Petani Milenial Bisa Lanjut Studi Berkat Program TJPS | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Petani Milenial Bisa Lanjut Studi Berkat Program TJPS


RAKOR BAKOHUMAS. Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Lecky Frederich Koli dan Johanna E. Lisapaly, Kepala Dinas Peternakan NTT ketika memaparkan materi pada acara Bakohumas VI di Hotel Sasando Kupang, Jumat (10/12). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Petani Milenial Bisa Lanjut Studi Berkat Program TJPS


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Petani asal Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang mengaku sangat terbantu dengan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang dicanangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Program unggulan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi ini telah memberikan dampak ekonomi juga pendidikan karena anak-anak mereka yang sebelumnya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, akhirnya terjawab.

Dominggus M. A. Bira, Kelompok Tani Fajar Pagi, usai mengikuti kegiatan Bakohumas di Hotel Sasando Kupang, kepada TIMEX, mengapresiasi program TJPS yang dicanangkan Pemprov NTT itu.

Warga RT 05/RW 03 Dusun II itu berharap pemerintah terus mengevaluasi dan mengembangkan program tersebut karena ada anggota kelompoknya yang masih milenial bisa terbantu melanjutkan pendidikannya.

Sebelumnya, petani milenial tersebut tidak ada harapan lagi untuk lanjukan studinya ke jenjang perguruan tinggi karena terkendala biaya. Namun adanya program tersebut ia telibat dan ternyata hasilnya sangat luar biasa.

Dikatakan, dari hasil tanam jagung itu, ia menjual lalu membeli sapi dan sisanya ia gunakan untuk biaya kuliahnya. “Saat ini dia sudah Semester 3 di Politani Kupang. Mereka ada tiga orang. Mereka pilih Politani karena bidang ilmu dan hobinya sangat pas, yakni pertanian,” jelas Minggus.

Dari hasil panen tersebut, Minggus mengajak dan memberikan motivasi kepada petani dan pemuda agar jangan mudah menyerah serta putus asa karena banyak kesempatan yang mesti dikembangkan untuk memenuhi akan kebutuhan.

“Ini daerah kita sendiri. Kita harus berusaha untuk keluar dari stigma kemiskinan yang ada. Yang bisa mengangkat harkat dan martabat kita adalah semangat dan kerja keras oleh diri sendiri,” katanya.

Minggus juga berharap program yang baik itu terus dievaluasi karena masih ada kelemahannya. Contoh pendampingan. Pemerintah mulai dari tingkat provinsi sampai ke desa harus dampingi petani mulai dari pengadaan bibit hingga membeli sapi. “Petani walau sudah dapat hasil jualannya tapi harus didampingi untuk beli sapi,” bebernya.

Sejak 2019, kelompoknya sudah terlibat dalam program TJPS yang beranggotakan 30 orang. Anggota tersebut 5 orang lainnya adalah petani milenial dan 3 orangnya sudah bisa melanjutkan studinya.

“Keuntungannya kami awalnya tidak ada sapi, sekarang kami sudah ada masing-masing 3 ekor sapi. Lalu pengembangan SDM juga sangat berdampak. Kami masing-masing memiliki 1 hektare lahan,” jelasnya.

Tahun ini, kata Minggus, proses pendistribusian bibit dan pupuk mengalami sedikit keterlambatan. Untuk mengatasi hama dan kendala lain juga selama ini bisa diatasi.

Prospek pasar saat ini juga sudah sangat jelas karena saat ini pemerintah sudah bekerjasama dengan pihak ketiga maka jagung itu langsung dibeli. “Kelompok saya ditargetkan akan mencapai 50 hektare karena kerja sudah mulai gampang dan langsung dibeli. Pemerintah juga kerja sama dengan pihak perbankan jadi bisa memberikan pinjaman modal bagi petani,” tandasnya.

Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli mengatakan, target produksi program TJPS hingga 2023 mendatang mencapai 2 juta ton.

Perjalanan penerapan program ini sejauh ini ada kelemahan-kelemahan yang harus dikoreksi. Yang paling fundamental dari pengembangan selama 4 kali panen adalah pemanfaatan benih tanaman. Benih tanaman yang digunakan adalah benih komposit dan hasil produksinya hanya mencapai 3 ton per hektare. “Dari skala usaha, ini tidak berjalan dengan baik,” kata Lecky.

