Kadis P2PAPPKB: Kasus Kekerasan Perempuan di Rote Ndao Meningkat | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kadis P2PAPPKB: Kasus Kekerasan Perempuan di Rote Ndao Meningkat


Kepala Dinas P2PAPPKB Rote Ndao, Regina Asnat Valeryn Kedoh. (FOTO: Dok. Pribadi)

KABAR FLOBAMORATA

Kadis P2PAPPKB: Kasus Kekerasan Perempuan di Rote Ndao Meningkat


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Rote Ndao terus meningkat. Hingga kini, sudah ada 45 kasus. Khusus tahun 2021 ini, bertambah 7 kasus dari tahun sebelumnya yang berjumlah 20 kasus.

Rinciannya, kekerasan fisik sebanyak 25 kasus, psikis (7 kasus), dan seksual (9 kasus). Berikutnya, kasus penelantaran (3 kasus), dan kasus kekerasan lainnya (1 kasus).

Dari jumlah tersebut, lima kasus diantaranya telah mengantongi putusan hukum tetap melalui pengadilan. Begitu juga terhadap jumlah lainnya yang tengah berproses untuk memperoleh kepastian hukum. Tetapi ada pula yang berujung damai karena diselesaikan secara kekeluargaan dengan diberi sanksi adat. Ada juga yang dicabut karena tidak cukup bukti dan atau dicabut sendiri oleh pelapor/korban kekerasan.

“Untuk saat ini memang kasusnya bertambah. Totalnya 45 kasus. Yang paling banyak adalah kekerasan fisik, sebanyak 25 kasus,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2PAPPKB) Kabupaten Rote Ndao, Regina Asnat Valeryn Kedoh, saat dikonfirmasi TIMEX per telepon, Rabu (8/12).

Regina menyebutkan, dari puluhan kasus itu, sebanyak 19 kasus sementara dalam penyelesaian secara hukum. Lima kasus sudah diputus pengadilan, ditambah empat kasus sedang berproses di tingkat kejaksaan. “Selanjutnya 11 kasus lainnya tengah berproses untuk mengantongi keputusan hukumnya,” kata Regina.

Untuk penangan terhadap kasus lainnya, masih kata Regina, sebanyak 18 kasus kekerasan terhadap perempuan tidak dilanjutkan melalui jalur hukum. Jumlah tersebut diselesaikan secara kekeluargaan melalui perdaiaman yang dikenakan sanksi adat. Selanjutnya, dua kasus dinyatakan tak cukup bukti begitu juga terhadap lima kasus lainnya yang akhirnya dicabut setelah dilaporkan.

“Kekerasanya bervariasi. Tapi biasanya masyarakat hanya kenal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari fisik, seperti luka. Padahal, bukan hanya sebatas itu, masih ada jenis kekerasaan lainnya yang dialami oleh ibu-ibu rumah tangga. Begitu juga pada anak yang ditelantarkan,” katanya.

Regina mencontohkan, seorang istri dipaksa suaminya untuk harus bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ini juga salah satu bentuk kekerasaan terhadap perempuan. Sepanjang belum/ tidak ada kesepakatan bersama kedua belah pihak, maka ini masuk unsur kekerasan.

“Itu artinya perempuan tereksploitasi. Kecuali, ada kesediaan dan kerelaan dari istri untuk membantu suami menopang ekonomi keluarga menjadi seorang TKW. Ini juga yang harus diperhatikan, karena selama ini bisa saja terjadi (kasus) tetapi masyarakat belum terlalu paham tentang jenis-jenis kekerasan yang dialami oleh perempuan,” jelasnya.

Menurut Regina, jumlah kasus tersebut, dirangkum dari berbagai sumber. Selain dari kepolisian, juga diperoleh secara langsung dari korban yang melapor. Begitu juga dari pemberitaan media massa, yang kemudian dilakukan pendampingan terhadap korban agar menjaminkan akses serta diperlakukan secara adil sesuai keadaan atau kekerasan yang dialaminya.

“Ada pendampingan untuk korban kekerasan. Karena biasanya korban mendapat tekanan atau intimidasi dari pelaku atau keluarga pelaku sehingga korban merasa takut untuk melaporkan. Disitulah peran kami untuk mendampingi korban,” ungkap Regina.

Pendampingan itu, kata Regina, dilakukan untuk memastikan betul-betul kasus tersebut ada, bukan untuk menginterogasi. Pihaknya melakukan pendekatan-pendekatan agar korban merasa nyaman untuk menceritakan kondisi yang dialami, sekaligus bisa melakukan intervensi penangangan. “Misalnya, untuk korban kekerasan fisik yang membutuhkan penanganan medis, langsung diberikan pelayanan melalui unsur kesehatan yang tergabung dalam pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak (P2TP2A),” tuturnya.

Sebelumnya, Wakapolres Rote Ndao, Kompol I Nyoman Surya Wiryawan, juga mengakui adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah yang disebutkan (peningkatan) dengan berpatokan pada tahun sebelumnya, dengan penambahan 7 kasus.

“Tahun 2020 itu sebanyak 20 kasus, 2021 (27 kasus). Kasusnya meningkat tahun ini. Lebih banyak ke perbuatan susila, asusila. Kalau KDRT bukan saja fisik, ada psikis, seksual juga ada. Tiga-tiganya ada, tapi paling banyak itu asusila,” kata Kompol I Nyoman Surya Wiryawan, kepada TIMEX, di Hotel New Ricky, Senin (6/12). (mg32)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top