Menjadi Pahlawan Ekonomi untuk Memutus Kemiskinan dan Keterpurukan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Menjadi Pahlawan Ekonomi untuk Memutus Kemiskinan dan Keterpurukan


DIRUT KI BOLOK. Dirut KI Bolok, Gabriel Kenen Budi saat menyampaikan pandangannya dalam FGD di Lantai V Gedung Graha Pena Kupang, Kamis (16/12).(INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

EKONOMI

Menjadi Pahlawan Ekonomi untuk Memutus Kemiskinan dan Keterpurukan


FGD Industri Pengolahan, Cara Jitu Pangkas Kemiskinan di NTT (5-Habis)

KUPANG, TIMEXKUPANG.com – Berbicara terkait upaya memutus mata rantai kemiskinan di Provinsi NTT tidak terlepas dari kerja sama dan kolaborasi antarinstansi. Kini NTT menempati posisi ketiga termiskin dan membutuhkan keterlibatan dari semua stakeholders.

INTHO HERISON TIHU, Kupang

Pengusaha di NTT yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT mengajak seluruh masyarakat agar menjadi pahlawan ekonomi.

Hal ini mesti dilakukan agar dapat mengelola semua potensi dan kekayaan alam yang sangat kaya di NTT dengan memanfaatkan perkembangan digitalisasi saat ini.

Wakil Ketua Umum Kadin NTT, Bobby Lianto (kini Ketua Umum Kadin terpilih) ketika menghadiri FGD yang diselenggarakan oleh TimEx Forum dengan topik industri pengolahan, cara jitu pangkas kemiskinan di NTT mengungkapkan, sebagai pelaku usaha sangat mendukung program pemerintah.

Menurutnya, dari gagasan-gagasan yang disampaikan Gubernur NTT, sebagai pelaku usaha dirinya mencoba menerjemahkan lalu mengembangkan komoditi yang ada di NTT menjadi produk dengan nilai tawar yang mahal.

Peluang ini dilakukan dan mencoba membangun serta membuka akses pasaran ke luar negeri. Upaya ini meski dimulai dari yang kecil, produksi yang terbatas tetapi peluangnya sangat luar biasa.

“Kita bersama pak gubernur mencoba mempromosikan tiga jenis produk di Paris dan sangat berpeluang. Pengembangannya hingga saat ini sudah mencapai 30 produk yang dipasarkan ke sejumlah negara. Hasil produksinya juga dinaikan menjadi 4 kali lipat,” ungkapnya.

Hasil produksinya pun mulai dikembangkan pemasarannya secara digital dan go ekspor ke Eropa dan Australia. “Importir kami melalui web-nya dan ternyata duta besar australia beli dan ia baru ketahui coklat asal kuoang jadi di ke kupang untuk melihat langsung prduksinya. Ini adalah kembangkan bagi kami untuk terus berkembang,” ujarnya.

Dikatakan, Moringa dan Gaura Coklat akan go internasional. Produk ini mesti menjadi brand tersendiri. Artinya, pelaku usaha di NTT memiliki kesempatan dan kemampuan untuk kembangkan usahanya lebih besar lagi.

“Kita siapkan 10 brand baru untuk go internasional dan saya tidak pelit ilmu kepada pelaku usaha lainnya mari kita belajar bersama untuk kelola kekayaan alam kita. Saya mau bangkitkan industri melalui transformasi kebangkitan ekonomi,” ajaknya.

Lanjutnya, misi untuk melahirkan entrepreneurship dengan didukung oleh Bank NTT karena pengusaha baru harus mendapat dukungan ekosistem pembiayaan dan pemasaran. Sedangkan Kadin NTT menjadi mentor bagi pelaku usaha muda serta menaikan level pelaku usaha lama di NTT.

“Saya sadar bahwa ke depan, bonus demografi yang dialami menjadi bonus tapi sebaliknya bisa menjadi masalah karena angkatan kerja kita semakin banyak dengan skill yang kurang serta minimnya lapangan kerja. Maka melahirkan pengusaha itu menjadi panggilan,” ungkapnya.

“Kalau dulu kita ingin jadi pahlawan harus dengan bambu runcing dan senjata untuk melawan penjajah tapi saat ini yang menjadi musuh adalah kemiskinan dan keterpurukan serta keterbelakangan. Untuk itu harus menjadi pahlawan ekonomi,” lanjut pengusaha muda sukses ini.

Dikatakannya, ketika menjadi pahlawan ekonomi, harus menciptakan lapangan kerja. Saat ini yang diterapkan di Kadin NTT adalah seorang pahlawan ekonomi harus melahirkan pahlawan-pahlawan ekonomi baru.

