YPTB Minta Australia Tunjukkan Bukti Kepemilikan Gugusan Pulau Pasir | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

YPTB Minta Australia Tunjukkan Bukti Kepemilikan Gugusan Pulau Pasir


Gugusan Pulau Pasir yang kini diklaim sebagai milik Australia. (FOTO: Dok. YPTB)

KABAR FLOBAMORATA

YPTB Minta Australia Tunjukkan Bukti Kepemilikan Gugusan Pulau Pasir


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB), Ferdi Tanon meminta Pemerintah Australia menunjukkan bukti kepemilikan yang sah atas Gugusan Pulau Pasir (Ashmore and Cartier Islet). Pasalnya YPTB memastikan, selama ini Australia hanya mengklaim memiliki gugusan Pulau Pasir. Sementara bukti yang sah belum pernah ditunjukkan.

“Rakyat Timor Barat meminta Australia menunjukkan bukti kepemilikan gugusan Pulau Pasir (Ashmore and Cartier Islet) yang sah. Kita juga mendukung upaya memberantas illegal fishing, tapi tidak memberantas nelayan tradisional Laut Timor,” tegas Ferdi Tanoni dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/11).

Ferdi yang selama ini berjuang untuk mendapatkan hak rakyat di Celah Timor ini mendesak Pemerintah Australia juga Indonesia untuk segera memberikan bukti yang sah terhadap kepemilikan Australia atas Pulau Pasir.

“Kami rakyat Timor Barat, Rote, Sabu, dan Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia mendesak Australia dan Indonesia untuk segera memberikan bukti yang sah terhadap kepemilikan Australia atas gugusan pulau pasir/ashmore and cartier islet. Dengan demikian seluruh urusan ini juga dapat segera kita akhiri,” pinta Ferdi Tanoni.

“Jika Australia dan Indonesia bisa memberikan bukti yang sah atas kepemilikan gugusan pulau pasir/ashmore and cartier islet, maka kami rakyat akan bersatu untuk bersama kita usir semua nelayan yang berada di sana,” kata Ferdi.

BACA JUGA: MoU 1974 Bukan Hukum Internasional untuk Miliki Pulau Pasir

BACA JUGA: Ferdi Tanoni: Timor Barat Tolak Klaim Australia atas Pulau Pasir

Menurut Ferdi, selama ini, perjanjian-perjanjian yang dibuat terkait urusan Pulau Pasir ini salah. Ini hanya untuk menguntungkan Australia, karena itu harus dibatalkan. Kapal nelayan tradisional di Laut Timor yang berukuran antara 5-15GT, tetapi Australia membuat perjanjian dengan Indonesia bahwa kapal-kapal yang boleh memasuki gugusan Pulau Pasir tidak boleh gunakan motor. Hanya perahu layar saja yang boleh melintasi gugusan Pulau Pasir dan mereka disebut nelayan tradisional,” katanya.

Ferdi membeberkan, penangkapan teripang dan ikan dasar laut pun ada perjanjiannya. Sayangnya perjanjian ini lebih menguntungkan Australia. Ingat bahwa dasar Laut Timor merupakan hak Indonesia, dan air beserta ikan yang berenang merupakan milik Indonesia.

“Kembali kami tegaskan bahwa kami, rakyat Timor Barat, Rote, Sabu, dan Alor memberikan dukungan penuh terhadap kerja sama Indonesia-Australia untuk memberangus illegal fishing. Akan tetapi, kami menolak dengan tegas pemberangusan nelayan tradisonal Indonesia di Laut Timor. (aln)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top