Pemkab Matim Eksekusi Program TJPS, Wabup dan Dirut Bank NTT Tanam Jagung di Desa Ruan Selatan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemkab Matim Eksekusi Program TJPS, Wabup dan Dirut Bank NTT Tanam Jagung di Desa Ruan Selatan


TANAM JAGUNG. Dirut Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, Wabup Matim, Stefanus Jaghur, Kadis Pertanian NTT, Lucky F. Koli, unsur Forkopimda Matim, Direktur Pemasaran Kredit Bank NTT, Steven Mesakh, dan Kepala Bank NTT Cabang Borong Nurchalis melakukan penanaman secara simbolis jagung program TJPS di Desa Ruan Selatan, Kecamatan Kota Komba, Rabu (22/12). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

EKONOMI

Pemkab Matim Eksekusi Program TJPS, Wabup dan Dirut Bank NTT Tanam Jagung di Desa Ruan Selatan


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) telah dilaksanakan dengan penanaman jagung secara simbolis oleh Direksi Bank NTT bersama pemerintah di Desa Ruan Selatan, Kecamatan Kota Komba, Rabu (22/12).

Penanaman jagung di atas lahan seluas 7 hektoare (Ha) itu, dilakukan Wakil Bupati (Wabup) Matim, Stefanus Jaghur, Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Lucky F. Koli, Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, Direktur Pemasaran Kredit Bank NTT, Steven Mesakh, dan Kepala Bank NTT Cabang Borong, Nurchalis Tahir.

Hadir juga Kepala Devisi Kredit Mikro, Kecil, dan Konsumer, Jhoni Tadoe, Mitra Offtaker, Hendrik, Kepala Dinas Pertanian Matim, Jhon Sentis, unsur Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, sejumlah camat, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pendamping lapangan, dan masyarakat setempat.

Rombongan Wabup Jaghur dan Direksi Bank NTT, diterima secara adat di pintu masuk Desa Ruan Selatan, dan di rumah adat kampung Sola desa setempat. Selain acara penanaman jagung, juga dilakukan penyerahan kredit ekosistem pertanian dari Bank NTT kepada kelompok tani di desa itu.

“Bicara jagung bagi masyarakat Ruan Selatan ini, bukan hal baru. Tapi sudah diwariskan dari nenek moyang. Kita bicara tentang jagung dan kita tanam jagung. Cuma persoalanya, selama ini kita tanam sesuai dengan kekuatan atau kemampuan,” kata Wabup Stef Jaghur dalam sambutannya di acara penanaman simbolis jagung di Desa Ruan Selatan.

Menurutnya, paling kuat yang dilihat selama ini untuk wilayah Kota Komba dan Kota Komba Utara, cuma seperdua hektare saja kebun yang paling luas. Hasilnya juga pas untuk kebutuhan makan saja. Selain itu, selama ini, buat kebun sesuai dengan tradisi. Tanamnya juga tradisi. Juga hasilnya, pas untuk makan dan tidak bisa untuk dipasarkan.

Tapi hari ini, lanjut Wabup Stef Jaghur, melalui program TJPS, tentu akan lain ceritanya. Di sini yang hadir ada pihak Direksi Bank NTT, ada Kadis Pertanian NTT, ada Offteker atau pihak yang siap beli jagung. Sehingga kerja dengan pola dalam program TJPS, sudah tersedia semua. Ada benih unggul, pupuk dan obat-obatan, alat tanam, cara olahnya, dan ada offtekernya.

“Jadi kita mau kerja berapa ha saja luas lahan. Apalagi disini Bank NTT bantu untuk pembiayaan melalui kredit tanpa bunga. Harga dasar jagung sudah dipatok Rp 3.200 per Kg. Tapi tadi Off Teker sampaikan, dia mau beli dengan harga Rp 4000. Ini sudah sangat luar biasa. Jadi program ini pasti terjawab, bisa beli sapi dan ekonomi petani meningkat,” jelas Wabup Stef Jaghur.

Wabup Stef Jaghur menambahkan, untuk musim tanam saat ini dengan periode Oktober 2021-Maret 2022, tanam jagung seluas 500 hektare. Dibagi dua lagi, tahap satu yang saat sekarang dilakukan penanaman perdana sejumlah 100 hektare. Sisanya 400 hektare, target tanamnya dari Januari-Maret 2022. Masuk tanam kedua, periode April-September 2022, itu targetnya 5.000 hektare.

Direktur Pemasaran Kredit Bank NTT, Steven Mesakh mengatakan, Bank NTT merupakan salah satu unsur yang ada dalam program TJPS. Sebagai bank milik masyarakat NTT, Bank NTT berkomitmen ikut mengambil bagian di dalam sistem pembiayaan ekosistem pertanian ini. Tujuanya, meningkatkan produktivitas pertanian dan ekonomi petani.

Sehingga, lanjut Steven, para petani yang mau menanam dan tidak memilikki modal, bisa terbantu. Pasalnya, selama ini, ada tiga persoalan yang dihadapi petani, yakni soal bibit, sarana produksi, dan alat pertanian. Skema pembiayaanya, ada KUR dan Non KUR. Bank NTT terlibat dalam pembiayaan ini, yakni pemberian kredit dengan sistem non KUR.

Menurut Steven, pembiayaan ini mengunakan Kredit Merdeka yang tanpa agunan dan tanpa bunga. Tapi bukan berarti tidak dikembalikan. Wajib dikembalikan. Pengembaliannya, saat musim panen. Karena jagung yang dipanen sudah disediakan pasarnya. Dia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan dari Pemerintah Kabupaten Matim atas pelaksanaan program TJPS ini.

“Saya melihat antusiasme dari pemerintah dan masyarakat di tempat ini, yakin dan percaya bahwa program ini akan sukses luar biasa. Perencanaan tanpa eksekusi itu adalah mimpi. Tapi eksekusi tanpa perencanaan itu kecelakaan. Jadi kita sudah mulai perencanaan dan eksekusi,” ujar Steven.

Sementara Off Teker, Hendrik, mengatakan pihaknya hadir dalam program TJPS bukan sekadar berbisnis. Tapi ditugaskan untuk bangun ekosistem pertanian tersebut di Provinsi NTT. Hendrik bersyukur karena di kabupaten sudah mulai melaksanakan program ini. Pihaknya tentu menyiapkan benih yang terbaik. Juga pupuk dan obat-obatan yang bagus.

“Dalam ekositem pertanian ini, dalam satu hektare itu menghasilkan produktifitas jagunnya sebanyak 7 ton. Saya optimis 7 ton ini bisa terwujud, jika kita merawat tanaman jagungnya dengan baik. Karena kita siapkan benih unggul. Pupuk dan obat juga paling bagus,” kata Hendrik.

Sehingga Hendrik mengaku sangat membutuhkan dukungan petani untuk sukseskan program yang ada. Kepada petani, Hendrik minta untuk tidak ragu lagi dengan pemasaran. Karena pihaknya siap untuk membeli dengan berapa saja jumlah hasil panen jagung. Harga sesuai kesepakatan sebesar Rp 3200 per kg. Bahkan dirinya, siap untuk membeli dengan harga Rp 4000 per kg. (*)

Penulis: Fansi Runggat

Komentar

Berita lainnya EKONOMI

Populer

To Top