Usung Kabupaten 3T, Bupati Sarai Safari ke Sejumlah Kementerian | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Usung Kabupaten 3T, Bupati Sarai Safari ke Sejumlah Kementerian


SAFARI. Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke bersama beberapa pejabatnya melakukan safari ke sejumlah Kementrian di Jakarta. Tampak ketika Bupati Rihi Heke melakukan pertemuan dengan pejabat di Kemenhub. (FOTO: ISTIMEWA)

PEMERINTAHAN

Usung Kabupaten 3T, Bupati Sarai Safari ke Sejumlah Kementerian


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Bupati Sabu Raijua, Drs. Nikodemus N. Rihi Heke, M.Si melakukan safari ke sejumlah kementerian di Jakarta guna melakukan pendekatan demi percepatan pembangunan di daerah itu. Bupati didampingi sejumlah pejabatnya mendatangi Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementrian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementrian Sosial (Kemensos), Badan Perpustaan Nasional. Sebelumnya, Bupati Sabu Raijua juga menemui dua perusahaan garam di Surabaya.

Bupati Sabu Raijua, Nick Rihi Heke yang dihubungi secara terpisah menjelaskan, safari yang ia lakukan bertujuan menemui lembaga dan kementerian terkait agar bagaimana membantu penanganan dan pembangunan Kabupaten Sabu Raijua selama pandemi Covid-19 dan pasca badai Seroja awal April 2021 lalu.

Apalagi, kata bupati dua periode ini, Kabupaten Sabu Raijua merupakan kabupaten yang berada di daerah perbatasan dan masuk dalam wilayah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan). “Kabupaten Sabu Raijua itu masuk kategori kabupaten 3T sehingga butuh penanganan yang lebih serius dari pemerintah pusat,” demikian kata Bupati Nick Rihi Heke kepada TIMEX di Kupang, Senin (15/11).

Di Jakarta, Bupati Nick Rihi Heke mengawali kunjungannya ke Kemenhub, bertemu dengan Dirjen Perhubungan Darat dan Udara. Kepada Dirjen, Bupati Nick Rihi Heke menyampaikan persoalan yang dihadapi Kabupaten Sabu Raijua terkait keberadaan pelayaran ferry ASDP.

Menurut Bupati Nick Rihi Heke, pelabuhan penyeberangan yang selama ini menjadi tempat bersandarnya kapal ferry milik ASDP telah dihantam badai Seroja. Selain itu, terdapat sebuah kapal yang karam di tempat labuh pelabuhan tersebut dan sampai saat ini bangkai kapal tersebut belum dipindahkan. Hal itu menyebabkan terhambatnya arus bongkar muat barang di pelabuhan itu. Sebagai solusi, sejumlah kapal yang hendak bongkar muat barang dialihkan ke sebuah pelabuhan ferry yang sudah lama dibangun namun selama ini tidak pernah digunakan. Karena lama tidak digunakan, lama tak berfungsi, pelabuhan itu menjadi rusak dan tidak layak pakai.

“Namun karena tidak ada pelabuhan lain, dengan terpaksa pelayanan bongkar muat dilakukan di pelabuhan yang rusak itu. Kedatangan kita ke Kementrian Perhubungan agar bisa membantu memperbaiki pelabuhan tersebut sehingga layak untuk menjadi pelabuhan bongkar muat,” ungkap Bupati Rihi Heke.

Bupati Nick Rihi Heke melanjutkan, selama ini kan barang-barang kebutuhan untuk Kabupaten Sabu Raijua diangkut dengan ferry milik ASDP, baik dari Kupang maupun dari tempat lain seperti Ende. Kalau pelabuhannya rusak sangat mengganggu suply barang ke Sabu,” tambahnya.

Selain mengeluhkan hal itu, pihaknya juga meminta perhatian Kemenhub untuk memperhatikan keberadaan Bandar Udara Seba dan bandar udara baru yang hendak dibangun di Kabupaten Sabu Raijua. Menurutnya, keberadaan bandara di Pulau Sabu sangat penting karena Pulau Sabu adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang perlu dijaga.

“Harus diingat Pulau Sabu itu salah satu pulau terluar, tertinggal, dan terdepan, sehingga keberadaan bandara sangat penting. Bukan saja untuk kepentingan ekonomi tapi lebih kepada pertahanan dan keamanan,” terangnya. “Dan beruntung, sambutan kementerian sangat positif dan sangat memahami kondisi kita sehingga berjanji akan memberikan perhatian dan bantuan di tahun 2022 mendatang,” sambungnya.

Selanjutnya ketika di Kemensos, Bupati Sabu Raijua melaporkan kondisi masyarakat Sabu Raijua pasca diterjang badai Seroja awal April 2021 lalu. Kepada pejabat di sana, Bupati Nick Rihi Heke meminta perhatian agar sejumlah program pengentasan kemiskinan bisa disalurkan ke Sabu Raijua. Terutama, lanjut dia, pasca seroja dan saat pandemi Covid-19, ekonomi masyarakat di daerah itu sangat terdampak. “Kita minta Kementrian Sosial untuk menurunkan program-program pengentasan kemiskinan untuk membantu masyarakat kita di Sabu,” terangnya.

Kunjungi Perusahan Garam

Menyinggung terkait kunjungannya ke perusahaan garam di Jawa Timur, yakni PT. Garam dan PT. Sumatraco, Bupati Rihi Heke menyebutkan, kunjungan itu dilakukan untuk kembali menjalin kerja sama dan mempromosikan garam asal Sabu Raijua.

Bupati Nick Rihi Heke menyatakan, kedua perusahaan itu adalah pembeli garam Sabu Raijua. Namun sejak Covid-19 dan badai Seroja, praktis operasional tambak garam di Sabu tidak berjalan karena rusak. Hal ini menyebabkan produksi garam terhenti. Walau demikian, lanjutnya, stok garam yang dimiliki masih terjual ke sejumlah pembeli, termasuk kepada dua perusahaan ini maupun di Kupang.

Dalam pertemuan tersebut, kata Bupati Rihi Heke, pihaknya meminta kedua perusahaan ini kembali melakukan kerja sama karena produksi garam Sabu Raijua berkualitas premium. “Garam kita kualitas premium dan diakui oleh mereka. Hal ini mendorong kita untuk lebih semangat lagi. Namun terhambat sejak bencana Seroja dan hampir semua tambak rusak,” jelas Bupati Rihi Heke.

Saat ini, demikian mantan wakil bupati ini, perusahaan dari Surabaya tetap mengangkut garam dari Sabu Raijua. Saat ini, stok garam yang dimiliki Pemkab Sabu Raijua lebih kurang 10 ribu ton. Dan setiap kali pengangkutan hanya berkisar 2-3 ton, karena disesuaikan dengan kapasitas dermaga yang ada di Sabu Raijua.

“Dermaga yang ada hanya sebatas mengangkat 2-3 ribu ton. Untuk 5 ribu ton saja belum bisa. Karena kalua melebihi itu kapalnya bisa kandas,” ungkapnya. (*/yl)

Komentar

Berita lainnya PEMERINTAHAN

Populer

To Top