SMAN 1 Kupang Bimbing 30 Siswa Jadi Agen Anti Perundungan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

SMAN 1 Kupang Bimbing 30 Siswa Jadi Agen Anti Perundungan


CEGAH PERUNDUNGAN. Kabid Kebudayaan, Dinas P dan K NTT, Robby A. Ndun (tengah), wakil dari Alianzi Penghapusan Kekerasan terhadap Anak Provinsi NTT, Slamet Kusharyandi, dan Kepala SMAN 1 Kupang, Marselina Tua saat pembukaan Sosialisasi dan Bimtek Pencegahan Perundungan di SMAN 1 Kupang, Jumat (10/9). (FOTO: HUMAS SMAN 1 KUPANG for TIMEX)

PENDIDIKAN

SMAN 1 Kupang Bimbing 30 Siswa Jadi Agen Anti Perundungan


Lewat Sosialisasi dan Bimtek Pencegahan Perundungan

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kupang menggelar sosialisasi dan bimbingan teknik (Bimtek) pencegahan perundungan (bully) dengan menghadirkan para siswa sebagai peserta. Sebanyak 30 siswa dilibatkan dalam kegiatan yang akan berlangsung selama 10 kali pertemuan itu.

Bimtek yang berlangsung di ruang guru SMAN 1 Kupang, Jumat (10/9) ini dibuka Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Robby A. Ndun, S.Pd., MM mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Dalam sambutannya, Robby Ndun menyatakan mendukung program pemerintah dengan membentuk agen pencegahan perundungan di sekolah sebagai bentuk perwujudan pembentukan profil pelajar Pancasila. Karena itu, Robby menyatakan mengapresiasi SMAN 1 Kupang yang sudah menggelar sosialisasi dan bimtek ini.

SMA Negeri 1 Kupang sebagai sekolah favorit di NTT, kata Robby, merupakan salah satu sekolah penggerak yang terpilih menerima Bantuan Pemerintah Pencegahan Perundungan tahun 2021.

Kepala SMAN 1 Kupang, Dra. Marselina Tua, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa, Bimtek Pencegahan Perundungan ini merupakan program pemerintah pusat untuk mengatasi tiga dosa besar di dunia pendidikan yang pernah diungkapkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, yakni, pertama, kekerasan seksual, kedua, perundungan atau bullying, dan ketiga adalah intoleransi.

“Jadi tiga dosa besar dalam dunia pendidikan ini harus dihapuskan atau harus diberantas sampai akar-akarnya lewat pembudayaan supaya tidak ada lagi kegiatan itu di tingkat satuan pendidikan,” kata Marselina dalam keterangan tertulis Humas SMAN 1 Kupang, Selasa (14/9).

Dalam program sekolah penggerak, demikian Marselina, bullying ini juga merupakan program yang harus dilakukan beriringan dengan program sekolah penggerak. Jadi dalam tahapan sekolah penggerak itu selama tiga tahun, sejak awal dicanangkan, diharapkan pada akhir tahapan atau program, sekolah itu sudah harus bebas dari kegiatan perundungan atau bullying.

“Jadi mulai ada pembudayaan, kalau dulu kita kenal dengan sekolah ramah anak, bagaimana sekolah itu menjadi taman seperti yang pernah dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, tidak boleh terjadi bullying, baik dari guru ke siswa ataupun siswa ke guru atau sesama guru ataukah sesama siswa, tidak boleh terjadi seperti itu,” jelas Marselina.

“Contoh bullying, misalnya kita mengambil atau melakukan atau menggunakan hal-hal yang kita anggap sebagai sesuatu yang seolah-olah biasa atau mengakrabkan tapi ternyata itu merupakan suatu bullying karena kita tidak tahu hati orang seperti apa. Misalnya memanggil seseorang tidak dengan menyebutkan nama, namun dengan menonjolkan ciri-ciri fisiknya, ini termasuk bullying,” urainya.

Marselina lebih jauh menjelaskan mengenai ciri-ciri bullying. Pertama, dilakukan secara berulang-ulang. Kedua, dilakukan dengan cara sengaja. Ketiga, ada perbedaan kekuasaan atau perbedaan power. Ini biasanya dilakukan oleh orang yang marasa dirinya lebih berkuasa. Contoh guru ke siswa atau kekuasaannya secara sosial ekonomi atau status sosial seseorang yang merasa dirinya lebih hebat dari orang lain, kemudian melakukan bullying atau bullying kakak kelas terhadap adik kelas.

