KONI Provinsi se Indonesia Soroti Akomodasi dan Konsumsi Atlet, Ini Rekomendasi untuk PB PON | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

KONI Provinsi se Indonesia Soroti Akomodasi dan Konsumsi Atlet, Ini Rekomendasi untuk PB PON


TINJAU PENGINAPAN. Wakil CdM NTT, Paru Andreas (kedua kanan) didampingi Manajer Tim Sepak Bola, Jimmi Sianto (kanan) saat meninjau penginapan atlet sepak bola di BLK Jayapura, Minggu (26/9). (FOTO: ISTIMEWA)

SPORT

KONI Provinsi se Indonesia Soroti Akomodasi dan Konsumsi Atlet, Ini Rekomendasi untuk PB PON


Wakil CdM Kontingen NTT Tinjau Penginapan Cabor Sepak Bola

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Persoalan teknis pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 di Provinsi Papua menjadi sorotan pengurus KONI 34 Provinsi di Indonesia. Hal ini terkait dengan persoalan akomodasi atlet/pelatih yang belum siap 100 persen serta suplai konsumsi bagi atlet yang telat, bahkan ada makanan yang disajikan dalam kondisi tidak baik.

Menyikapi hal ini, pengurus KONI Provinsi peserta PON XX/2021 Papua menginisiasi pertemuan virtual melalui zoom meeting, Minggu (26/9) sekira pukul 20.30 WIT. Pertemuan yang dipimpin Jamron selaku Sekretaris Umum (Sekum) Kontingen DKI Jakarta itu bertujuan untuk memberikan saran, masukan, dan solusi kepada Panitia Besar (PB) PON agar pelaksaan PON XX/2021 di Papua berjalan dengan baik dan lancar.

Ketua Umum (Ketum) KONI NTT, Dr. Ir. Andre W. Koreh, MT kepada awak media, Minggu (26/9) malam tadi membenarkan pertemuan tersebut. Andre mengaku menghadiri pertemuan itu, bersama puluhan pengurus KONI provinsi lainnya dan Panwasrah.

Andre menjelaskan bahwa inisiasi pertemuan ini berawal dari persoalan-persoalan yang timbul dalam pelaksanaan PON XX/2021 Papua yang sumbernya berasal dari grup WhatsApp (WA) koordinator 34 Provinsi.

Menurutnya, aspek teknis yang menjadi sorotan serius dalam pertemuan itu adalah soal akomodasi dan konsumsi. Untuk akomodasi, kata Ande, yang dipersoalkan adalah penginapan atlet yang tidak sesuai bahkan sering berpindah-pindah lokasi terkait kesiapan panitia dalam memberikan fasilitas penginapan, sehingga mengganggu kenyaman atlet.

“Sebagai contoh gedung yang digunakan ternyata belum selesai atau masih dalam tahap akhir perbaikan sehingga atlet dipindahkan ketempat lain. Padahal di tempat tersebut sudah digunakan oleh cabang olahraga lain. Ini menunjukkan tidak adanya koordinasi yang baik antar panitia pelaksana,” jelas Andre yang menyebut salah satu poin rekomendasi dari pertemuan itu.

Hal lainnya, lanjut Andre, adalah fasilitas seperti listrik dan air tidak berjalan dengan baik, selama berhari- hari, misalnya satu sampai tiga hari. Jumlah tempat tidur yang tidak cukup dengan jumlah atlet, jarak penginapan jauh dari venue pertandingan. Bahkan tidak adanya kesetaraan dalam penginapan antara kota dan kabupaten (Cluster PON XX/2021 Papua).

Selanjutnya mengenai konsumsi, demikian Andre, para peserta pertemuan juga memberi rekomendasi terkait dengan tidak adanya koordinasi masalah akomodasi sehingga mempengaruhi pengiriman konsumsi yang tidak sesuai pada tempatnya. “Makanan yang dikirim sering terlambat dan nasi sudah dalam kondisi tidak layak. Varian makanan yang dihidangkan pun sama, baik makan pagi, makan siang, dan makan malam,” sebut Andre.

