Tetua Adat Gelar Ritual, Minta Petunjuk Leluhur Keberadaan Korban Hilang di Malapedho | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Tetua Adat Gelar Ritual, Minta Petunjuk Leluhur Keberadaan Korban Hilang di Malapedho


RITUAL ADAT. Tetua adat menggelar ritual khusus di lokasi banjir bandang Dusun Malapedho C, Desa Inerie, Kabupaten Ngada, Rabu (8/9) untuk meminta petunjuk leluhur mengenai keberadaan korban banjir yang belum ditemukan hingga kemarin. (FOTO: Saver Bhula/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Tetua Adat Gelar Ritual, Minta Petunjuk Leluhur Keberadaan Korban Hilang di Malapedho


BAJAWA, TIMEXKUPANG.com-Belum adanya titik terang atas upaya pencarian terhadap korban hilang pasca banjir bandang di Dusun Malapedho, Desa Inerie, Kabupaten Ngada, membuat tetua ada setempat menggelar ritual khusus.

Ritual adat ini dilakukan pada Rabu (8/9) dengan tujuan agar para leluhur bisa memberi petunjuk terkait keberadaan korban yang masih dinyatakan hilang, yakni Mikel Jekot.

Berdasarkan pantauan TIMEX, ritual adat tersebut dilakukan oleh tokoh adat Yosep Wea dan Yosep Sola. Ritual itu dilakukan dengan menyembelih seekor babi lalu mengambil hatinya yang diletakan di atas wadah atau nampan, dan melalui proses ini diharapkan ada petunjuk mengenai keberadaan korban hilang tersebut. Dan berdasarkan petunjuk yang ada, posisi korban tidak jauh dari lokasi rumahnya.

Camat Inerie, Ignasius Dhedho kepada TIMEX mengatakan, ritual adat itu untuk meminta petunjuk para leluhur sehingga korban Mikel Jekot yang belum ditemukan selama lima hari pencarian, bisa segara ditemukan melalui petunjuk yang ada.

BACA JUGA: Hari Kelima Pencarian, Korban Hilang Banjir Malapedho Belum Ditemukan

Setelah ritual adat itu, tim Basarnas, PMI, TNI, Polri, BPBD Ngada dibantu masyarakat setempat melanjutkan pencarian terhadap korban.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada, Bernard Ferdinan Burah mengatakan, ritual adat ini sesuai dengan budaya masyarakat setempat, sehingga leluhur dapat memberikan petunjuk dimana korban berada. “Kita meminta bantuan kepada nenek moyang, leluhur kita untuk menemukan, kira-kira korban ada dimana. Itu yang jadi kepercayaan masyarakat di sini,” ungkapnya.

Bernard mengatakan, meskipun tetua adat di Kampung Malapedho melakukan ritual adat tetapi secara teknis tim gabungan terus melakukan pencarian. “Karena kalau berkaitan dengan ritual adat itu menjadi urusan dari masyarakat. Tapi secara teknis kami yang bertanggung-jawab,” terangnya.

Bernard menambahkan, ritual adat tersebut sudah dilakukan selama empat kali. Bahkan upacara ritual adat juga dilakukan ditempat lain. “Tadi ritual itu dilakukan di sini, untuk meminta petunjuk dari para leluhur dimana keberadaan korban,” ungkapnya.

Hadir dalam ritual adat tersebut, yakni Camat Inerie Ignasius Dhedho, Kapolsek Aimere yang diwakili Kanit Binmas, Aipda Gabriel Radho, Danramil 1625-02 Aimere, Pelda Primus F. Martin, tim Basarnas Maumere, dan Kepala Desa Inerie, Benediktus Milo. (*)

Penulis: Saver Bhula

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Baca koran edisi : 19 Desembar 2021

Populer

To Top