Air dan Kekeringan dalam Kehidupan Masyarakat Nusa Tenggara Timur | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Air dan Kekeringan dalam Kehidupan Masyarakat Nusa Tenggara Timur


Kabag Prokompim Setda TTU, Yohanes Amsikan. (FOTO: Dok. Pribadi)

OPINI

Air dan Kekeringan dalam Kehidupan Masyarakat Nusa Tenggara Timur


(Sebuah Tinjauan Antropologis)

Air bagi semua makhluk hidup merupakan kebutuhan strategis dan tak terpisahkan. Tanpa air, semua makhluk hidup yang ada di bumi akan mati binasa. Air merupakan sumber daya alam paling penting di planet bumi sebab merupakan hal pokok dan vital dari segenap kehidupan. Bahwa air sangat dominan di bumi, hal itu tampak dari adanya unsur air di bumi yang berjumlah dua pertiga dari permukaan bumi. Bahkan komponen tubuh manusia juga terdiri dari air sekitar 60% – 70%.

Meskipun air sangat penting bagi kehidupan, namun pengalaman kekurangan air dan kekeringan juga menjadi pengalaman sebagian besar bangsa di dunia, termasuk masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mengenai kekeringan, Ellyvon Pranita dalam tulisannya di Kompas.com berjudul “Daftar Wilayah di Indonesia Berpotensi Alami Kekeringan hingga Awal Agustus”, menyebutkan bahwa beberapa wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang masuk dalam Kategori wilayah waspada kekeringan, yaitu: Kabupaten Alor, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ngada, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah, dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Masih dalam tulisan yang sama Pranita mengatakan bahwa ada beberapa kabupaten yang tergolong Kategori wilayah siaga kekeringan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yakni: Kabupaten Belu, Kabupaten Ende, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Kupang, Kabupaten Lembata, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Sikka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Timur, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sedangkan kategori wilayah awas kekeringan di Indonesia, diperkirakan akan terjadi di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kota Kupang.

Kekeringan sejatinya merupakan salah satu bencana yang ditandai dengan keadaan kurangnya persediaan air pada suatu wilayah dalam jangka waktu berkepanjangan – bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Kekurangan pasokan air dalam waktu yang lama akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, kekeringan sering terjadi pada musim kemarau. Pada musim kemarau, curah hujan sangat rendah, sehingga persediaan air terbatas. Terbatasnya persediaan air disebabkan keringnya sumber air seperti sumur, sungai, waduk dan aliran air lainnya.

Kekeringan yang terjadi ketika musim kemarau tiba, selalu saja menimbulkan sejumlah dampak. Pertama, matinya berbagai macam tanaman. Tanaman merupakan salah satu sumber kehidupan manusia. Selain menjadi pasokan makanan, tanaman juga sangat bermanfaat yakni sebagai penghasil oksigen yang dibutuhkan tubuh. Mayoritas tanaman akan mati bila kekeringan, dan hal ini dapat berdampak pada kurangnya oksigen, pangan, dan maraknya polusi.

Kedua, minimnya sumber air minum. Manusia bisa bertahan hidup selama beberapa hari tanpa makanan, namun tanpa minuman manusia akan kesulitan bertahan hidup. Kurangnya sumber air minum dapat menyebabkan dehidrasi dan sangat berbahaya bagi tubuh manusia.

Ketiga, minimnya sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Air merupakan komponen yang paling penting bagi manusia. Selain untuk minum air juga digunakan untuk kebutuhan MCK, memasak, dan kebutuhan lainnya. Kurang sumber air akan berdampak pada kesehatan manusia.

Keprihatinan seputar masalah air dan kekeringan bagi masyarakat, bukan saja masalah orang Provinsi Nusa Tenggara Timur, melainkan juga menjadi masalah dunia yang menarik perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejak tahun 1980-an. Bahkan kurun waktu tersebut pernah ditetapkan PBB sebagai dekade internasional untuk pengadaaan air bersih.

Dalam dekade tersebut, pemerintah negara-negara anggota diajak untuk membuat proyek yang bisa menghindarkan masyarakat dari ancaman bahaya air kotor dan tidak sehat (Abdullah, 2000). Oleh karena perhatian terhadap ketersediaan air dari waktu ke waktu kian menurun, maka menurut Noviani Rindani (2021) Intergovernmental Panel on Climate Change meramalkan bahwa bencana yang sebagian besar berkaitan dengan air, bakal meningkat di seluruh dunia di tahun-tahun yang akan datang. Mereka yang paling miskin, yang sebetulnya berkontribusi sangat sedikit dalam gelombang pertambahan emisi gas rumah kaca, penyebab perubahan iklim, adalah pihak yang paling terpukul.

