Jaga Komitmen, PTTEP Berperan dalam Kemitraan Cegah Stunting di NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jaga Komitmen, PTTEP Berperan dalam Kemitraan Cegah Stunting di NTT


RESMIKAN POSYANDU. Asdep Penanggulangan Kemiskinan, Setwapres RI, Abdul Muis, GM PTTEP Indonesia, Grinchai Hattagam, Direktur Social Enterprise Dompet Dhuafa, Herdiansah, Ketua TP PKK NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, Wabup Kupang, Jerry Manafe, Wakil Ketua TP PKK NTT, Maria Fransisca Djogo, Waket TP PKK Kabupaten Kupang, Lely Manafe menekan tombol sirine bersama saat peresmian Posyandu Tunas Mekar di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Kamis (2/12/2021). (FOTO: MARTHEN BANA/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Jaga Komitmen, PTTEP Berperan dalam Kemitraan Cegah Stunting di NTT


KUPANG-Aksi kolaborasi multi pemangku kepentingan, dalam upaya pencegahan stunting, merupakan aksi nyata dalam mengatasi tantangan stunting di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi balita stunting tahun 2018 mencapai 30,8 persen. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan angka stunting tinggi.

Bagaimana dengan Provinsi NTT? Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun 2021 mendata, jumlah balita di NTT 385.605 anak. Dari jumlah itu, yang tergolong balita stunting berjumlah 87.210 anak. Rinciannya, balita stunting pendek sebanyak 62,154 anak, dan sangat pendek berjumlah 25,056 anak. Angka prevalensinya mencapai 22,6 persen.

Berangkat dari fakta tersebut, PTTEP Indonesia, perusahan perminyakan nasional asal Thailand ikut berperan dalam semangat aksi kolaborasi, mewujudkan program bersama pencegahan stunting di daerah dengan prevalensi tertinggi.

Aksi kolaborasi ini dibangun PTTEP Indonesia bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), dan Pemkab Timor Tengah Utara (TTU). Jalinan kerja sama aksi cegah stunting ini telah dimulai sejak Desember 2019, dimana turut terlibat di dalamnya Tim Penggerak (TP) PKK NTT.

Aksi kolaborasi itu diwujudnyatakan dengan melaksanakan beragam aktivitas program. Pendampingan konten program dilakukan Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) RI.

GM PTTEP Indonesia, Grinchai Hattagam menyerahkan secara simbolis bantuan perlengkapan Posyandu, KRPL, dan bansos kepada Wabup Kupang, Jerry Manafe yang selanjutnya diteruskan ke penerima manfaat program. Tampak Asdep Setwapres, Abdul Muis, Direktur Social Enterprise Dompet Dhuafa, Herdiansah, dan Lurah Naibonat. (FOTO: MARTHEN BANA/TIMEX)

Menggandeng Dompet Dhuafa (DD) sebagai pelaksana program, rangkaian kegiatan mulai dari pemberian asupan gizi tambahan, pemberian paket pangan sehat, promosi pertumbuhan, pendampingan posyandu, edukasi intensif, hingga support sarana sanitasi, dan air bersih, serta renovasi dan pembangunan pos pelayanan terpadu (Posyandu).

Selama berjalannya program ini, tercatat lebih dari 346 jiwa ibu hamil, 2.017 baduta-balita, 1.956 remaja putri dan wanita usia subur, 370 kader posyandu dari 74 posyandu, serta 113 guru PAUD, telah menjadi penerima manfaat program. Para penerima manfaat tersebar di 16 desa di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Kupang, TTS, dan TTU.

“Menjadi pelaksana program, memberikan kesempatan kepada Dompet Dhuafa untuk menjadi pihak yang berikhtiar dalam semangat kebaikan. Terima kasih kepada PTTEP, Pemprov NTT, Pemkab Kupang, TTS, dan TTU, serta tim ahli TP2AK Setwapres, yang selalu bersama dalam aktivitas program ini. Semoga apa yang telah kita capai bisa terus dilanjutkan, terus dilakukan inovasi sehingga semakin luas memberikan manfaat,” ungkap Herdiansah, Direktur Social Enterprise Dompet Dhuafa dalam sambutannya pada acara peresmian Posyandu Terpadu Tunas Mekar di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, Kamis (2/12/2021).

General Manager (GM) PTTEP Indonesia, Grinchai Hattagam yang hadir langsung dalam peresmian itu menyatakan, program kolaborasi multi pihak cegah stunting, telah mendapatkan beberapa apresiasi/penghargaan. Diantaranya Stevie Award 2021, Penghargaan Internasional dalam upaya pencegahan stunting, serta penghargaan nasional, Indonesian Sustainable Development Award dalam upaya aksi kolaborasi untuk mewujudkan generasi yang lebih baik.

