Hadirkan Pendidikan Merata dan Adil Selama Covid-19, SMPN 6 Kota Kupang Ciptakan “AYO BM” | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Hadirkan Pendidikan Merata dan Adil Selama Covid-19, SMPN 6 Kota Kupang Ciptakan “AYO BM” 


darin

PENDIDIKAN

Hadirkan Pendidikan Merata dan Adil Selama Covid-19, SMPN 6 Kota Kupang Ciptakan “AYO BM” 


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang bekepanjangan telah mengganggu aktifitas diberbagai sektor. Salah satunya sektor pendidikan. Sejak tahun 2020 lalu, sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk di NTT, khususnya Kota Kupang, terpaksa melaksanakan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis online atau dalam jaringan (Daring) atau belajar dari rumah (BDR).

Sistem PJJ ini juga diterapkan di SMP Negeri 6 Kupang. Sekolah yang dipimpin Aryandi Benny Mauko, S.Pd., M.Hum ini lantas berinovasi untuk bisa memberi layanan pendidikan yang adil dan merata kepada seluruh anak didiknya selama masa pembelajaran daring.

Kepala Sekolah (Kasek) yang akrab disapa Benny ini mengatakan, selama tahun pelajaran 2020/2021 dan tahun pelajaran 2021/2022 yang sedang berjalan, pihaknya mengambil langkah strategis dengan membentuk satuan tugas (Satgas) khusus untuk mendukung kelancaran pelaksanaan sekolah daring ini. “Satgas itu kami namakan AYO BM. Artinya Ayo Belajar Mandiri,” ungkap Benny ketika diwawancarai, di Kupang, Kamis (26/8/2021).

Menurut Benny, Satgas yang dibentuk ini ia bagi dalam dua divisi. Divisi I khusus mengelola pembelajaran daring, sedangkan Devisi II khusus mengelola pembelajaran luring (luar jaringan). Ketika awal-awal tahun pelajaran 2020/2021, karena Kota Kupang masih zona hijau, SMP Negeri 6 Kupang menerapkan sistem campuran, artinya ada yang belajar daring, dan ada yang luring.

Khusus untuk pembelajaran luring, kata Benny, mekanisme yang dipakai adalah siswa dibagi per kelompok, baik yang Kelas 7, 8, dan Kelas 9. Masing-masing kelompok berisi 10 siswa, dimana pembagiannya diatur dengan melihat tempat tinggal atau zona tinggal siswa. “Kita batasi per kelompok 10 siswa dengan mempertimbangkan penerapan protokol kesehatan. Dan strategi ini kami yang pertama lakukan di Kota Kupang,” kata Benny.

Bagaimana teknis pelaksanaannya? Menurut Benny, setelah para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan tempat tinggal, ia lalu menyampaikan kepada para orang tua siswa dan bersepakat untuk mengambil satu titik kumpul agar guru bisa mendatangi kelompok tersebut.

“Jadi sebelum diterapkan, kami dari sekolah rapat dengan orang tua. Kami sampaikan pembagian kelompok ini lalu orang tua siswa bersama guru pendamping bersepakat mau gunakan rumah yang mana sebagai titik kumpul kelompok. Kita berterima kasih kepada orang tua, penerapan sistem ini dapat berjalan dengan baik karena orang tua mendukung,” ujar Benny.

Dalam pembelajaran kelompok ini, guru-guru diatur untuk mengajar secara bergiliran sesuai mata pelajarannya. Pembelajaran secara berkelompok ini hanya berlangsung dua jam, dari jam 08.00 – 10.00 Wita. Agar maksimal, lanjut Benny, pengaturan belajar kelompok diatur per dua pekan. Jadi dua pekan pertama itu khusus untuk kelas 7, dua pekan berikut untuk kelas 8, dan dua pekan berikutnya lagi untuk kelas 9.

Dalam dua pekan pembelajaran kelompok itu, demikian Benny, waktu pertemuannya berlangsung selama lima hari, dari Senin sampai Jumat, dan hari Sabtu guru-guru melakukan evaluasi proses pembelajaran yang telah berlangsung.

Para siswa SMP Negeri 6 Kupang dalam sesi pembelajaran daring. (FOTO: DOK. SMPN 6 KUPANG)

Pengaturan ini, sambung Benny, dibuat dengan maksud agar memudahkan distribusi guru-guru yang mengajar pada tiap kelompok, sebab SMP Negeri 6 masih terbatas jumlah tenaga pengajarnya. “Guru-guru kita di SMP Negeri 6 Kupang ada 57 orang. Guru ASN 37 orang, dan guru non ASN atau honor itu 20 orang,” sebut Benny.

