Irjen Johni Asadoma Pimpin Tim Operasi Misi Kemanusiaan dan Repatriasi PMI Ilegal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Irjen Johni Asadoma Pimpin Tim Operasi Misi Kemanusiaan dan Repatriasi PMI Ilegal


TERUS BERTAMBAH. Jenazah-jenazah korban perahu terbalik di perairan Johor Bahru, Malaysia, yang ditemukan kemarin. (FOTO: KJRI JOHOR BAHRU)

PERISTIWA/CRIME

Irjen Johni Asadoma Pimpin Tim Operasi Misi Kemanusiaan dan Repatriasi PMI Ilegal


Usut Anggota TNI Bekingi PMI Ilegal, Kepala BP2MI Lapor Panglima TNI

JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Belum selesai urusan tabrak lari berujung pembunuhan, prajurit TNI kembali terseret-seret kasus hukum. Kali ini dalam kasus dugaan penyelundupan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal ke Malaysia. Praktik curang itu berujung pada hilangnya nyawa beberapa PMI. Sebab, kapal yang mereka tumpangi karam dihantam ombak di perairan Johor Bahru, Malaysia, pada 15 Desember 2021 lalu.

Dugaan keterlibatan anggota TNI dalam penyelundupan PMI tersebut kali pertama diungkap Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Lewat keterangan yang mereka sampaikan, ada dugaan keterlibatan personel dari dua matra TNI. Yakni, TNI-AU dan TNI-AL. Peran mereka, membantu memuluskan jalan para PMI untuk menyeberang ke Malaysia melalui jalur tidak resmi.

Mabes TNI-AU (Mabesau) dan Mabes TNI-AL (Mabesal) berjanji melakukan pengusutan. Kepala Dinas Penerangan TNI-AU (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI Indan Gilang Buldansyah, menyatakan bahwa instansinya sangat serius mendalami informasi tersebut. ”Kami akan berkoordinasi dengan semua stakeholder,” ungkap dia Rabu (29/12).

Indan menyebutkan, langkah itu dilaksanakan sesuai arahan dan instruksi dari pimpinan TNI. ”Untuk menggali dan mengembangkan informasi lebih lanjut agar masalahnya lebih jelas,” terangnya.

TNI-AL juga mengambil langkah cepat untuk merespons informasi dari BP2MI. Kepala Dinas Penerangan TNI-AL (Kadispenal) Laksamana Pertama Julius Widjojono menyampaikan, sanksi akan diberikan kepada siapa pun yang terlibat dalam praktik ilegal tersebut. ”Saat ini kami masih berkoordinasi dan melakukan penyelidikan terkait tuduhan tersebut,” ujar dia, Rabu (29/12).

Julius menyatakan, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono sudah menyampaikan, setiap prajurit yang melanggar aturan pasti disanksi. Itu, lanjut dia, sudah menjadi prinsip.

Polri Dalami Keterlibatan Personil TNI

Terpisah, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono menuturkan bahwa penyidik masih mendalami dugaan keterlibatan oknum TNI-AU dalam pengiriman PMI ilegal. ’’Keterlibatan rekan instansi lain didalami, tapi Polri fokus penanganan di luar instansi tersebut,’’ terangnya kemarin di kompleks Mabes Polri.

Kasus pengiriman PMI ilegal yang berujung kapal tenggelam sedang ditangani Polda Kepulauan Riau. Saat ini telah ditangkap dua tersangka dengan peran sebagai perekrut dan pengirim PMI ilegal. ’’Kemungkinan besar tersangka akan bertambah,’’ ujarnya.

Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Ahmad Ramadan menjelaskan, dua tersangka tersebut berinisial ABF dan JN. Dari keterangan keduanya, masih dilakukan pengembangan untuk mengetahui mastermind pengiriman PMI ilegal. ’’Dikejar semua, dari perekrut, penampung, hingga pengirim,’’ tegasnya.

Petugas juga bekerja sama dengan Polisi Diraja Malaysia untuk meminta keterangan 13 WNI korban kapal tenggelam.

Sebagaimana diberitakan, terjadi kecelakaan kapal tenggelam di wilayah perairan Malaysia. Kapal tersebut ternyata membawa 50 PMI ilegal. Dari 50 orang tersebut, sebanyak 21 korban ditemukan meninggal dunia. Lalu, 14 orang selamat dan sisanya belum ditemukan. Dari 21 korban meninggal dunia, 11 orang telah dikembalikan ke keluarga masing-masing di Nusa Tenggara Barat, Cilacap, Riau, dan Jawa Timur.

Sebelumnya, dugaan keterlibatan oknum TNI itu diungkap oleh Kepala BP2MI Benny Rhamdani. Dugaan tersebut berasal dari hasil investigasi tim yang berangkat ke Kepri sejak beberapa waktu lalu. Berdasar hasil penelusuran, ditemukan fakta bahwa kapal boat yang dipakai dalam peristiwa nahas itu kerap digunakan untuk kegiatan serupa. Bukan hanya untuk mengantarkan PMI ilegal menuju Malaysia, tapi juga sebaliknya. Menjemput mereka dari Malaysia untuk kemudian masuk ke Indonesia tanpa harus melewati bagian imigrasi.