“PTTEP Indonesia sangat senang dan bangga dapat ikut berpartisipasi dalam mendukung program prioritas pemerintah di bidang percepatan pencegahan stunting di Indonesia. Harapan kami, program ini dapat menjadi program yang berkelanjutan dan menginspirasi lebih banyak mitra pembangunan dalam menciptakan generasi emas untuk anak bangsa,” jelas Grinchai Hattagam.

GM PTTEP Indonesia, Grinchai Hattagam menyerahkan cinderamata kepada Wabup Kupang, Jerry Manafe saat peresmian Posyandu Tunas Mekar di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Kamis (2/12/2021). (FOTO: MARTHEN BANA/TIMEX)

Grinchai mengaku, suatu kehormatan bagi PTTEP Indonesia karena dipercaya untuk bersinergi dengan Setwapres RI dan pemerintah daerah di NTT dalam upaya percepatan penanganan stunting, khususnya di Kabupaten Kupang, TTS, dan TTU.

Grinchai menyebutkan, bentuk kerja sama yang telah dilakukan meliputi pembangunan dan perbaikan fasilitas kesehatan, pemeriksaan kesehatan dan pemetaan tumbuh kembang balita, pemberian makanan tambahan bergizi dan tablet penambah darah, penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang layak. “Selain itu, kita juga memberikan pengetahuan kepada orang tua tentang stunting dan konseling bagi remaja putri,” sebutnya.

Sementara itu, Asisten Deputi (Asdep) Penanggulangan Kemiskinan, Setwapres RI, Abdul Muis mengatakan, upaya pencegahan stunting merupakan proram prioritas nasional. Dan program kemitraan yang dibangun bersama PTTEP Indonesia, Pemprov NTT, Pemkab Kupang, TTS, dan TTU serta Dompet Dhuafa ini sangat luar biasa.

Abdul Muis mengatakan, dalam upaya percepatan penanganan stunting, akan dibentuk tim khusus dari provinsi, kabupaten/kota hingga tingkat desa. “Ini kegiatan yang kita dorong lewat kemitraan bersama Dompet Duafa, PTTEP dan Setwapres. Mohon Ibu Ketua TP PKK NTT (Julie Sutrisno Laiskodat, Red) untuk kita dorong program kemitraan lewat CSR dengan perusahan yang lain,” kata Abdul Muis.

Abdul Muis juga mengapresiasi peran serta masyarakat dalam upaya mendukung program kemitraan penanganan stunting ini. “Hebatnya di NTT, semua kegiatan didukung masyarakat,” puji Abdul Muis.

GM PTTEP Indonesia, Grinchai Hattagam memberi sambutan saat peresmian Posyandu Tunas Mekar di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Kamis (2/12/2021). (FOTO: MARTHEN BANA/TIMEX)

Pemerintah, lanjut Abdul Muis, dalam mendorong percepatan penanganan stunting, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Butuh keterlibatan berbagai organisasi, LSM, pakar, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. “Ini yang namanya pentahelix. Kami berharap, ada rembug stunting untuk kita sama-sama cegah stunting ini dari daerah hingga ke tingkat nasional,” harapnya seraya menambahkan, aksi kolaborasi ini, dan segala apresiasi yang didapatkan menjadi kebanggan bersama.

“Semoga hal ini menjadi motivasi bersama pihak lainnya, agar menjadi bagian yang mendukung komitmen pemerintah dalam menurunkan prevelensi stunting di Indonesia hingga 14 persen di tahun 2024,” sambung Abdul Muis.

Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Ketua TP PKK NTT, Julie Sutrisno Laiskodat dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa, TP PKK NTT sejak 2019 telah membentuk desa-desa model, dimana hingga 2021 sudah ada 40 desa model. Dua diantaranya berada di Kabupaten Kupang.

Desa-desa model ini, kata Julie Laiskodat, dibuat dengan tujuan untuk penanganan stunting. Pasalnya, kata politikus yang akrab disapa Bunda Julie itu, secara nasional, NTT merupakan provinsi peringkat pertama stanting dan balita gizi buruk tertinggi di Indonesia.

Padahal, lanjut Bunda Julie, NTT merupakan daerah yang indah dan kaya. “Kaya sumber saya alam, potensi pariwisata, juga ragam budayanya. Cuma kita kalah SDM akibat banyaknya penderita stunting dan penderita gizi buruk,” ucap Bunda Julie.

Untuk itu, lanjut Bunda Julie, TP PKK NTT mengajukan anggaran lewat APBD untuk mendukung penanganan stunting melalui pembentukan desa model. Setiap desa model PKK NTT mengutus kadernya untuk pendampingan.