Forum pertemuan itu, lanjut Andre, juga menyoroti terkait urusan transportasi. Andre menyatakan, para peserta mengeluhkan tidak adanya kesetaraan dalam menerima bantuan transportasi untuk CdM antara
kota dan kabupaten (Cluster PON XX/2021 Papua). Begitupun dengan ID Card, sesuai CdM Meeting terakhir, Ketua Harian PB PON sudah menjanjikan bahwa semua ID Card di luar kampus (non kampus) akan diberikan sesuai permintaan kontingen provinsi masing-masing.

Mengenai hal-hal non teknis, Andre menyebutkan bahwa sesuai kesepakatan CdM Meeting pertama sampai yang terakhir, swab dilaksanakan untuk cabor yang body contact, namun dalam pelaksanaannya semua cabor diwajibkan menjalani swab test.

KONI se Indonesia juga memberi perhatian untuk kepemimpinan wasit/juri yang bertugas selama PON. Para wasit/juri diminta agar selama melaksanakan tugas, dapat bersikap jujur dan adil agar dapat menghasilkan
atlet-atlet berkualitas sesuai dengan tujuan pelaksanaan PON.

“Kami menyampaikan rekomendasi ini bertujuan agar PON XX/2021 Papua berjalan dengan sukses dan menimalisir persoalan-persoalan yang kami sampaikan di atas. Dan kami ingin agar persoalan-persoalan di atas diselesaikan secepat mungkin, sebelum tanggal 2 Oktober 2021 pada Opening Ceremony PON XX/2021 Papua. Kami minta untuk dapat disikapi oleh PANWASRAH dan PB PON XX/2021 Papua demi kebaikan bersama,” kata Andre mengutip hasil rekomendasi dari notulen pertemuan para pengurus KONI se Indonesia.

Makanan Masih jadi Kendala

Persoalan makanan yang terlambat dan basi yang dikeluhkan sejumlah kontingen peserta PON XX/2021 Papua, juga dialami olah kontingen NTT. Khususnya di cabor Sepak Bola dan Wushu.

Persoalan ini telah dilaporkan Manajer Tim Sepak Bola NTT, Jimmi WB Sianto kepada CdM NTT, Wakil CdM, dan juga Ketua Umum KONI NTT, pada Minggu (26/9) siang.

Jimmi dalam laporannya yang diperoleh media ini menyebutkan bahwa, sejak Sabtu (25/9) malam, Tim Sepak Bola NTT sudah masuk penginapan di BLK dengan kondisi kamar tanpa gordyn. Tim kemudian menggeser lemari agar bisa menutup jendela yang tanpa gordyn itu.

“Untuk sementara aman daripada kita harus menunggu gordyn dan buang energi untuk telepon bolak-balik PPK dan lainnya. Sarapan pagi yang diantar lauknya (ayam) sudah menunjukkan tanda-tanda basi, baunya sudah tidak enak. Snack pagi, yang harusnya diantar jam 09.00, namun sampai sekarang sudah mau jam 11.00 belun diantar, sehingga otomatis makan siang juga akan telat karena makan siang harusnya datang jam 11.00,” ungkap Jimmi.

Menurut Jimmi, waktu pengantaran makanan yang tidak ontime, sangat mengganggu kesiapan tim. Jimmi bahkan memohon perhatian Dispora NTT, KONI atau Tim Gabungan kontingen NTT agar bisa mem-back up konsumsi.

Tak cuma itu. Jimmi juga menyampaikan bahwa air bersih di penginapan juga tidak lancar sehingga anggota tim yang mau mandi atau ke toilet harus menunggu dengan waktu yang cukup lama.

Keluhan juga disampaikan Tim Wushu yang berada di Merauke. Mereka mengaku bahwa konsumsi untuk makan malam tim Wushu NTT belum diantar hingga pukul 20.28 WIT.

Wakil Chief de Mission (CdM) NTT, Paru Andreas yang mendapat informasi ini langsung bergegas meninjau ke penginapan Tim Sepak bola NTT di BLK Jayapura. Andreas menyebutkan, kendala bagi kontingan NTT yang sudah berada di Papua sejauh ini memang ada, tapi belum sampai menggangu aktifitas para atlet.

“Berkat koordinasi dan kerja sama semua pihak yang ada di Papua, semua bisa diatasi. Jadi tidak ada hambatan berarti, baik dari fasilitas, konsumsi, akomodasi dan lain-lain,” kata Paru Andreas yang juga Bupati Ngada ini. (rum/aln)

Komentar

Berita lainnya SPORT

To Top