan yang hanya ada di beberapa daerah tertentu termasuk di Manggarai Barat. Manfaatnya, tanaman itu bisa tumbuh dari jaringan daun atau jaringan batang. “Jadi bukan hanya biji tanaman yang bisa dijadikan benih, tetapi bisa dari batang atau daun,” ujarnya.

Smentara itu, Bupati Mabar, Edistasius Endi mengatakan perlunya penyamaan persepsi, bahwa harus melihat secara keseluruhan desain program pembangunan. Tidak hanya itu, tentang pembabatan lahan dirinya mengajak untuk berpikir secara komprehensif bahwa sebelum melakukan kegiatan itu, pihak Kementerian LHK tentu sudah melakulan kajian, analisa yang mendalam akan dampak yang bakal timbul sebagai akibat yang timbul dari pekerjaan itu. “Kita akan evaluasi dampak, kalau positif kenapa harus stop, tetapi kalau berdampak negatif harus stop,” tandas Bupati Endi.

Aktivis lingkungan, P. Marsel Agot, SVD mengecam keras langkah Kementerian LHK yang membabat hutan Bowosie hanya untuk sekadar proyek sesaat tanpa mempertimbangkan dampak yang lebih besar dari ribuan nyawa manusia yang hidup di Kota Labuan Bajo yang bergantung pada sumber air sebagai sumber hidup utama.

“Saya tidak habis pikir cara kerja KLHK, warga Labuan Bajo selama ini teriak ketiadaan air bersih karena sumber air mulai kering tetapi malah sekarang KLHK yang babat hutan. Ini namanya kejahatan ekologis. Orang kalau tanam pohon supaya dapat air tetapi ini babat pohon untuk menghilangkan air, parah,” tandas P. Marsel dengan nada kesal. (Krf7)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top