“Harus menjadi pahlawannya pahlawan. Sehingga saat ini kita mulai mengekspor komoditi dan produk yang dimiliki di semua daerah. Mari kita menggunakan kesempatan yang ada karena pasarnya saat ini sangat bebas. Selama ini provinsi yang diuntungkan oleh NTT adalah Jawa Timur karena semua produk kita masuk ke sana lalu dikelola dan dikembalikan. Kita harus rubah untuk ekspor ke luar negeri. Ini adalah tugas Kadin NTT agar dapat membangkitkan ekonomi di NTT,” tuturnya.

Sementara Direktur Utama Kawasan Industri Bolok (KIB) NTT, Gabriel Willem Kennen Budi mengatakan KIB merupakan BUMD termuda di NTT. Dirinya melihat bahwa kemiskinan di NTT sangatlah kompleks.

Ia percaya bahwa industri pengolahan menjadi salah satu menuju pemberantasan kemiskinan. Dikatakan masyarakat NTT miskin karena pola pikirnya miskin dan ini budaya.

“Ia bisa bekerja sebagai karyawan tokoh bertahun-tahun dan sampai mati pun bekerja sebagai karyawan. Kerja untuk memenuhi kebutuhan makan saja sudah cukup. Ini cara berpikir miskin,” ungkapnya.

Dikatakan, banyak faktor sebenarnya yang membuat masyarakat miskin akibat budaya dan agama. Pendidikan agama yang kaku juga penyumbang kemiskinan maka kita harus bekerja sama. Atau standar penilaian kita yang salah. “Semua orang bisa makan karena kalau tidak ada makan tetangga bisa kasi makan, nah ini budaya. Jadi bicara kemiskinan kita berbicara terkait sektor yang luas,” sebutnya.

Ia juga sangat setuju bahwa industri pengelolaan dapat mengatasi masalah kemiskinan. Misalnya industri garam tetapi produksinya di NTT adalah garam dapur sedangkan komsumsi garam sangat kurang. Hal ini menjadi tugas pemerintah agar melihat pekuang yang ada.

“Orang semakin kaya, semakin menurun pula tingkat komsumsi garam. Di sini fungsi pemerintah agar meningkatkan produksi garam dapur menjadi garam industri karena kadarnya berbeda. Pemerintah mesti menyediakan industri lain yang mendukung industri garam agar ada koneksi,” sebutnya.

Pemerintah jangan bekerja secara sektoral namun mencari solusi untuk memenuhi permintaan investor jika tidak maka investor terus lari ke provinsi lain karena di sana sudah ada materilnya banyak, dukungan pemerintah jelas.

“Saya pernah membangun SPBU di Kabupaten Kupang dan saudara saya bangun SPBU yang sama di Kota Kupang lalu kepengurusan IMB di Kota Kupang hanya membayar Rp 4.300.000 sedangkan saya bayar IMB di Kabupaten Kupang sebesar Rp 120.000.000. Tidak ada hukum bisnis yang menjelaskan ini dan ini sangat gila. Kondisi ini akan membuat investor tidak akan berinvestasi di sini. Dukungan pemerintah sangat kurang, apalagi kawasan industri bolok masuk wilayah Kabupaten Kupang apa yang terjadi,” bebernya.

Salah satu kekurangan lagi adalah data soal kekayaan alam yang dimiliki oleh pemerintah karena investor saat menanyakan data harus disiapkan dan harus falit. Pebisnis ulung itu sangat teliti. “Banyak sekali potensi dan kesempatan namun industri pengelolaan tidak hanya dilihat dari sesi pebisnisnya, namun juga dari sisi dukungan pemerintah betul-betul mendukung,” sebutnya.

Ia juga berharap kepada Kadin NTT agar terus melakukan pengembangan karena yang dilakukan Kadin saat ini masih seputar kamar dagang sedangkan industrinya belum tersentuh. Mulailah dari home industri untuk gerakan semua sektor.

Ia menyebut kurangnya kerja sama dan dukungan dari pemerintah karena pengeluaran izin cepat tapi lanjutannya sangat sulit. Maka hulu hingga hilir bisa bersama-sama jika ingin banyak investor.

“Harus ada dukungan dari regulator agar oprator bisa bergerak leluasa. Kami bisa memanggil tapi pemerintah persulit maka sulit kita maju. Komunikasi dan koordinasi antara ODP harus berjalan agar memperlancar semua proses,” tandasnya. (*/ito)

Baca Selengkapnya
Rekomendasi untuk anda ...
Komentar

Berita lainnya EKONOMI

Populer

To Top