Dari kondisi itu, kata Lecky, pihaknya telah melakukan evaluasi dan ada skenario baru yang diterapkan yakni kerja sama pembiayaan yang disebut TJPS Kemitraan. “Kita kerja sama dengan perusahan pembeli jagung ofteker, Perbankan untuk pembiayaan untuk dikerjasamakan dengan petani agar bisa memproduksi mencapai 7 ton per hektare,” katanya.

Lecky mengatakan, semua skema yang ini bisa berjalan dengan baik jika ada kerja sama dari semua pihak. Skema TJPS Kemitraan ini sudah mulai dikerjakan di Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Sikka. Sedangkan Belu, Nagekeo, dan Ngada sedang mempersiapkan diri.

“Tanggal 16 Desember kita akan melakukan pencanangan di Manggarai Timur dengan luas lahan 100-150 hektare pada musim tanam 1 ini. Semua benih sudah dikirim oleh ofteker. Kita akan buktikan sesuai penjualan ofteker jika tidak terbukti kita akan evaluasi lagi,” ungkapnya.

Alokasi anggaran selama program TJPS dicanangkan ini kurang lebih Rp 35 miliar, dimana hasil yang diperoleh kurang lebih 34 ribu ton (setara Rp 104 miliar), tetapi ini belum besar.

“Kalau kita investasinya Rp 35 miliar minimal yang kita dapat kurang lebih Rp 400 miliar karena multiplayernya harus 15 kali lipat. Kita terus evaluasi agar hasilkan inovasi baru. Kami juga menggandeng BPN agar lahan yang belum ada sertifikat bisa disertifikasi. Kerja sama juga dengan PLN agar bisa kerja pada malam hari,” ungkapnya.

“TNI juga terlibat untuk mengawal keberlangsungan TJPS di masyarakat. Perbankan juga dilibatkan agar memberikan asuransi kepada petani dan paling penting adalah ofteker. Ofteker yang akan memimpin program ini,” tambahnya.

Dengan sistem kerja seperti ini, Lecky yakin akan memberikan dampak kepada peningkatan pendapatan APBD dan mengurangi beban pembiayaan program TJPS.

“Ketersediaan pupuk juga akan menggunakan pupuk non subsidi karena pupuk bersubsidi akan berdampak kepada petani,” ungkapnya menyikap persoalan kelangkaan pupuk yang sering dialami petani.

Sementara Johanna E. Lisapaly, Kepala Dinas Peternakan NTT saat memaparkan materinya pada kegiatan Bakohumas mengatakan, TJPS merupakan kontribusi dalam indikator makro.

Dikatakan kolaborasi pertanian dan peternakan sangat penting agar memiliki daya unit demi mewujudkan target-target yang ingin dicapai. Panen jagung standar saja, bisa panen 1 ekor sapi, babi 5 ekor. Ini juga berkaitan dengan jumlah permintaan hewan ke luar NTT.

“Populasi binatang kita juga saat ini sangat sedikit. Sedangkan kalau banyak permintaan lama-lama bisa habis. Bisa ada moratorium pengiriman sapi dikemudian hari,” kata Johanna yang menyampaikan materi bertajuk “Menuju 63 Tahun NTT, TJPS Mendukung Ketahanan Pangan dan Mengembangkan Peternakan, Mewujudkan NTT Bangkit Sejahtera.”

Johanna menjelaskan, pengelolaan pangan dan pengelolaan limbah juga bisa membatu masyarakat. “Memang ada problem karena usaha kecil. Jika dirata-ratakan tujuh sapi per orang namun paking hanya satu. Dan ini hanya untuk makan sehari-hari sedangkan kebutuhan sekundernya tidak terpenuhi. Apalagi berkaitan dengan dukungan terhadap kesehatan dan kecerdasan,” katanya.

Johanna berharap ada peningkatan pengembangan peternakan yang ada karena dampak dari peternakan sangat membantu bahkan bisa membantu keluarkan NTT dari kemiskinan.

Pakan, diakui di NTT ternak hanya bisa mengomsumsi pakan yang melimpah pada musim hujan sedangkan pada musim panas berkurang. Maka kedepan ada kebijakan dan mendatangkan alat produksi pakan sehingga pakan yang disediakan tidak hanya cukup memberikan makan satu dua ekor saja tapi bisa disimpan dan makan sampai dua tahun. (mg29)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top