BACA JUGA: Terbujuk Janji Mafia, Penyebab PMI Berangkat Ilegal

Menurut Benny, ada kesesuaian kapal yang digunakan pelaku dengan kapal yang berada di Pelabuhan Gentong, Jalan Pasar Baru, Sungai Gentong, Bintan Utara. Hal itu didukung dengan informasi kapal yang diperoleh tim investigasi. Kapal tersebut milik Susanto alias Acing.

Pengiriman PMI ilegal itu juga dilakukan secara terorganisasi. Mulai dari daerah asal, penyambutan di Batam, pemberangkatan melalui jalur laut, hingga penyaluran ke agen tenaga kerja di Malaysia. Anehnya, meski berulang, si pemilik kapal tak pernah tersentuh oleh aparat hukum. ’’Kenapa tidak tersentuh hukum? Karena diduga kuat mendapat perlindungan dari oknum aparat yang ada di daerah,’’ ucapnya.

Benny berencana melaporkan hasil investigasi itu ke pimpinan masing-masing instansi. Dia juga akan menemui Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa untuk membahas masalah tersebut. ’’Kami tentu gunakan kata dugaan, karena kami akan serahkan masalah ini kepada pimpinan dari instansi masing-masing. Saya akan coba bertemu panglima TNI,’’ katanya.

Terkait penangkapan dua tersangka operator lapangan jaringan Acing, Benny menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Sebab, Mabes Polri telah menjalankan tugas dan kewenangannya dengan sebenar-benarnya.

“Inilah yang sesungguhnya ditunggu-tunggu publik sejak lama, termasuk BP2MI. Ini kejahatan perdagangan orang, penyelundupan manusia, penempatan secara ilegal yang sudah berlangsung lama,” ujar Benny.

Dia juga mengungkapkan, penangkapan dua tersangka di Batam itu terkait dengan informasi dari media dan atase kepolisian RI di Johor Bahru, Malaysia, Rabu (15/12). Tim dari Ditreskrimum Polda Kepri dan Polres Bintan bergerak menangkap para pelaku. Lalu, pada Jumat (24/12) mereka berhasil menangkap Juna Iskandar alias Juna bin Zimar, 39, di Kavling Harapan Jaya, Blok D No 1, Bengkong Sadai, Batam. Kemudian menangkap Agus Salim alias Agus Botak, 43, di Perumahan Cendana, Batam Centre.

’’Juna memberangkatkan lima orang dengan barang bukti lima lembar tiket pesawat atas nama lima PMI, buku rekening, dan motor yang dipakai menjemput PMI. Sedangkan Agus memberangkatkan enam PMI,’’ ungkap Benny seperti dilansir Batam Pos (JawaPos Grup).

Benny juga berharap kasus ini menjadi pintu masuk untuk membongkar penyelundupan PMI hingga ke akar-akarnya. BP2MI juga memberikan rekomendasi untuk pencegahan secara ilegal oleh sindikat mafia penyelundup TKI, yakni pentingnya kerja bareng semua pihak, terutama aparat hukum.

Bahkan, Benny mendorong penegak hukum menggunakan UU pencucian uang untuk memiskinkan para pelaku dan jaringannya. “Kami berharap semua harta hasil kejahatan kemanusiaan para pelaku ini disita negara,” ujarnya.

Irjen Ahmad Kartiko, ketua tim investigasi yang dibentuk BP2MI, menambahkan, biaya yang dikenakan kepada para PMI oleh sindikat itu bervariasi. Berkisar Rp 10 juta‒ Rp 15 juta. ’’Termasuk biaya transportasi pesawat dari daerah asal ke Batam sampai ke agen-agen pekerja di Malaysia,’’ ujar Kartiko.

Dia juga mengungkapkan, permintaan PMI ilegal di Malaysia terbilang marak karena di negeri jiran itu banyak sektor perkebunan dan konstruksi yang membutuhkan Tenaga Kerja Indonesia. ’’Praktik ini sudah berlangsung lama,’’ kata Kartiko.

Operasi Misi Kemanusiaan

Rabu (29/12) Tim Mabes Polri turun ke Pelabuhan Sei Gentong, Tanjunguban, Bintan, guna mengecek pelabuhan dan kapal yang biasa dipakai untuk mengirim dan menjemput PMI ilegal. ’’Ini kapal yang digunakan untuk menampung TKI ilegal sebelum diberangkatkan ke Malaysia, kita akan cek di dalamnya,’’ kata Kepala Operasi Misi Kemanusiaan dan Repatriasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ilegal Irjen Pol Johni Asadoma yang turun bersama Kasatgas Misi Kemanusiaan dan Repatriasi PMI Ilegal Brigjen Pol Krishna Murti. Jenderal bintang dua tersebut langsung naik ke kapal berukuran besar itu dengan diikuti Kapolres Bintan AKBP Tidar Wulung Dahono.

Johni mengatakan, total ada enam boat yang diamankan pihak kepolisian dalam pengungkapan kasus terbaliknya kapal yang mengangkut TKI ilegal di perairan Johor Bahru, Malaysia, 15 Desember 2021. ’’Sekarang yang ada di sini ada enam boat berbagai ukuran. Ada yang sangat besar seperti yang dibawa kemarin dan menyebabkan kecelakaan laut. Ada yang kecil dan lebih kecil lagi,’’ jelas Johni. (idr/syn/mia/ska/met/gie/c18/c7/oni/JPG)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top