Dekranasda Ngada Latih 71 Remaja Wirausaha Tenun Ikat | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dekranasda Ngada Latih 71 Remaja Wirausaha Tenun Ikat


BEKALI REMAJA. Puluhan remaja di Kabupaten Ngada mengikuti acara pembukaan pelatihan kewirausahaan tenun ikat yang digelar Dekranasda Ngada, Senin (1/11). Para remaja dibekali ilmu menenun agar kekayaan ini tetap lestari. (FOTO: SAVER BHULA/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Dekranasda Ngada Latih 71 Remaja Wirausaha Tenun Ikat


Jaga Kekayaan Intelektual Tenun Ikat, Pemkab Ngada Terbitkan Perda

BAJAWA, TIMEXKUPANG.com-Sebanyak 71 remaja di Kabupaten Ngada mendapat kesempatan mengikuti kegiatan pelatihan kewirausahaan tenun ikat. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Jabatan Bupati Ngada, Senin (1/11) itu difasilitasi Dekranasda Ngada, berkerjasama dengan Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Bupati Ngada, Andreas Paru dan Wakil Bupati Ramundus Bena hadir membuka pelatihan tersebut.

Ketua Dekranasda Ngada, Cecilia Srjiyem menjelaskan, para peserta pelatihan akan dilatih dan dibimbing oleh penenun senior dari Indigo Ikat dan Salomo, mulai dari cara menggulung benang, menata benang, membuat motif, membuat bahan pewarna, mewarnai benang, dan menenun hingga menghasilkan selembar kain tenunan.

Selain mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari para penenun senior, kata Cecilia, setiap peserta akan dibekali seperangkat peralatan tenun agar bisa terus menenun setelah mengikuti pendidikan.

“Selain instruktur lokal, kami juga menghadirkan instruktur nasional dan internasional sebagai perancang busana tenun ikat. Saya berharap agar keterampilan menenun ini bisa diwariskan dan dihidupkan kembali para remaja. Ada harapan dan semangat dari dalam diri kami bahwa semua peserta mempunyai niat yang kuat untuk maju dan bisa mandiri melalui kewirausahaan tenun,” harap Cecilia.

Sementara Bupati Ngada, Andreas Paru saat membuka kegiatan itu menyampaikan bahwa pelatihan kewirausahaan tenun ikat yang melibatkan para remaja itu patut diapresiasi, sebab, tenun ikat merupakan kekayaan intelektual hasil karya tangan para leluhur yang wajib dilestarikan.

Bupati Andreas mengatakan, tenun ikat merupakam kekayaan intelektual yang harus dilestarikan. “Untuk itulah kita adakan kegiatan-kegiatan yang perlu dan harus diintervensi dalam gerakan bersama. Untuk itulah, kolaborasi-kolaborasi ini harus dilakukan bersama mulai dari hulu sampai ke hilir,” katanya.

Bupati Andreas menyatakan, peran Pemda dalam mendesain melalui OPD harus menjadi ujung tombak. “Ini harus dilakukan, kadang-kadang kita lupa, padahal kekayaan intelektual berada di depan kita. Ini harus didesain sejak awal sejak dalam siklus anggaran. Perencananan anggaran mulai dari bawah dari desa, sehingga kekayaan intelektual tidak punah,” tegasnya.

Bupati Andreas berharap agar para peserta bisa memanfaatkan momentum tersebut secara baik, sehingga warisan leluhur tetap dilestarikan dari generasi ke generasi dan tidak lekang oleh waktu. “Hari ini hadir para remaja, kenapa banyak para remaja, karena ada kekuatiran kakayaan kita ini akan punah, kenapa karena para pelaku itu usia sudah sepuh,” tandasnya.

Sementara itu, sebagai bentuk perlindungan kekayaan intelektual khusus tenun ikat, Pemkab Ngada akan menerbitkan peraturan daerah (Perda).

“Saat ini kita sedang proses menyiapkan Perda untuk perlindungan kekayaan intelektual di Kabupaten Ngada. Ini sedang dalam proses, mudah-mudahan dalam beberapa hari ini kita sudah selesai dan sekarang sudah dilakukan oleh teman-teman dari dewan sedang melakukan uji publik di lapangan, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama kita sudah ada perda tentang perlindungan kekayaan inlektual, khususnya tenun ikat,” tandas Bupati Andreas.

Pemkab Ngada, kata Bupati Andreas, memandang penting untuk melindungi dan melestarikan kekayaan intelektual di Kabupaten 1001 wisata itu dalam bentuk Perda. Pasalnya, tenun ikat merupakan kekayaan intelektual yang harus dilestarikan.

“Karena di era modernisasi yang begitu cepat, kekayaan intelektual yang diwariskan generasi pendahulu ini mulai ditinggalkan yang mana perempuan generasi sekarang, banyak yang tidak tertarik untuk menenun,” ucapnya.

Terpisah, Ketua DPRD Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu mengatakan bahwa Rancanagan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perlindungan Kekayaan Intelektual saat ini tengah diproses. “Sedang dalam proses konsultasi di Kemenkumham NTT untuk ditetapkan. Kalau sudah ok, saya kasih beritanya,” ujar Berny Dhey. (*)

Penulis: Saver Bhula

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top