Gempa Bumi Guncang Ende, Bangunan Retak dan Plafon Roboh | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Gempa Bumi Guncang Ende, Bangunan Retak dan Plafon Roboh


SELAMATKAN DIRI. Warga Bitha Beach, Kelurahan Mautapaga, Kecamatan Ende Timur saat berlarian menyelamatkan diri pasca gempa berkekuatan magnitudo 7,4, Selasa (14/12). (FOTO: Alexius Raja Seko/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Gempa Bumi Guncang Ende, Bangunan Retak dan Plafon Roboh


Warga Berlarian Jauhi Pantai

ENDE, TIMEXKUPANG.com-Gempa cukup besar mengguncang Kota Ende dan sekitarnya, Selasa (14/12) siang. Guncangan yang cukup besar tersebut membuat warga masyarakat Kota Ende berhamburan keluar rumah.

Begitu juga diperkantoran, para pegawai negeri maupun swasta berlarian keluar untuk menyelamatkan diri.

Dibeberapa perkantoran terjadi retakan kecil namun tidak berbahaya. Selain itu juga beberapa plafon kantor roboh. Seperti yang terjadi di ruangan Garuda lantai 2 kantor Bupati Ende. Kurang lebih lima meter plafon di ruangan tersebut roboh.

Gempa dengan kekuatan magnitudo 7,5 sempat diikuti dengan peringatan dini adanya tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun beberapa saat berselang, BMKG mengumumkan berakhirnya peringatan dini tsunami.

Akibat peringatan dini ini, warga di pesisir pantai di wilayah Kecamatan Ende Selatan, Ende Utara maupun Ende Timur berlarian ke tempat yang lebih tinggi, yakni ke Onekore, dan Paupire di wilayah Kecamatan Ende Tengah.

Halimah, salah seorang warga Keluruhan Paupanda, Kecamatan Ende Selatan bersama saudaranya menggunakan sepeda motor berlari menuju Onekore. “Kami bonceng tiga orang lari ke Onekore karena ada yang teriak tsunami,” ungkap Halimah dengan raut penuh ketakutan.

Lain lagi dengan Abdul Karim, warga Bitha Beach, Kelurahan Mautapaga, Kecamatan Ende Timur. Dia mengaku menyelamatkan diri bersama keluarga menggunakan mobil pikap mengungsi ke Paupire, Kecamatan Ende Tengah.

“Saya bersama keluarga dengan pikap karena ada yang teriak ada tsunami,” ujar dia saat ditemui di Bitha Beach saat kembali setelah diberi tahu tidak ada tsunami.

Pantauan di beberapa ruas jalan ,warga berlarian menuju ke tempat ketinggian untuk menyelamatkan diri. Sempat terjadi insiden tabrakan di Jalan Gatot Subroto, perempatan Kelimutu Patung Kuda. Beruntung tidak ada korban jiwa.

Sementara itu, Camat Ende Timur, Gregorius Maria Ade turun langsung menenangkan warganya. Dia berharap agar warga jangan percaya akan hoax yang disebarkan bahwa akan terjadi tsunami.

Ditemui di Pantai Bitha, Gregorius mengatakan, banyak warganya harus mengungsi karena informasi tsunami tersebut.

“Pusat gempa di Flores Timur yang terletak di Pantai Utara. Kita sini pantai selatan. Jelas tidak mungkin ada tsunami,” kata Gregorius.

Meskipun demikian ia tetap berharap, warganya tetap waspada dengan terus memantau kondisi air laut. Dan jika memang terjadi penyusutan agar waspada.

Pantauan dibeberapa lokasi pantai seperti Bita Beach, banyak warga yang mengungsi karena isu tsunami. Namun ada juga warga yang tetap ke laut untuk memastikan apakah air laut surut.

Kondisi ini membuat sedikit kekacauan seputaran Bita Beach karena hilir mudik kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Nampak setelah beberapa menit setelah gempa, mobil kepolisian dan Satpol-PP keliling kota memberikan pengumuman untuk tidak mempercayai hoax akan terjadi tsunami namun tetap waspada.

Untuk diketahui, BMKG menyebutkan gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR terjadi di 112Km Barat Laut Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (14/12) sekira pukul 11:20:22 Wita. Gempa dengan kedalaman 12Km ini awalnya berpotensi tsunami sesuai peringatan dini BMKG. (Kr7)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top