Benny mengaku, selama 10 hari pertemuan di kelompok, ada 10 mata pelajaran yang tersampaikan kepada para siswa. Pelayanan pendidikan yang disampaikan kepada para siswa juga merujuk pada edaran Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), dimana target capaian kurikulum di masa pandemi adalah 50 persen. “Target kurikulum ini juga kita merujuk pada juknis yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kota Kupang,” ucap Benny.

Benny menyatakan, ketika Kota Kupang naik status ke zona merah karena angka Covid-19 terus meningkat, pihak sekolah mengambil keputusan untuk menghentikan sistem belajar kelompok dengan titik kumpul zona tinggal siswa ini. “Proses pembelajaran kami alihkan seluruhnya ke sistem daring berbasis google class room,” beber Benny.

Agar sistem pembelajaran daring ini efektif, kata Benny, pihaknya mengambil langkah membekali guru-gurunya dengan kemampuan mengelola teknologi informasi (TI). Hal ini dilakukan dengan menggandeng beberapa pakar guna membekali guru-guru kompetensi mengelola pembelajaran secara daring gunakan class room. Misalnya bekerjasama dengan beberapa dosen FKIP Undana, guru dari SMK Negeri 2 Kupang, juga Yandri Snae sebagai Widyaprada untuk rancang pembelajaran menggunakan power point interaktif.

“Jadi para ahli ini kita minta bantuan ajari guru-guru di SMP Negeri 6 Kupang untuk bagaimana buat materi tayang gunakan power point interaktif. Jadi guru mengajar online tapi tetap interaktif dengan siswa. Tujuannya supaya siswa tidak bosan selama belajar, termasuk ketika guru menyampaikan pre test dan post test juga dengan game-game yang menarik perhatian siswa,” jelas alumnus FKIP Undana Prodi Bahasa Indonesia ini.

Selain itu, kata Benny, untuk mendukung pembelajaran daring, SMP Negeri 6 Kupang melakukan kerja sama dengan salah satu dosen Elektro Politeknik Negeri Kupang (PNK), Christian Mauko, ST., MT untuk mengembangkan jaringan internet terintegrasi dengan kapasitas 500 user. “Jadi hari ini, seluruh lingkungan sekolah terakses jaringan internet. Setiap guru, siswa maupun tamu sebagai user, masing-masing telah disiapkan id dan password untuk mengakses internet sekolah,” papar sosok peraih Indonesian Awards of Education dari Yayasan Anugerah Prestasi Insani (YAPI Awards) di Jakarta tahun 2016.

Benny menuturkan, ketika sistem ini berjalan, tentu sekolah juga memikirkan solusi bagi siswa yang orang tuanya terbatas secara ekonomi, tidak punya kemampuan mengadakan alat pendukung belajar bagi anak, misalnya handphone atau laptop. Benny mengaku, ini merupakan salah satu kendala, namun ia tetap menerapkan prinsip di SMP Negeri 6 Kupang, bahwa semua siswa harus mendapatkan akses layanan pendidikan yang adil dan merata. Siapa pun siswa dengan latar belakang kehidupan ekonomi keluarganya, harus bisa mengakses pendidikan daring di SMP Negeri 6 Kupang.

“Bagi yang tidak punya HP atau pulsa atau laptop, kita tetap layani dengan sistem pembelajaran luring. Kami di sekolah siapkan copy-an bahan ajar untuk siswa, nanti orang tua atau siswa mengambil ke sekolah, lalu siswanya pelajari materi itu di rumah lalu hasil pekerjaannya dikumpulkan lagi di sekolah. Cara lainnya, kalau tidak bisa ke sekolah, siswa yang tidak punya HP, bisa bergabung ke teman terdekatnya yang punya HP atau laptop untuk belajar bersama secara daring. Nanti ada tugas, yang tidak punya HP itu bisa kerjakan dan hasilnya dibawa ke sekolah, sementara yang punya HP atau laptop bisa langsung kirim ke class room yang ada,” urai salah satu finalis Kepala Sekolah Berprestasi Nasional tahun 2018 ini.