Bunda Julie menyebutkan, TP PKK NTT melakukan 14 inovasi untuk upaya penanganan stunting di 40 desa model itu. Hanya sayang, kata Bunda Julie, tahun depan pihaknya tidak bisa lagi melahirkan desa model lainnya akibat tidak adanya alokasi anggaran melalui APBD.

Asdep Penanggulangan Kemiskinan, Setwapres RI, Abdul Muis, GM PTTEP Indonesia, Grinchai Hattagam, Direktur Social Enterprise Dompet Dhuafa, Herdiansah, Ketua TP PKK NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, Wabup Kupang, Jerry Manafe, Wakil Ketua TP PKK NTT, Maria Fransisca Djogo, Waket TP PKK Kabupaten Kupang, Lely Manafe dan sejumlah pejabat dari Pemkab Kupang, TTS, dan TTU foto bersama usai peresmian Posyandu Tunas Mekar di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Kamis (2/12/2021). (FOTO: MARTHEN BANA/TIMEX)

“Padahal, target saya, setiap tahun kita lahirkan 20 desa model. Dari 2019 kita buat 20 desa model, tahun 2020 juga 20 desa model, tahun ini (2021) kita terkendala karena anggaran terkena refocusing sehingga niat untuk penanganan stunting sedikit mengalami kendala. Karena itu, kita butuh perhatian dari mitra melalui dana CSR untuk mendukung penanganan stunting di NTT,” ujar Bunda Julie.

Atas peresmian Posyandu terpadu di Kelurahan Naibonat itu, Bunda Julie menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Pusat melalui Setwapres, PTTEP Indonesia, Dompet Dhuafa, Pemprov NTT dan Pemkab Kupang, TTS, dan TTU yang telah membantu TP PKK dalam upaya penanganan stunting di daerah ini. “Kita masih berharap perhatian para mitra agar dengan dana CSR-nya bisa membantu penanganan stunting di daerah lainnya di NTT,” harap Bunda Julie.

Wakil Bupati (Wabup) Kupang, Jerry Manafe yang juga hadir, dalam sambutannya mengatakan, penanganan stunting telah menjadi program prioritas pemerintah, mulai dari pusat hingga daerah.

Jerry menyebutkan, data bbalita stunting di Kabupaen Kupang tahun 2019 mencapai 8.920 anak atau 32,3 persen. Hingga Agustus 2021, jumlah balita stunting mengalami penurunan menjadi 6.647 anak. Turun menjadi 22,3 persen dari target 21,3 persen. “Artinya dari 2019 hingga Agustus 2021, ada penurunan jumlah balita stunting sebanyak 2.246 balita atau 10,4 persen,” beber Jerry.

Jerry melanjutkan, hingga akhir periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di 2024, Pemkab Kupang menargetkan angka prevalensi stunting turun hingga 9,3 persen. “Saya berharap pencapaian yang sudah baik ini tetap dipertahankn dan ditingkatkan. Turunkan stunting tidak bisa kerja sendiri, sehingga kita ucapkan terima kasih kepada Setwapres RI, PTTEP, Dompet Dhuafa, TP PKK yang berkomitmen dalam kerja kolaborasi sehingga melahirkan Posyandu teritegrasi di Kabupaten Kupang, dan lewat kemitraan ini, angka stunting mengalami penurunan yang signifikan di Kabupaten Kupang,” ungkap Jerry Manafe.

“Saya harap kita semua, camat, dan lurah tolong perhatikan agar jangan sampai habis peresmian, posyandu ini tidak berfungsi sebagaimana layaknya. Tolong diperhatikan dan diurus baik-baik agar jangan sampai dikemudian hari kita lihat sudah jadi kandang ternak,” pesan Wabup Jerry Manafe.

Jerry menambahkan, tahun 2022 nanti, Pemkab Kupang telah menetapkan 100 lokus penanangan stunting demi upaya mewujudkan target RPJMD tahun 2024 nanti. “Mohon dukungan Setwapres RI, PTTEP, Dompet Dhuafa, dan lainnya untuk kita sama-sama sukseskan upaya penanganan penurunan stunting di NTT, khususnya di Kabupaten Kupang,” harap Jerry.

Untuk diketahui, dalam peresmian Posyandu Mekar Sari di Naibonat itu, selain hadir Asdep Penanggulangan Kemiskinan Setwapres RI, GM PTTEP, Ketua TP PKK NTT, Wabup Kupang, Direktur Social Enterprise Dompet Dhuafa, hadir juga Wakil Ketua TP PKK NTT, Maria Fransisca Djogo, Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Kupang, Lely Manafe, serta pejabat dari Pemkab Kupang, TTS, dan TTU. (aln)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top