Kejari Ende Tahan 2 Tersangka Kasus Korupsi Dana Desa Woloau | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kejari Ende Tahan 2 Tersangka Kasus Korupsi Dana Desa Woloau


Kejari Ende, Romlan Robin didampingi Kasie BB, Muhamad Fachri Rosadi dan Kasie Pidsus, Muhamad Fahri saat memberi keterangan pers terkait kasus dugaan korupsi di Desa Woloau, di kantor Kejari Ende, Selasa (16/11). (FOTO: Alexius Raja Seko/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Kejari Ende Tahan 2 Tersangka Kasus Korupsi Dana Desa Woloau


ENDE, TIMEXKUPANG.com-Setelah melalui proses penyelidikan dan pemeriksaan terhadap para saksi, penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Ende akhirnya menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan dana desa di Desa Woloau, Kecamatan Maurole. Kini kedua tersangka ditahan di Sel Mapolres Ende.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ende, Romlan Robin kepada para awak media di aula kantor Kejari Ende,
Selasa (16/11) mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap para saksi, pihak penyidik menyimpulkan dan menaikan status dua orang mantan aparat desa dari saksi menjadi tersangka.

“Kedua orang tersebut, yakni Sekretaris Desa Woloau, berinisial M yang juga menjabat sebagai Plt Kepala Desa, serta A selaku bendahara desa tersebut,” ungkap Kajari Romlan yang saat memberi keterangan pers didampingi Kepala Seksi (Kasie) Barang Bukti, Muhamad Fachri Rosadi dan Kasie Pidana Khusus (Pidsus), Muhamad Fahri.

Kajari Romlan menyebutkan, sebelum menaikkan status kedua saksi menjadi tersangka, pihaknya telah memeriksa sebanyak 20 orang saksi. Termasuk saksi ahli dari Inspektorat dan saksi ahli konstruksi.

Menurut Kajari Romlan, kedua mantan aparatur desa tersebut ditetapkan menjadi tersangka pada 5 November 2021. Dan pada Selasa, 15 November 2021 dilakukan penahanan oleh pihak Kejari Ende, dan dititipkan di tahanan Mapolres Ende. “Kita titipkan di Polres Ende dan akan terus melakukan pengembangan penyidikan untuk memastikan apakah ada penambahan tersangka baru atau tidak,” ujarnya.

Kajari Romlan mengatakan, kedua aparat desa ini ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan karena perbuatan mereka telah menimbulkan kerugian negara lebih kurang Rp 360 juta. Modus kedua tersangka melakukan dugaan korupsi itu melalui proyek fiktif, dimana pada 2018 ada program pekerjaan jembatan. Persoalannya, pada tahun 2018 itu, tidak dilakukan pekerjaan pembangunan jembatan, namun uangnya sudah dicairkan.

“Pekerjaan jembatan baru dilaksanakan tahun 2019. Sementara yang sudah dicairkan pada 2018 sebesar Rp 314 juta. Dan tahun 2019 ditambah lagi Rp 600 juta sehingga total keseluruhan mencapai Rp 900 juta,” beber Kajari Romlan.

Dikatakan, pekerjaan tersebut dilakukan masyarakat setempat, sementara dananya dikelola oleh dua aparat desa tersebut, tanpa melibatkan pihak ketiga atau kontraktor. “Saat itu belum ada kepala desa dan yang menjadi Plt adalah Sekretaris Desa (Yang kini jadi tersangka, Red),” kata Kajari Romlan. “Ditahun 2018 dilaporkan volume pekerjaan mencapai 15 meter. Namun demikian ada perubahan ditahun 2019 yakni 9 meter. Karena itu ada kekurangan, bukan bertambah volumenya,” tutur Kajari Romlan.

Kejari Ende, kata Romlan, menetapkan M dan A sebagai tersangka setelah memiliki alat bukti yang kuat, baik itu keterangan saksi, keterangan ahli, dan surat hasil audit dari Inspektorat Ende.

Kedua tersangka dikenai pasal 2 UU Nomor 31 tahun 1999 Jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi dan pencucian pasal 55 KUHP dengan ancaman pasal 2 minamal 2 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara, serta denda minimal Rp 200 juta dan maksimal Rp 1 miliar.

Sementara pasal 3 minimal 1 tahun penjara maksimal 20 tahun penjara dan denda minimal Rp 250 juta dan maksimal Rp 1 miliar. (Kr7)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top