BELAJAR KELOMPOK. Seorang guru SMP Negeri 6 Kupang saat mengajar di salah satu titik kumpul dalam pembelajaran kelompok semester lalu tahun pelajaran 2020/2021. (FOTO: DOK. SMPN 6 KUPANG)

Masih menurut Benny, sepanjang semester lalu tahun pelajaran 2020/2021, dari hasil evaluasi terhadap dua mekanisme pembelajaran ini, baik kelompok dan daring, pelaksanaannya sangat efektif. Walau demikian, ada pengakuan Benny juga bahwa dari total 800 siswanya (Kelas 7 sebanyak 241 siswa, Kelas 8 berjumlah 309 siswa, dan Kelas 9 sebanyak 250 siswa), ada beberapa orang tua yang slow respon. Bahkan tidak merespon sama sekali. Partisipasinya rendah sekali.

“Ketika No HP yang dikasih kita hubungi, tidak bisa tersambung atau di luar jangkauan. Begitu juga siswa, ada yang pasif sekali selama belajar. Menghadapi yang seperti ini, kami beri perhatian khusus, dengan pertimbangan demi masa depan anak-anak kita,” tutur Benny.

Perhatian khusus itu, sebut Benny, misalnya ada siswa yang tidak tuntas beradasarkan hasil penilaian guru, e-Raport-nya tidak langsung diberikan. Guru lakukan pembimbingan terhadap siswa untuk tuntaskan materi yang belum tuntas itu. Sementara siswa yang sudah tuntas, e-Raport-nya langsung diberikan.

Bagi siswa yang tidak tuntas, Guru BP/BK diminta bekerjasama dengan guru mata pelajaran untuk buat profil akademik setiap siswa. Ini untuk memastikan sejauh mana siswa menempuh kriteria ketuntasan dalam kurikulum yang ada. Dalam kriteria ketuntasan belajar siswa, tiga mata pelajaran tidak tuntas, tidak naik kelas.

“Langkah ini kami lakukan untuk tujuan layanan pendidikan yang berkeadilan dan merata, dengan tetap memperhatikan kualitas atau mutu pendidikan itu sendiri. Hasil kita tidak berikan gratis, tapi layanan pendidikannya yang dipermudah. Sebab yang dinilai bukanlah hasil akhir, tapi kita melihat bagaimana keaktifan para siswa selama belajar,” kata Benny lagi.

Pada semeter ini, di tahun pelajaran 2021/2022, Benny mengatakan bahwa format pembelajaran yang dipakai tetap sama dengan semester sebelum. Karena Kota Kupang masih zona merah, formatnya tetap daring. Setiap hari dilakukan belajar daring dengan tiga mata pelajaran. Guru wajib tatap muka dengan siswa meskipun secara online agar ada komunikasi antarguru dan para siswa. Ada saling kenal antara guru dan siswa. Jika hal ini tidak dilakukan, ada relasi sosial yang hilang, baik antara siswa dan guru, juga siswa dengan siswa sendiri. Bisa-bisa mereka tidak saling mengenal kalau tidak tatap muka.

Benny menyebutkan, hasil evaluasi selama proses pembelajaran jarak jauh ini, tingkat partisipasi siswa cukup tinggi.

Benny menambahkan, untuk semester ini, pihaknya mengembangkan juga website sekolah guna mendukung proses pembelajaran. Langkah ini diambil berdasarkan hasil rapat pihak sekolah bersama para orang tua Desember 2020 lalu. Website ini dikembangkan untuk memudahkan guru dan siswa, terutama para siswa mengakses pembelajaran dari mana saja. Berbagai format pembelajaran bisa dilihat di website yang dikembangkan oleh tim khusus multimedia yang dibentuk SMP Negeri 6 Kupang.

Hal lainnya, demikian Benny, pihaknya juga mendorong guru-guru di sekolah itu untuk terus mengembangkan kualitas atau kompetensinya. Saat ini, terdapat empat orang guru di sekolah itu yang sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) sebagai guru penggerak program Kemendikbudristek. Dan merupakan jumlah terbanyak di Kota Kupang yang lolos seleksi guru penggerak. Selain itu, ada satu orang guru yang sedang mengikuti pelatihan sebagai master trainner google.

“Apa yang dilakukan ini, sekali lagi demi mewujudkan layanan pendidikan yang berkeadilan dan merata bagi seluruh siswa. Dan selama proses pembelajaran, baik sistem kelompok lalu daring, saya selalu ingatkan guru-guru untuk menjaga penerapan protokol kesehatan dengan terus mengingatkan para siswa,” pungkas Benny. (aln)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

Baca koran edisi : 19 Desembar 2021

Populer

To Top