Presiden Joe Biden Ungkap Alasan AS Akhiri Operasi Militer di Afghanistan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Presiden Joe Biden Ungkap Alasan AS Akhiri Operasi Militer di Afghanistan


ERA BARU AS. Presiden AS, Joe Biden. Ia menegaskan bahwa penarikan pasukan dari Afghanistan menjadi tanda era baru kebijakan luar negeri AS. (FOTO: Reuters/JawaPos.com)

PERISTIWA/CRIME

Presiden Joe Biden Ungkap Alasan AS Akhiri Operasi Militer di Afghanistan


WASHINGTON, TIMEXKUPANG.com-Tragedi di Afghanistan mencoreng pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Kritikan kepadanya datang bertubi-tubi. Namun, politikus Partai Demokrat itu tidak menyesalinya. Dia menegaskan bahwa penarikan pasukan dari Afghanistan menjadi tanda era baru kebijakan luar negeri AS. Negeri Paman Sam itu akan mengurangi ketergantungan pada kekuatan militernya.

”Keputusan terkait Afghanistan bukan hanya tentang negara itu saja. Ini tentang mengakhiri era operasi militer besar-besaran untuk menata ulang negara lain,” tegasnya seperti JawaPos.com kutip dari The Guardian.

Biden menyatakan siap bertanggung jawab atas peristiwa di Afghanistan. Dia mengakui, pemerintahannya tidak mengantisipasi bahwa pasukan Afghanistan bakal dikalahkan Taliban begitu cepat. AS sempat memperkirakan Taliban menguasai Kabul dalam 90 hari. Tapi, kenyataannya pasca pernyataan tersebut, ibu kota Afghanistan itu justru dikuasai Taliban hanya dalam waktu sepekan.

Tapi, Biden tidak mau disalahkan sendirian. Menurut Biden, dirinya mendapatkan ”warisan” kesepakatan Doha dari pendahulunya, mantan Presiden AS Donald Trump. Suami Melania itulah yang menyetujui penarikan pasukan AS sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Taliban. Kesepakatan tersebut juga membuat lima ribu tahanan Taliban dibebaskan. Beberapa di antaranya adalah komandan perang utama mereka yang kini mengambil alih Afghanistan.

Ketika Biden mengambil alih pemerintahan, Taliban dalam posisi militer terkuat sejak 2001. Mereka sudah mengontrol ataupun memerangi separo Afghanistan. Jadi, Biden punya dua pilihan. Mengikuti keputusan rezim sebelumnya atau kembali berperang dengan menempatkan puluhan ribu pasukan. ”Saya tidak akan memperpanjang perang ini selamanya,” tegasnya. Dia juga mengakui telah salah memercayai mantan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Dia justru melarikan diri dan menyerahkan negaranya begitu saja.

BACA JUGA: Pemerintah Evakuasi 26 WNI dari Afghanistan, Menlu Retno: Alhamdulillah

Selama operasi evakuasi 17 hari, AS berhasil menerbangkan 124 ribu warga sipil. Sebanyak 5.500 di antaranya adalah warga AS. Saat ini hanya tersisa sekitar 100–200 penduduk AS di Afghanistan yang ingin kembali pulang.

Pascaevakuasi, masih ada tugas berat yang harus ditangani pemerintah AS. Saat ini ada sekitar 14.900 pengungsi Afghanistan yang masih berada di Pangkalan Udara Militer AS di Ramstein-Miesenbach, Jerman. Itu tiga kali lipat dari jumlah penduduk di area tersebut. Secara berkala, mereka akan diproses untuk masuk ke AS.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belanda Sigrid Kaag mengungkapkan bahwa mereka akan memindahkan misi diplomatik dari Kabul ke Doha, Qatar. Saat ini mereka merasa Afghanistan belum aman. Taliban memiliki kantor di Doha. AS dan Inggris sudah melakukannya lebih dulu.

Perwakilan Khusus Inggris untuk Transisi Afghanistan Simon Gass juga berada di Doha. Pria yang juga ketua komite intelijen gabungan itu tengah bernegosiasi dengan Taliban agar memberikan akses aman bagi warga Inggris yang masih ada di negara tersebut serta warga Afghanistan yang pernah bekerja untuk mereka. Penduduk yang akan dievakuasi itu bakal terlebih dahulu diarahkan ke negara-negara tetangga seperti Pakistan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Proses evakuasi memang belum tuntas karena AS kukuh menarik pasukan pada 31 Agustus lalu. Masih ada ribuan penduduk Afghanistan dalam daftar berisiko tinggi yang belum bisa diterbangkan. Mereka itu adalah orang-orang yang dulu pernah bekerja untuk warga asing. Baik sebagai penerjemah maupun bekerja di bidang lainnya.

Diperkirakan, ada sekitar seribu penerjemah dan keluarganya yang masih di Afghanistan dan terdaftar untuk dimukimkan di Inggris. (sha/c7/bay/JPG)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top