Siswa-siswi SMAN 1 Kupang yang menjadi peserta Bimtek Pencegahan Perundungan. (FOTO: Humas SMAN 1 Kupang for TIMEX)

“Nah hal ini tidak boleh terjadi karena menurut penelitian, bullying ini bisa menjadi akar kejahatan di masa depan. Bullying ini membuat seseorang menarik diri dari pergaulan, menjadi rendah diri, bahkan ada yang sampai tidak mau sekolah, tidak mau berinteraksi, dan yang paling sadis, dia (Korban bullying, Red) bisa melakukan hal-hal yang lebih berbahaya, misalnya bunuh diri karena bully,” tegas Marselina yang mengaku pernah jadi korban bullying ketika masih berstatus pelajar dulu.

Apa yang membuat seseorang itu bertahan, tidak terpengaruh oleh bullying, kata Marselina, jika dia memiliki citra positif terhadap dirinya. “Jadi memang diharapkan dalam pelatihan agen-agen anti perundungan ini, anak-anakku, kalian harus bangga. Kalian terpilih menjadi agen anti perundungan, secara nasional, kalian inilah agen of change yang akan merubah pembiasaan bullying yang terjadi pada anak remaja, anak sekolah atau ditingkat sekolah itu tidak boleh terjadi karena hal itu merupakan akar dari kejahatan. Jadi kalian harus bangga terpilih secara nasional menjadi agen-agen anti perundungan,” ungkap Marselina.

“Tuhan sudah memilih Anda untuk berbuat sesuatu yang baik, Anda akan menjadi agen anti perundungan, baik bagi teman, di lingkungan sekolah, di lingkungan keluarga, dan lingkungan pergaulan Anda. Andalah orang-orang yang luar biasa, dan saya percaya jika Anda lakukan dengan hati yang tulus, maka Andalah calon-calon pemimpin masa depan. Anda akan paham bahwa perundungan itu tidak boleh, perundungan itu harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Terima kasih untuk kesediaan kalian menjadi agen of change, agen anti perundungan, biarlah sekolah kita akan bebas dari yang namanya perundungan. Perundungan tidak boleh terjadi, baik dari guru ke siswa, guru dengan guru, siswa ke guru atau siswa dengan siswa, dimanapun kita berada, perundungan tidak boleh terjadi,” tandas Marselina.

Ketua Panitia Penyelenggara Bimtek, Adriana A. Hadjoh, S.Pd dalam laporannya menyebutkan, SMA Negeri 1 Kupang merupakan salah satu sekolah penggerak yang mendapat kesempatan melaksanakan Bimtek pencegahan perundungan.

Menurut Adriana, Bimtek ini dilakukan selama lebih kurang tiga bulan dengan 10 kali pertemuan, dimulai 10 September 2021 sampai dengan 26 November 2021. Puncak kegiatan akan berlangsung pada 4 Desember 2021, yakni melakukan pagelaran hasil karya siswa berupa pemutaran film pendek dan bermain peran serta pameran poster hasil karya siswa agen pencegahan perundungan.

“Pembiasaan dan pembelajaran kepada 30 siswa ini akan dilakukan setelah kegiatan pembelajaran formal dengan metode daring dan luring atau blended,” katanya.

Adriana mengatakan, para siswa yang terpilih adalah mereka yang telah mengikuti Survey Roots Indonesia, dimana dari SMAN 1 Kupang ada 160 siswa. Setelah survey, terpilihlah 30 orang siswa terbaik yang mengikuti bimtek pencegahan perundungan tersebut.

Selama 10 kali pertemuan, kata Adriana, para peserta didampingi dua fasilitator, yaitu Srihandayani Banunaek, SH, dan Jumina Sisca Bahan, S.Sos. Dua fasilitator ini merupakan guru SMA Negeri 1 Kupang yang telah digembleng dan dibekali oleh tim dari Pusat Penguatan Karakter Kemendikbudristek.

Hadir juga dalam sosialisasi itu, utusan dari Alianzi Penghapusan Kekerasan terhadap Anak Provinsi NTT, Slamet Kusharyandi. Dalam paparannya, Slamet menyampaikan tentang pentingnya membentuk agen pencegahan perundungan agar bisa meminimalisir aksi perundungan yang terjadi di lingkup pendidikan, khususnya di SMA Negeri 1 Kupang, baik secara fisik, mental, dan verbal. Sebab, lanjut Slamet, dampak dari perundungan bisa berjangka pendek maupun seumur hidup. (aln)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

Baca koran edisi : 19 Desembar 2021

Populer

To Top