Kader PDIP Bentuk Kampung Gemar Gizi Peduli Stunting di Kota Kupang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kader PDIP Bentuk Kampung Gemar Gizi Peduli Stunting di Kota Kupang


MINI LOKAKARYA. Camat Kota Raja, Mohamad Adriyanto Abdul Jalil dalam kesempatan pembukaan kegiatan Mini Lokakarya Lintas Sektor se Kecamatan Kota Raja di Aula UPTD Puskesmas Bakunase, Kamis (9/12). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Kader PDIP Bentuk Kampung Gemar Gizi Peduli Stunting di Kota Kupang


Langkah Inovatif dan Kolaborasi dengan Undana

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Anggota DPRD NTT Fraksi PDI Perjuangan Dapil Kota Kupang, Yuliana Elisabeth Adoe (Lily Adoe) bekerjasama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang membentuk Kampung Gemar Gizi Peduli Stunting di Kelurahan Bakunase. Upaya ini bertujuan menekan angka kasus stanting.

Langkah inovatif tersebut juga dilakukan secara kolaborasi dengan semua stakeholders lingkup Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Pencetus inovasi, Hoh Nesimnasi, Akademisi Bidang Ilmu Pertanian Undana (Ketua), Simbram (Petugas gizi), Ludia Gasong (Pembuat Tepung Lele).

Lily Adoe menyebut, dirinya terpanggil untuk membantu warganya dalam mengatasi masalah stunting saat ini. “Masalah ini harus diperangi bersama-sama. Namun ada pihak yang berkompeten tetapi terbatas dalam hal-hal tertentu maka kita hadir supaya saling membantu,” katanya.

Dijelaskan inovatif ini tidak terlepas dari dukungan terhadap upaya pemerintah saat ini. Selain niat tulusnya itu, selaras juga dengan upaya partainya dalam membantu masyarakat keluar dari masalah stunting.

“Kami berdiskusi lalu saling mengisi kekurangan yang ada kemudian kami mulai jalankan target yang ingin dicapai itu,” sebutnya.

Hoh Nesimnasi, Dosen Pertanian Undana yang terlibat dalam gerakan tersebut mengatakan, untuk menekan masalah stunting ini, pihaknya mulai berbuka diri dan mengajak sejumlah pihak bekerjasama untuk dalam mendukun pencegahan ini.

Ide inovatif ini awalnya dianggap gila karena dimulai dengan nol hanya bermodal berani atas semangat kemanusiaan yang dimiliki.

Disebutkan, alasan gerakan itu dimulai dari Puskesmas Bakunase karena data menunjukan bahwa Kelurahan Bakunase merupakan salah satu kelurahan dengan penyumbang stunting terbanyak di Kota Kupang.

“Kota Kupang juga menjadi penyumbang terbanyak untuk NTT, dan NTT penyumbang terbanyak di Indonesia. Maka kita tidak bisa berpikir saja tapi harus bertindak maka kami memulai dengan memberi nama gerakan ini dan melibatkan banyak pihak,” ungkapnya.

Ia menyebut, data stunting dari tahun ke tahun sulit mempridiksi apa yang terjadi. Terbukti kasus terus bertambah setiap tahun. Untuk Kecamatan Kota Raja terdapat sebanyak 256 kasus stunting. Sedangkan yang belum terdata bisa lebih banyak dari yang ada saat ini.

“Jumlah ini berpeluang naik dua kali lipat karena banyak yang tidak datang untuk posyandu dan tidak mendapat pelayanan,” katanya.

Sementara tim ini belum terbentuk secara resmi, namun baru dilakukan disejumlah puskesmas dalam mengatasi masalah stunting. Upaya yang dilakukan Kampung Gemar Gizi Peduli Stunting ini melalui pembagian makanan atau asupan tambahan. Saat ini dilakukan selama 12 hari.

Aksi “SANTUN” yang sedang berlangsung saat ini yakni pemberian tambahan asupan gizi bagi anak penderita stunting di Kelurahan Bakunase.

Peserta sasaran lima anak penderita stunting, sumber dana (partisipan) Lili Adoe (Anggota Dewan Prov. NTT dari Partai PDIP) sebesar Rp 9.000.000, Pelaksana Tim Inovator bersama para Kader di wilayah/lokasi setempat. Waktu Pelaksanaan 90 hari (November 2021-Pebruari 2022).

Camat Kota Raja, Mohamad Adriyanto Abdul Jalil dalam kesempatan pembukaan kegiatan Mini Lokakarya Lintas Sektor se Kecamatan Kota Raja itu, menyampaikan ucapan terima kasih karena dirinya baru saja menjalankan tugas selama empat hari, namun sudah merasakan semangat dari semua UPTD dalam menjalankan tugas.

Dikatakan, masalah yang sedang menjadi tren dan harus diperangi bersama yakni, stunting. Masalah dialami oleh anak-anak dan data menunjukan bahwa Kota Kupang saat ini jumlah kasus sangat tinggi.

Untuk itu membutuhkan peran dari semua pihak dalam mengatasi ini dengan upaya-upaya teknis dari UPTD khususnya UPTD Puskesmas Bakunase.

“Tentu tidak ada kendala dalam setiap upaya dan usaha yang dilakukan namun semuanya bisa diatasi jika kita memiliki semanta kerja yang sama,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Yanto Jalil juga mengingatkan bahwa memasuki musim penghujan ini, tentu banyak penyakit yang sering terjadi terutama masalah demam berdarah.

“DBD ini terjadi karena kurangnya menjaga kebersihan di lingkungan masyarakat maka kita semua pihak harus terlibat dengan mengadakan aksi nyata,” tegasnya.

Sementara Kepala UPTD Puskesmas Bakunase, dr. E. Evalina Corabima dalam kesempatan tersebut juga memaparkan tentang penyakit DBD yang paling banyak kasus terjadi di saat musim hujan.

Menurutnya musim penghujan hingga 8 Desember ini, sudah terjadi peningkatan kasus DBD menjadi 38 kasus di Kecamatan Kota Raja dan tersebar di semua kelurahan dengan klasifikasi per usia, 0-1 (6 persen), 1-4 tahun (36 persen), 5-9 tahun (27 persen), 10-14 tahun (14) persen dan 15 tahun ke atas (21 persen). “Lebih banyak menyerang anak-anak dan paling banyak terjadi pada kaum laki-laki,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengatakan masalah stunting yang ada pada wilayah kerjanya bahwa Kelurahan Bakunase merupakan salah satu penyumbang masalah stunting terbanyak.

Adapun masalah stunting yang tengah dihadapi namun diakhir tugasnya sebagai kepala Puskesmas, ia berharap dengan terbentuknya Kampung Gemar Gizi Peduli Stunting bisa mengurangi stunting.

Hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut Kadis Kesehatan Kota Kupang yang diwakil Kabid P2P, Camat Kota Raja, Lurah Bakunase, Babinsa dan Bhabinkamtikmas, kader dari semua kelurahan se Kecamatan Kota Raja. (mg29)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top