Hancur Akibat Badai Seroja, Anggota Ditpolair Polda NTT Transplantasi Terumbu Karang di Teluk Kupang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Hancur Akibat Badai Seroja, Anggota Ditpolair Polda NTT Transplantasi Terumbu Karang di Teluk Kupang


TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG. Empat anggota Direktorat Polair Polda NTT, PSDKP Kupang dan perwakilan dua komunitas melakukan transplantasi terumbu karang di wilayah Teluk Kupang, Minggu (5/9). (FOTO: ISTIMEWA)

KABAR FLOBAMORATA

Hancur Akibat Badai Seroja, Anggota Ditpolair Polda NTT Transplantasi Terumbu Karang di Teluk Kupang


Kerja Sama dengan PSDKP, Komunitas Au Manekat Tasi dan Komunitas Underwater Kupang

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Badai Siklon Tropis Seroja yang menghantam beberapa wilayah di Provinsi NTT awal April lalu, bukan saja berdampak di daratan. Selain korban nyawa dan rusaknya sejumlah fasilitas dan rumah serta sarana lainnya, ekosistem laut di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya juga hancur diterjang badai Seroja. Sejumlah terumbu karang hancur karena badai Seroja. Proses pemeliharaan dan pemulihan terumbu karang yang rusak pun butuh waktu lama dan dana yang tidak sedikit.

Atas pertimbangan tersebut, sejumlah anggota Direktorat Polair Polda NTT mewujudkan kepeduliannya dengan melakukan langkah nyata menyelamatkan terumbu karang tersebut. Mereka menggandeng PSDKP Kupang dan komunitas Au Manekat Tasi (Beta/Aku Cinta laut) serta Komunitas Underwater Kupang menyelamatkan terumbu karang di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.

Minggu (5/9), empat anggota Direktorat Polair Polda NTT, PSDKP Kupang, dan perwakilan dua komunitas ini melakukan transplantasi terumbu karang di wilayah Teluk Kupang.

Transplantasi merupakan teknik pelestarian atau rehabilitasi terumbu karang yang terdegradasi dengan teknik pencangkokkan. Transplantasi karang ini berperan dalam mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak akibat badai Seroja dan juga untuk membangun daerah terumbu karang yang baru yang sebelumnya tidak ada.

Aipda Joel Bolang dan rekannya mengawalinya dari wilayah rumah tujuh, Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT menggunakan RIB Intercept.

Ada 150 terumbu karang di sekitar Teluk Kupang yang di transplantasi. “Kegiatan sosial ini dilaksanakan sebagai upaya pemulihan kembali terumbu karang yang hancur akibat badai Seroja beberapa waktu lalu, mengingat pentingnya peran terumbu karang bagi ekosistem laut,” ujar Aipda Joel Bolang, salah satu anggota Dit Polair Polda NTT yang menggagas kegiatan ini.

Keterpanggilan memelihara terumbu karang berawal pada tahun 2013 lalu. Saat itu ia mengajak rekannya melakukan snorkling. Rekannya berasal dari berbagai kalangan.

Di tahun 2016, Aipda Joel Bolang mengikuti pendidikan instruktur dan mulai aktif melakukan snorkling memantau terumbu karang. “Setiap akhir pekan kami menyelam dan terumbu karang di sekitar Nunhila hingga Tenau sangat bagus,” ujarnya.

Namun sejak badai Seroja, terumbu karang mulai rusak. Kerusakan terumbu karang mencapai hingga 80 persen. “Untuk bisa normal kembali butuh waktu lama,” tandasnya.

Untuk itu, kata Aipda Joel, sejak April 2021 lalu, mereka melakukan upaya pencarian dana. Salah satunya dengan mengumpulkan kertas dan koran bekas kemudian dijual. Mereka juga menjual baju kaos dan keuntungan hasil penjualan dipakai untuk membeli bahan-bahan yang bisa dipakai memelihara terumbu karang.

“Hasil penjualan kami pakai membeli bahan-bahan transplantasi dan sewa alat selam untuk perbaikan terumbu karang. Kegiatan ini kami buat secara mandiri dan kebetulan kami juga instruktur menyelam sehingga kami ajak bekas murid dan rekan penyelam untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini,” ujarnya, Senin (6/9).

Aipda Joel menyebutkan, berdasarkan hasil identifikasi mereka, lokasi terumbu karang yang rusak itu di sepanjang Teluk Kupang, mulai dari Pantai Kelurahan Nunhila hingga ke Tenau, Kecamatan Alak. “Tingkat kerusakan diperkirakan lebih dari 80 persen,” bebernya.

Aipda Joel menyatakan, mereka menargetkan perbaikan 1.000 bibit di sekitar perairan rumah tujuh Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Saat melakukan transplantasi terumbu karang, Aipda Joel dan rekannya terlebih dahulu melakukan identifikasi terumbu karang yang direhabilitasi dan mencari sumber karang dari fragmen karang yang terlepas karena proses alami karena badai dan arus laut yang kuat. Fragmen karang juga diambil dari donor koloni karang.

Mereka harus ke Pulau Semau mencari bibit karang. Ada 150 bibit karang yang dipilih. “Memilih bibit pun harus teliti. Tidak boleh lebih dari 10-15 centimeter karena banyak juga karang di Semau yang rusak,” sebut Aipda Joel Bolang.

Bibit yang diambil juga pada kedalaman 6-8 meter dan ditanam juga pada kedalaman yang sama. Bibit yang ada diikat pada rangka dan langsung dipasang. Ada 8 orang yang turun ke laut menanam karang tersebut ditambah 10 orang yang melakukan snorkling.

Aipda Joel Lolang tidak sekedar menanam. Namun ke depan mereka akan turun lagi ke lokasi untuk mengecek perkembangan dan kebersihan.

Kegiatan transplantasi bertujuan menunjang geliat ekonomi masyarakat pesisir, karena ketersedian karang yang tetap terjamin, mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara karena dengan melestarikan terumbu karang, maka secara langsung akan mendukung peningkatan pariwisata di Indonesia.

Selain itu untuk pengelolaan perikanan karena ekosistem yang berada di sekitar karang juga cukup penting untuk dijaga. “Pelestarian karang bermanfaat untuk menunjang pengelolaan perikanan. Habitat terumbu karang yang hancur akan menyebabkan ikan-ikan kecil di sekitarnya tidak memiliki tempat untuk berlindung, bertelur dan beregenerasi. Sehingga, secara mata rantai akan merusak ekosistem ikan besar berikutnya,” ujarnya.

Usaha rehabilitasi karang berupa transplantasi terumbu karang juga membawa manfaat lain untuk mempercantik ekosistem laut perairan dan membuatnya lebih hidup, membantu kelestarian jenis ikan tertentu yang terancam punah dan menghidupkan kembali ekosistem ikan tersebut serta menjaga keseimbangan alam perairan mulai dari ikan kecil hingga ikan yang lebih besar.

“Termasuk mendukung industri pariwisata dan perdagangan ikan serta menjaga keanekaragaman hayati di perairan,” ujarnya.

Terumbu karang sendiri merupakan ekosistem bawah laut yang terdiri dari kumpulan binatang karang yang kemudian membentuk batu kapur atau struktur karbonat. Ekosistem terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai organisme laut dan tempat peneluran dan pembesaran anak-anak ikan. (mg25)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top