Rekonstruksi Kasus Pembunuhan di Rote Ndao, Polisi Hadirkan 3 Tersangka dan 14 Saksi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Rekonstruksi Kasus Pembunuhan di Rote Ndao, Polisi Hadirkan 3 Tersangka dan 14 Saksi


REKONSTRUKSI. Polres Rote Ndao melakukan proses rekonstruksi terhadap kasus pembunuhan di wilayah itu, Kamis (18/11). (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Rekonstruksi Kasus Pembunuhan di Rote Ndao, Polisi Hadirkan 3 Tersangka dan 14 Saksi


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Tiga tersangka kasus dugaan pembunuhan di Desa Oelasin, Kecamatan Rote Barat Daya, telah menjalani proses rekonstruksi pada Kamis (18/11). Dalam rekonstruksi kasus yang menyebabkan korban Zakarias Nalle meninggal dunia itu, para pelaku memeragakan sebanyak 29 adegan.

Ketiga tersangka itu, yakni Junus Pandie alias Ivon (46), Gotlif Bessie alias Got (45), dan Isboset Liu alias Is (44). Para tersangka ini telah menjalani masa penahanan sejak Jumat (29/10/2021) lalu di sel tahanan Polres Rote Ndao.

Selain ketiganya, dalam rekonstruksi, polisi juga melibatkan 14 orang warga sebagai saksi untuk membantu mengungkap kasus tersebut. Mereka adalah, Zakarias Nalle, Naomi Nalle Bessie, Nomensen Nalle, Marince Pah, dan Johan Pandie Langga. Selanjutnya Agustina Pandie Soru, Octovianus Petri Bessie, Salmun Bessie, Adrianus Sallu, Benyamin Haning, Dedi Harianto Bessie, Yulius Bessie, Jacob Bessie, dan Afliana Sallu.

“Iya, rekonstruksinya sudah berlangsung kemarin, Kamis (18/11). Selain tersangka yang ditahan, beberapa saksi juga dihadirkan di lokasi,” kata Kepala Seksi Humas Polres Rote Ndao, Aiptu Anam Nurcahyo, kepada TIMEX, Jumat (19/11).

“Aman dan lancar, dengan pengamanan terbuka dan tertutup dari anggota Polres Rote Ndao dan Polsek Rote Barat Daya. Rekonstruksinya dimulai pukul 10.20 hingga 14.30 Wita,” sambungnya

“Pak Camat Rote Barat Daya, Adrianus Bessie, pengacara dari tersangka, Ebsan Kafelkai dan Kades Oelasin, Matheos Yermia Octovianus, turut menyaksikan. Sedangkan dari kepolisian, Kasat Samapta, IPTU Yohanes Suri, Kapolsek, IPTU Yapi Y. Kokoh dan Kanit Paminal IPDA Esbon Toelle,” tambahnya.

Anam menerangkan, rekonstruksi tersebut dilakukan Satuan Reskrim Polres Rote Ndao dipimpin langsung IPTU Yames J. Mbau, sebagai Kasat Reskrim Polres Rote Ndao dibantu unit Reskrim Polsek Rote Barat Daya.

Tempat pelasanaanya dilakukan di dua desa berbeda. Dari 29 adegan yang diperagakan pelaku, sebanyak 24 adegan terjadi di Desa Oelasin, sedangkan 5 adegan lainnya di Desa Sanggadolu. Dua desa ini merupaka desa tetangga.

“Tidak semua tindakan (adegan) dilakukan di satu tempat. Ada di Desa Oelasin dan juga di Desa tetangga, Sanggadolu. Peragakan sebanyak 29 adegan, berlangsung di 11 titik,” kata Anam.

Aiptu Anam menyebutkan, pada adegan 1 hingga 2, saksi Nomensen, mendengar cerita dari tetangga tentang kematian dan sakit yang diderita keluarga tersangka. Para tersangka ini mulai menaruh curiga kepada korban, Zakarias Nalle.

“Adegan ke-3 sampai 6, menerangkan aktifitas korban sehari sebelum dibunuh. Begitu juga pada adegan ke-7 sampai dengan 17, merupakan aktifitas para tersangka dan para saksi sehari sebelum terjadinya tindak pidana pembunuhan,” kata Anam.

“Di adegan ke-18 sampai 22, adalah proses para tersangka melakukan tindak pidana pembunuhan. Korban dibuntuti, dan belakang kepala dipotong dengan parang, kemudian ditikam menggunakan pisau,” sambungnya.

Setelah melakukan tindakan tersebut, lanjut Anam, tersangka kemudian mengancam saksi Dedi Harianto Bessie. Sebab, mereka sangat tidak ingin hal yang sudah dilakukanya diketahui orang lain, selain saksi Dedi, yang saat itu melihat ketiganya melakukan pembunuhan (Padda adegan 23 – 26).

“Adegan 27, menerangkan aktifitas dari tersangka, Godlif Bessie, setelah melakukan pembunuhan. Kemudian tubuh korban ditemukan tergeletak di pinggir jalan (adegan 28), hingga saksi Dedi, menceritakan kejadianya kepada saksi Jacob Bessie, di adegan ke-29,” urai Anam.

“Rentetan adeganya, 1 sampai 6, di Desa Oelasin, kemudian 7 hingga 10 di Sanggadolu. Selanjutnya 11 sampai 26 kembali di Oelasin, kemudian adegan 27 di Sanggadolu, dan 28-29 di Oelasin,” beber Anam.

Untuk diketahui, kasus pembunuhan tersebut terjadi pada (1/10/2020) lalu. Setelah kejadinya, langsung dilaporkan dengan laporan polisi, nomor : LP/21/X/2020/SPKT/Sek Rote Barat Daya/Res. Rote Ndao/Polda NTT, sehingga dalam penanganya, polisi kemudian menangkap dan menahan 3 tersangka. (mg32)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top