Rote Ndao Deklarasikan Kabupaten Inklusif, Kelompok Disabilitas Sampaikan 4 Komitmen | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Rote Ndao Deklarasikan Kabupaten Inklusif, Kelompok Disabilitas Sampaikan 4 Komitmen


DEKLARASI. Ketua Komis A DPRD Kabupaten Rote Ndao, Feky M. Boelan membubuhkan tanda tangan di lembaran deklarasi Rote Ndao sebagai Kabupaten Inklusif, Rabu (15/12). (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Rote Ndao Deklarasikan Kabupaten Inklusif, Kelompok Disabilitas Sampaikan 4 Komitmen


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Kabupaten Rote Ndao mendeklarasikan diri sebagai kabupaten inklusif, untuk melanjutkan program Pembangunan Ekonomi Inklusif Berkelanjutan (PEIB). Kegiatan tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah kaum difabel, termasuk kaum perempuan (kelompok rentan) di auditorium Ti’i Langga, Rabu (15/12).

Pada momen itu, terdapat lima poin deklarasi sebagai komitmen untuk terus melaksanakan berbagai program setelah berakhirnya masa pelaksanaan PEIB di Rote Ndao. Program PEIB dilaksanakan oleh Humanity & Inclusion (HI) dan CIS Timor Kupang, sejak 18 September 2018 lalu, dengan tiga desa sasaran, yakni Desa Oebatu, Meoain, dan Lalukoen. Semuanya di Kecamatan Rote Barat Daya.

Berikut lima poin deklarasi sebagai kabupaten inklusif. Pertama, berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan program inklusif. Kedua, siap mengemban amanat sebagai kabupaten inklusif dengan memberikan layanan terbaiknya terhadap masyarakat berkebutuhan khusus dalam semua proses layanan publik dengan menerapkan prinsip-prinsip dan tanpa diskriminasi.

Ketiga, mendukung tersedianya sarana yang dapat diakses masyarakat berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas, demi kemajuan bangsa dan negara.

Keempat, memberikan jaminan atas regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Bupati (Perbup) atau lainnya, termasuk penganggaran untuk masyarakat berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas, baik bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun dukungan dari Dana Desa (DD).

Kelima, ikut menjunjung, melindungi, dan memenuhi hak-hak masyarakat berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas di Kabupaten Rote Ndao.

“Besok-besok kalau dilanjutkan, mohon untuk dilaksanakan di wilayah bagian timur dan tengah. Karena jujur saja, di wilayah-wilayah itu juga masih ada dan sangat memerlukan dukungan kita semua. Baik pemerintah, CIS Timor,” kata Feky M. Boelan, Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Rote Ndao, dalam sambutan mewakili lembaganya saat deklarasi kabupaten inklusif itu.

Menurutnya, dengan pendampingan yang dilakukan CIS Timor di tiga desa sasaran, telah memberikan dampak yang sangat besar, dimana telah mengangkat harkat dan martabat kaum marjinal.

“Tadi saya terharu mendengar cerita tentang mereka (Penyandang difabel, Red). Walau dengan kondisi yang terbatas, tetapi dari mereka, ada yang berhasil buat meja, mejahit, bahkan bercocok tanam. Ini perlu diperhatikan bersama dalam pengambilan keputusan dengan terus mendukung saudara-saudara kita,” kata Feky.

Feky juga memotivasi dan menyampaikan harapanya agar kegiatan ini bisa mencakup seluruh wilayah di Rote Ndao. “Dorang (mereka) bukan orang terendah karena kita semua sama diciptakan Tuhan. Kami berharap, bagaimana caranya untuk pemerintah terus laksanakan, agar bisa mencakup wilayah lain di Kabupaten Rote Ndao,” harap Feky.

Menyikapi harapan legislator itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao menyatakan kesanggupan untuk mendukung dan melaksanakan secara berkelanjutan. Dimana melalui program pemberdayaan, kaum difabel terus diberdayakan sesuai bidang masing-masing.

“Setelah berakhirnya program ini, tidak langsung berhenti. Sudah pasti pemerintah akan meneruskan melalui pelaksanaan program-program pembangunan daerah untuk memberdayakan masyarakat,” kata Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan, Setda Rote Ndao, Untung Harijito, dalam sambutannya mewakili Bupati Rote Ndao.

Mewakili kelompok inklusi disabilitas, Aloysius Owon menyatakan komitmen kaumnya, dengan menybut empat poin penting yang siap mereka laksanakan.

Aloysius mengatakan, kelompok rentan, yang terdiri dari disabilitas, perempuan rentan, pemuda putus sekolah dan kepala keluarga (KK) miskin, berniat untuk saling menguatkan dalam mengakses layanan yang inklusif untuk bersama-sama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bersama di Kabupaten Rote Ndao.

Poin kedua, lanjut Aloysius, kelompoknya menyadari tentang keberadaan dan kebutuhanya, sehingga tidak bisa berbuat maksimal jika tidak didukung pemerintah. Termasuk penyedia layanan, sektor keuangan, bisnis, CSO masyarakat serta keluarga dekat.

Aloysius menegaskan, kelompoknya siap bergerak bersama dalam mengakses layanan. “Kami ada dalam ikatan kelompok inklusi disabilitas untuk maju bersama. Karena kita semua sama adanya dalam hak layanan,” kata sosok yang akrab disapa Nong saat menyampaikan poin ketiga komitmen mereka.

Keempat, demikian Nong, kelompoknya akan enabale dan tidak disabilitas lagi jika adanya pengakuan terhadap keberagaman yang ada pada kelompoknya. Terkait hambatan mereka, Nong meminta untuk dihapuskan dan digantikan dengan perhatian berupa perlakuan khusus dan keterlibatanya dalam pengambilan keputusan.

“Akhirnya, kami mengucapkan limpah terima kasih untuk semua pihak yang sudah mulai merintis forum inklusi disabilitas ini,” ungkapnya. (m32)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top