Di Indonesia, walaupun sejauh ini belum ada penelitian yang mendalam yang fokus kepada perubahan iklim dan dampaknya terhadap ketersediaan air, namun dengan rata-rata hujan tahunan yang telah menurun dalam 80 tahun terakhir, dua ekstrem dari krisis air ini mengkonfrontasi Indonesia, karena menyebabkan permukaan laut naik, banjir parah di beberapa daerah, dan musim kering yang masanya semakin panjang.

Masalah air dan kekeringan dalam kacamata pakar-pakar antropologi, tidak cuma melulu masalah kekeringan dan kekurangan air serta bukan cuma masalah manajemen air yang tidak benar dan masalah menipisnya sumber daya alam bernama air, akan tetapi sudah menjadi masalah etis yang menuntut adanya rasa solider di antara sesama manusia. Artinya, tidak benar jika sekelompok orang memboros-boroskan air habis-habisan, sementara kelompok manusia lain justru menghadapi masalah air sebagai masalah hidup mati dan masalah yang mengancam kehidupan mereka (Sindunata, 2001).

Bagi masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur, terutama yang tergolong Kategori wilayah waspada kekeringan dan Kategori wilayah siaga kekeringan di Provinsi, serta kategori wilayah awas kekeringan di Indonesia, persoalan air tidak saja berkaitan dengan sikap dan gaya hidup sekelompok orang atau masyarakat dalam memboroskan air, tetapi juga masalah-masalah kekeringan rutin yang terjadi tiap-tiap tahun. Namun bagaimanapun juga hak mereka akan air bersih adalah juga masalah yang menuntut solidaritas sesama dan perhatian “penuh-tuntas” dari pemerintah. Sebab bila diperhatikan dengan cermat, masyarakat dan pemerintah Nusa Tenggara Timur sudah dibantu oleh teknologi yang menciptakan cara mudah mengalirkan air dari sumber-sumber air di luar kota ke dalam kota, termasuk dalam pemanfaatan air tanah dengan sumur bor.

Teknologi pula yang berhasil mengembangkan hal-hal lain dalam masyarakat. Namun mengapa beban dan masalah air yang menimpa masyarakat sepanjang tahun itu seakan belum menemukan pemecahan yang tuntas? Akal manusia bisa membuat apa saja, akan tetapi bila tidak ada solidaritas, akal itu takkan dapat sempat memikirkan gagasan yang meringankan penderitaan sesama manusia yang kekurangan air di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam hal ini, masyarakat juga tidak mengeluh karena mereka harus tinggal di daerah yang kurang air, sebab hal itu sering dianggap sebagai nasib. Masyarakat juga sudah mati-matian mempertahankan hidupnya. Namun siapa tahu ada harapan bagi datangnya bantuan akan air yang kalau tokh harus dibeli dari mobil tangki, tapi dengan harga yang relatif murah dan mendapat pelayanan yang cepat.

Penanganan kekeringan di Provinsi Nusa Tenggara Timur membutuhkan kerja sama banyak elemen. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat merupakan hal utama dan sangat penting dalam mengatasi dampak dari kekeringan yang setiap tahun, kian meningkat. Beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kekeringan, antara lain, pertama, memelihara atau melakukan rehabilitasi konservasi lahan dan air. Kedua, melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air. Ketiga, melakukan reboisasi terhadap hutan dan penghijauan pada area pemukiman warga maupun di jalan besar, terutama dalam memanfaatkan musim hujan saat ini. Keempat, membangun dan melakukan rehabilitasi jaringan irigasi. Kelima, membangun waduk pada beberapa daerah yang potensial.

Berkaitan dengan rencana pembangunan air untuk mengatasi kekeringan di semua kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur ke depan, baik oleh pemerintah maupun oleh institusi lainnya, kita berharap semoga perhatian tersebut tidak saja tertuju untuk membuat sesuatu yang baru menyangkut air, tetapi hal yang sudah dibuat diatur manajemennya sehingga dapat berjalan dengan baik. Bila tidak maka kekurangan air akan terus menjadi masalah perjuangan untuk tetap mempertahankan hidup sehari-hari masyarakat kecil. Air lalu menjadi soal hidup dan mati, termasuk dalam menjalankan berbagai program pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini. (*)

*) Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Timor Tengah Utara

Komentar

Berita lainnya OPINI

Populer

To Top